
Dengan berjalannya waktu sudah satu tahun lebih Afiyah meningalkan Alif saat ini,Anak yang Dikandungnya sedah berumur tiga bulan Saat ini,putra pertamanya lahir tampa kasih sayang seorang ayah didekatnya,itulah yang dirasa Afiyah selama setahun lebih.
Saat ini Anaknya sudah mulai pandai membalik dan kelincahan putranya itu membuat Afiyah senang sehinga dia tidak begitu megigat Alif lagi kerena Sudah ada putranya yang menemaninya semenjak Aulian Lahir kedunia.
Aulian sangat tampan seperti Alif,Hati Afiyah sangat bahagia kehadiran Aulian bersamanya saat ini,Tidak pernah mengingat Alif selama Lian ada bersamanya.
AULIAN PRAMAJA MAHAWIRA.
LIAN(Pangilan sehari-hari)
Nama itu tidak pernah ditinggalkan untuk putranya saat ini kerena nama itu adalah dari keluarga suaminya itu,Afiyah tidak pernah melupakan kedua mertuanya itu,mereka berdua sangat meyayangi Afiyah selama menjadi menantunya.
Saat ini Afiyah menatap Putranya itu dengan senyuman yang bahagia dibibirnya karena memiliki seorang putra yang tampan menemani hari-harinya,Saat ini Afiyah bersama Temannya Yang sudah satu tahun menemani dia Selama hamilnya,walau Liza Akan menjadi kakak iparnya,namun Lisa tetap saja membatunya.
"Za Kamu bisa istirahat jangan terlalu capek sebulan lagi kamu akan menikah dengan kakakku."ucap Afiyah pada Liza yang sibuk membatu melipat pakaian Lian yang baru kering.
"Tidak Apa Fiyah aku membatu kamu kerena aku sangat meyayangi Lian seperti anakku sendiri."jawab Liza.
"Za apa kamu senang senang bersama kakakku?" tanya Afiyah pada Liza.
"Fiyah sudah berulang kali aku katakan padamu,aku sangat bahagia bersama Kak Pino kerena dia mau menerima aku apa adanya,lihatlah hubungan kamu semakin baik,sebentar lagi kami akan menikah itu semua berkat kamu Fiyah yang memberi semangat pada kami berdua."jelas Liza.
"Alhamdulillah kamu tidak terpaksa dengan ini semua."ucap Afiyah pada temannya itu.
"Aku tidak pernah merasa terpaksa bersama kak Pino selama ini, kerena aku juga sangat mencintainya Fiyah."ucap Lisa terseyum pada Fiyah.
"Maafkan aku ya Za selama ini aku hanya merepotkan hubungan kalian berdua,kerena aku kalian belum bisa menghalalkan hubungan kalian karena menunggu aku lahiran dulu."sesal Afiyah pada Liza yang terseyum padanya.
"Tidak usah merasa begitu Fiyah kita adalah teman,dan sebentar lagi kamu akan menjadi iparku,jadi jangan pernah merasakan bersalah pada kami berdua, aku iklas melakukan ini demi kamu dan keponakan aku ini."ucap Liza sambil mengusap wajah tampan apa Lian yang lagi tertidur nyayak di kasurnya.
"Semoga kalian bahagia nantik setelah menikah,aku sangat bahagia melihat kalian berdua bahagia."ucap Afiyah pada Lisa sambil memegang tangan temannya itu.
"Sudah jangan pikirkan kami Fiyah, saat ini aku ingin betaya pada kamu,apa kamu belum mau memberitahu keluarga Suami kamu tentang Aulian?"tanya Liza pada Afiyah.
"Entahlah Za,,aku masih ragu dengan ini semua aku tidak mau nantik anakku akan kenapa-kenapa jika aku memberitahu pada mereka. "jelas Fiyah masih mengingat Masa itu waktu wanita itu megancamnya.
"Cobalah untuk berdamai dengan hati kamu Fiyah, kasihan Lian butuh seorang ayah bersamanya, jika dia besar nantik pasti dia akan menayakan ayahnya pada kamu."ucap Lisa mengingatkan Afiyah.
__ADS_1
"Tapi Za aku masih takut."jawab Afiyah singkat.
"Setidaknya kamu beritahu saja padanya,walau Alif sudah punya kehidupan baru,setidaknya dia tahu dia memiliki anak bersama kamu."ucap Lisa memandang temanya itu.
"Aku akan pikirkan dulu Za,apa yang harus aku lakukan nantik."ucap Fiyah singkat.
"Pikirkan tentang anakmu,dia juga berhak untuk tahu siapa ayahnya Fiyah."Ucap Liza lagi.
"Aku akan coba untuk berbicara nanti dengan Tiara kerena Alif sering datang ke rumahnya untuk menaya diriku padanya, kerena aku tidak mau berbicara dengannya sampai saat ini Za."jelas Afiyah tampak dari raut wajah itu masih tersimpan rasa kecewanya pada suaminya itu.
