
Seminggu ini Afiyah tidak baik-baik saja keadaannya,pagi ini Afiyah tampak lamas setelah muntah, tubuhnya tubuh Afiyah tampak tidak sehat.
Pino dan Nenek Afiyah sangat kawatir dengan keadaannya saat ini,pagi ini Afiyah tidak berkerja karena hari bibur,dipakrik mereka dapat libur dihari sabtu dan minggu.
"Nak kamu seminggu ini tidak sehat nenek perhatikan setiap pagi kamu selalu muntah,apa kamu itu hamil nak?" tanya Nenek pada Afiyah yang sudah satu bulan lebih bersamanya.
"Apa nek hamil?"ucap Afiyah dia baru sadar sudah dua bulan ini tidak datang bulan.
"Coba kamu priksa pada bidan dekat sini suru temanin kakak kamu kesana,mungkin saja kamu sedang hamil saat ini."ucap nenek Afiyah lagi.
"Kenapa nek,ada apa dengan Afiyah?"tanya Pino datang dari dapur membawa srgelas kopi dia tangannya dan duduk disamping sepupunya itu.
"Pino coba kamu bawak adikmu untuk prisa,nenek kawatir dia itu lagi hamil dari cici-cirinya nenek gak salah,tapi coba saja untuk memastikannya saja."jelas nenek Afiyah pada cucu laki-lakinya itu.
"Benaran kamu hamil Fiyah,barakti aku akan memiliki keponakan,seru juga aku akan jadi paman nantik."ucap Pino tampak senang dengan kabar itu.
"Belum tahu kak,emang kakak senang aku hamil?" ucap Afiyah masih lemas.
"Tentu sebagai Fiyah,kamu adik satu-satunya bagi ku, pasti aku senanglah."
"Kakak temanin aku ya kebidan desa sini saja,aku merasa capek jika pergi jauh untuk periksa kak."ucap Afiyah memintak kakak sepupunya itu megantarkannya.
"Baiklah aku akan mengantarkan kamu kemana kamu mau pergi."ucap Pino tampak semangat.
"Ya sudah aku ganti pakaian dulu yang lebih sopan lagi kak."ucap Afiyah masuk kedalam kamarnya.
"Apa seperti itu kalau wanita hamil ya nek,aku lihat tampak pucat nek seminggu ini dia tampak lemas saja."
"Semua wanita itu pasti merasakan itu semua nak dalam semester awal kehamilan setelah lewat tiga bukan itu tidak lagi."jelas nenek tua itu pada cucunya itu.
__ADS_1
"Gitu ya,, aku kurang tahu tentang semua itu nek." ucap Pino cuek.
"Nantik jika kamu sudah menikah akan memahami itu semua nak,makanya kamu cari wanita yang lebih baik dari mantan tunangan kamu itu,agar kamu bisa menikah karena kamu itu sudah tidak mudah lagi umur kamu sudah 30 tahun, seharusnya kamu sudah kepala tiga."ucap Nenek Afiyah pada Pino, Pino hanya mendengar Kata-kata neneknya itu.
"Tapi nek aku belum bertemu wanita seperti nenek bilang itu,Nantik Pino cari dulu."canda Pino pada neneknya itu.
"Gak usah dicari kak,yang dekat kakak saja sudah ada,setiap hari aku lihat kakak memperhatikannya,sebaik kakak coba untuk mendekati Liza kak,dia itu gadis baik,karna tingkah nya saja yang agak konyol sedikit,tapi aku perhatikan kakak suka melihatnya seperti itu."ucap Afiyah tidak berenti berkata didepan neneknya itu.
"Apa benar itu nak? "
"Nenek aku hanya melihatnya saja,belum tentu akau suka dengannya."elak Pino pada kedua orang yang sedang menatapnya itu.
"Kakak jangan bohongin diri kamu itu,sebelum kakak meyesal."ucap Afiyah santai.
"Ayok kita pergi,tidak usah bahas itu lagi. "ucapa Pino beranjak ke luar untuk mengambil motornya dan menghidupkan mesin motor itu.
