
Pak Wira keluar dari pabrik pengolahan daun teh itu dan berjalan kearah ruangan kantor selama ini yang digunakan oleh staf kantor dipakrik itu.
Pino dengan tergesa-gesa masuk kedalam ruangannya kerena sudah terlambat datang setelah urusanya selesai.
"Maafkan saya Pak baru sampai.Ucap Pino pada Pak Amat yang terseyum melihat Pino agak ngos-ngosan.
"Tidak Masalah Nak,Pak Wira juga baru sampai."jelas pak Amat pada Pino.
"Maafkan Saya pak Wira karena saya sangat sibuk seminggu ini karena harus mempersiapkan pernikahan."Ucap Pino sopan pada pemilik pabrik itu.
"Mari kita masuk pak, kita bisa lihat bagai mana kantor ini,dari pertama pabrik ini didirikan sampai sekarang tidak ada yang berubah sama sekali."ucap Pak Amat pada Bosnya itu.
"Mungkin sudah waktunya kita untuk merenovasinya Pak Amat,mungkin saja Pino dan staf yang lain sudah tidak nyaman lagi bekerja diruang ini."ucap Pak Wira sambil mperhatikan seluruh ruangan dan karyawan yang masih sibuk bekerja.
"Mari Pak kita keruang sebelah ada beberapa karyawan sebelah mereka juga staf saya."ucap Pino sbil membawa ruangan sebelah diamana Afifah dan calon istri nya berkerja.
"Silakan Pak-Buk.Ucap Pino sopan pada pemilik pabrik itu.
Pak Wira masuk kedalam ruangan itu bersama istrinya,Mama Alin sangat kaget ketika melihat menatunya saat itu lagi pokus kelayar komputer didepannya sehingga Afiyah tidak tahu bahwa pemilik Pabrik datang untuk berkunjung Kepakrik itu cukup lama pemilik pabrik itu tidak pernah datang.
"Afiyah,,pangil Mama Alin disaat menantunya juga menatapnya.
"Mama-Papa."ucap Afiyah lansung berdiri ketika namanya dipangil.
"Nak."
"Mama.
Afiyah lansung mmemeluk mertuanya itu dengan rasa haru dan kagen setahun ini dia tahan karena ingin lari dari semua ini.
"Nak kenapa kamu bekerja disini ?"Ucap Mama Alin sangat sedih melihat menantunya itu.
"Karena inilah untuk menyabung hidup Fiyah Ma,Mama tidak usah merasa kawatir terhadapku."ucap Afiyah masih memeluk Mertuanya itu.
"Fiyah,,pangil Pak Wira.
__ADS_1
"Pa,apa kabarnya?"ucap Afiyah sambil meyalimi Papa mertuanya itu dan memeluknya sambil menangis.
"Papa sahat Nak, lihat diri kamu sekarang, kamu tampak kurus Nak."ucap Pak Wira memperhatikan menantunya itu sedikita rasa bersalah padanya.
"Maafkan saya pak,apa bapak mengenal Adikku?"ucap Pino sedikit penasaran dengan ketiga orang yang ada didepannya itu.
"Kak Pino mereka berdua adalah mertua Afiyah."ucap Afiyah pada kakak sepupunya itu.
"Ya Allah aku tidak tahu pak,jadi selama ini kamu bekerja dipakrik mertua dan milik dari suami kamu sendiri dek."ucap Pino tampak kaget.
"Apa,,jadi pakai ini milik Papa?"ucap Fiyah pada mertuanya itu.
"Iya Nak,, kerena Papa jarang kesini jadi bayak kariawan tidak tahu dengan pemilik pakrik ini."jelas Pak Wira.
"Nak, Papa sangat senang kita bertemu disini,dan juga bahagia kamu sudah melahirkan putra kamu Nak."Ucap Pak Wira sangat senang tidak sengaja dibetemu dengan menantunya itu sebelum Pak Wira dan istrinya itu akan ikut bersama regi untuk menghadiri pernikahan Kakak sepupunya Afiyah.
"Apa yang mau menikah nantik adalah kakak kamu Pino yang dimaksud oleh Tiara nak?" tanya Mama Alin pada Afiyah.
"Iya Ma,minggu ini kak Pino dan calon istrinya akan menikah,Mama ingin tahu calonnya itu dia orangnya."ucap Afiyah menujuk Liza yang berdiri disamping Pino.
"Jadi kalain satu tempat kerja selama ini?" ucap Mama Alin.