"Kamu ini kak,masa itu saja kakak gak bisa coba."ucap Afiyah tampak kesal pada Pino.
"Kak apa salah kakak mencoba lagi berhubungan dengan wanita lain,agar kakak itu tidak selalu memikirkan Mantan kakak itu yang gak jelas."repet Afiyah pada sepupunya itu.
"Bukan aku tidak mau dek, tapi aku butuh waktu untuk bisa menjalin hubungan baru dengan seorang wanita yang baik,seprti teman kamu itu,aku takut dia tidak mau menerima aku jika dia tahu aku baru ditingal tunanganku."jelas Pino.
"Aku rasa Liza tidak seperti itu kak,kakak tau gak Liza itu menyukai kakak dari pertama dia masuk bekerja dipakrik itu,dia takut saja sikap kakak yang dingin dan pendiam itu."jelas Afiyah pada Pino.
Tidak lama dalam perjalanan dari rumah kerumah bersalin dan bidan terdekat yang ada di desa itu akhirnya mereka berdua sampai juga.
Afiyah masuk kedalam kerena buk bidan juga ada di laman ruangan itu lagi memeriksa seorang ibu hamil,Afiyah dan Pino menunggu buk bidan itu siap memeriksa ibu hamil itu,setelah siap dengan pasien yang buk bidan periksa,buk bidan melihat Pino diluar.
"Pino kamu lagi apa disini ?"tanya buk bidan pada Pino.
__ADS_1
"Saya mau mengantar adikku untuk priksa kehamilan buk."jelas Pino agak kurang nyaman menjelaskan pada buk bidan itu.
"Adik,,gak salah dengar ibuk pin."ucap buk bidan pada Pino.
"Gak salah buk, perkenalkan ini adik sepupu Saya baru datang dari kota,kerena dia kembali dari kota,suaminya tidak dapat mengantarkan dia kerena bekerja dikota."jelas Pino pada buk bidan.
"Saya Afiyah buk,mungkin saja ibu tidak percaya pada kakakku kerena saya selama ini besar dikota buk semejak ayah meningal."jelas Afiyah kembali.
"Tidak apa,ayok masuk dulu,kamu tunggu saja disini Pino." ucap Buk bidan pada pada Pino.
Afiyah masuk kedalam ruangan itu bersama buk bidan untuk memeriksa kehanilannya apa benar dia hamil atau tidak.
"Afiyah kamu boleh prisa pakai ini dulu,biar kita tahu kamu itu hamil atau tidak."ucap Buk bidan memberikan tespek pada Afiyah .
"Baiklah buk,aku akan kekamar mandi sebentar."ucap Afiyah masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil sedikit air kencingnya dan di meletakan pada alat yang dikasih bik bidan tadi. Tidak lama Afiyah keluar dari ruangan itu membawa alat kecil itu dan memberikan pada buk bidan.
"Alhamdulillah kamu hamil Afiyah lihatlah alat ini bergaris merah dua."ucap buk bidan.
Setelah itu buk bidan bertanya tentang datang bulan afiya terahir,setelah mendapatkan itu semua buk bidan menghitung kehamilan Afiyah saat ini sudah memasuki 8 minggu.
Afiyah merasa bahagia saat ini dia sedang hamil buah cintanya bersama Alif.betapa bahagianya keluarga Alif jika mama Alin dan pak Wira tahu dia lagi hamil saat ini.
"Selamat ya Afiyah,kamu bisa mengabarkan suami kamu yang lagi bekerja dikota saat ini,pasti dia sangat senang.ucap Buk bidan pada Afiyah yang merasa senang dengan kehamilannya."
"Terimakasih buk,saya permisi pulang dulu ya buk."
"Ya,setiap bulan periksakan kehamilan kamu Afiyah."
"Baik buk."jawab Afiyah teseyum pada Buk bidan.
__ADS_1
Afiyah pulang mengajak Pino yang menunggunya diluar, dalam perjalanan Afiyah hanya diam saja dia tidak tahu hatinya saat ini bahagia atau sedih saat ini kerena kebahagian ini hanya dia yang merasakan.
***********