"Kalian berdua Beberapa hari lagi akan menikah kok Masih kerja, ini waktunya kalian cuti."ucap Mama Alin pada kedua orang itu.
"Tidak Apa buk jika kami dirumah juga tidak ada yang bisa kami lakukan."ucap Pino apa adanya.
"Dasar kamu ini,dimana-mana calon pengantin itu sudah dipigit seminggu mau nikah tidak boleh bertemu lagi dangan calon kamu,ini kamu masih saja bekerja."repet Mama Alin.
"Mama Jangan liahatkan sifat asli kamu didepan Mereka."ucap Pak Wira pada istrinya itu.
"Apa kata Papa,masak kamu pemilik pakrik ini tidak megasih cuti cepat untuk karyawan kamu sih." balas Mama Alin tidak mau kalah.
"Itu bukan salah Pak Wira buk, ini saya sendiri yang mau seperti ini."ucap Pino pada Mama Alin
"Untuk Kalian berdua mulai hari ini, kalian tidak usah masuk sampai siap dengan acara pernikahan kalian berdua,kalau kalian ingin mendengar istri saya itu merepet terus."ucap Pak Wira pada Pino dan calonnya itu.
__ADS_1
"Baiklah Pak,mulai hari ini kami akan cuti dan setelah ini kami Akan kembali pulang."jawab Pino dengan senang hati.
"Baguslah Nak Pino kamu megerti."ucap Pak Wira terseyum pada Pino.
"Mungkin dampai disini dulu pertemuan kita Pak Amat karena Saya ingin menghabiskan waktuku bersama Menatuku ini." ucap Pak Wira pada rekanya itu.
"Aku juga tidak menyaka Afiyah adalah Menantu Pak Wira yang menikah Dengan Alif."
"Baiklah Pak kita cukupkan sampai disini dulu, besok saya akan kembali lagi."terang Pak Wira.
"Baiklah kalau begitu aku pamit Dulu untuk megawas pekerja didalam dulu Pak.
"Ya,, silakan Pak dan terimakasih untuk hari ini pak."balas pak Wira.
"Tidak apa pak itu sudah tugas saya untuk melayani pak Wira selama berada didesa ini.Ucap Pak Amat meninggalkan mereka semua setelah habis berbicara dengan bosnya itu.
"Sekarang Papa mintak pada kamu Nak,apa kamu tidak mau melihatkan cucu kami yang sangat tampan itu pada kita berdua?"
"Apa Sebaiknya sore saja Pa, soalnya Afiyah masih kerja."
"Tidak Ada satupun dari kalian yang bekerja sampai kalian berdua siap menikah."ucap Pak Wira tegas.
"Ayok Pak kita kerumah kami saja hari ini biar bapak bisa ketemu sama cucu tampan itu."
Mereka betlima saat ini langsung menuju rumah nenek Afiyah dan Pino untuk mempertemukan Pak Wira dan Mama Alin dengan Sang cucu yang tidak disangkanya itu.
Didalam perjalana Afiyah dan Mama Alin duduk dibangku belakang sedangkan Pak Wira didepan bersama sang sopir,Pino dan Liza pakai motornya sudah duluan.
"Nak,kenapa kamu tidak megabari tahu masalah ini dengan Mama,kamu pergi tampa kabar sedikitpun."ucap Mama Alin
" Maafkan Fiyah Ma, saat itu aku lagi sakit hati dan rasa kecewa sama Mas Alif dan perempuan itu sudah megancamku jika aku bersama Suamiku."jelas Afiyah pada mertuanya itu.
"Kamu bisa beri kamabar kemama Nak,saat kamu hamil lian,kamu tangung sendiri penderitaan kamu tampa ada yang megurus kamu selama hamil cucu Mama."ucap Mama Alin sangat sedih.
"Tidak apa Ma kerena Afiyah sudah terbiasa sendiri dari kecil, tapi selama disini aku tidak merasa sendiri ada nenek dan kak Pino yang megurus ku dan sekali-sekali bibik datang dari kota untuk menjegukku."ucap Afiyah menyenangkan hati mertuanya itu.
__ADS_1
Mama Alin mendengarkan semua penjelasan Afiyah dia hanya bisa diam saja mendengar Afiyah becerita tentang kehidupan yang selama satu satunya lebih didesa ini,dengan rasa bersalah Mama Alin pada menatunya itu,membiarkan menatuntunya menderita sendirian tampa membawa apun dari rumahnya.
************