"Itu terserah kamu saja, itu adalah hak kamu Afiyah, karena aku juga tidak mau kamu terluka kerena ini, sekarang kamu bisa memberitahu Alif atau kedua mertua kamu atas adanya Aulian."ucap Liza lagi.
"Nantik aku akan menghubungi Mama Alin,jika aku sudah siap dengan ini semua." ucap Afiyah sedikit terseyum.
"Terserah kamu, pikirkan dengan matang keputusan kamu itu,kerena untuk kebaikan putra kamu."ucap Liza sambil megusp punggung tangan Temanya itu.
"Ya sudah mari kita keluar menemui nenek."ucap Liza mengajak Afiyah.
"Ayok,, selagi dia masih tidur nyenyak. "
Mereka berdua bergabung dengan Nenek didepan rumah teras yang ada di rumah itu.
"Nek lagi apa?"tanya Afiyah.
"Dia lagi tidur Nek,sambil menunggunya bangun kita bisa berbincang-bincang didini."ucap Afiyah santai.
"Nenek bikin apa kok motong sayur tadi Afiyah sudah masak Nek?"ucap Afiyah bigung melihat neneknya itu lagi memotong sayur kangkung.
"Nenek ingin bikin cah kankung,sudah lama Nenek tidak bikin itu."jawab Nenek apa adanya.
"Kakak kemana Nek kok aku gak lihat ya?" tanya Afiyah sambil melihat kiri kanan tidak ada Pino.
"Dia keluar sebentar,katanya ada yang mau dibeli."jawab Nenek.
"Ohhh,,tapi tumben dia keluar sendiri Nek biasanya kalau keluar pasti mengajak aku,kalau tidak aku pasti Liza yang dibawak nya."'
"'Kamu ini banyak tanya,biarkan saja kakak kamu itu pergi sendiri mungkin ada keperluan lain dia keluar."ucap Nenek.
"Lihat Saja Liza tunangannya saja tidak pernah bertanya padanya, mau kemana dia pergi."ucap Nenek merepet pada Afiyah.
__ADS_1
"Aku percaya padanya Nek,maka aku tidak pernah bertanya dia mau kamana."balas Liza pada Nenek Pino itu.
"Jangan bayak tanya pada pasangan kita Nak itu akan membuatnya merasa kamu tidak percaya padanya."
"Betul apa yang nenek bilang itu."ucap Liza pada Nenek.
"Ya sudah kamu bisa berbincang disini Nenek mau kedapur dulu untuk masak Kankung ini."ucap Nenek meningalkan Kedua cucunya itu.
"Kemana kakak ya."ucap Afiyah sedikit penasaran pada Pino.
"Kamu ini masih saja ingin tahu kak Pino pergi."ucap Liza pada Afiyah.
"Ya,,aku heran saja Za biasanya dia itu tidak mau pergi sendiri jika mau keluar,tapi dia beda hari ini."ucap Afiyah merasa tidak tenang.
"Kamu itu,,sudah jangan pikir yang macam-macam, pasti kak Pino ingin cari sesuatu kali."
Disaat Afiyah masih terpikir kakaknya itu tidak lama Pino datang dengan motornya besarnya itu,Pino membawa banya kantong ditangannya.
Afiyah yang melihat apa yang dibawa kakaknya itu hanya diam saja entah apa isi kantong itu.
"Kak itu apa ?" tanya Afiyah pada Pino.
"Ini makanan Dek,aku ingin makan somay hari ini,kita bisa makan bareng-bareng disini, kerena hari libur kita bisa seperti ini.
"Sebanyak itu?"Afiyah menunjuk kantong yang lain di tangan Pino.
"Tidak dek, ini pakaian untuk Lian, aku membelikan untuknya kerena bajunya sudah bayak gak muat, jadi kakak bilikan ini untuk Keponakan kakak dan mainan untuknya."
"Kakak gak usah melakukan itu,sebentar lagi kakak akan menikah butuh banyak biaya kakak." ucap Afiyah pada Pino tidak enak hati.
"Kamu gak usah pikirkan itu,untuk kami menikah nantik sudah ada."jawab Pino santai.
"Sudah Fiyah kamu itu selalu merasa tidak enak pada kami,kamu juga keluaga."ucap Liza.
"Kalau bukan aku memperhatikan kalian berdua, terus sapa lagi dek."ucap Pino pada Adik sepupunya itu.
"Terimakasih kak sudah memperhatikan aku semenjak aku datang dan sampai lahir Lian kakak merawat kami berdua."ucap Afiyah sangat terharu pada sepupunya itu sampai tidak sadar Afiyah menyatukan air matanya dipipi mulusnya itu.
"Sudah jangan bersedih,kakak tidak mau lihat kamu menangis lagi."ucap Pino sangat meyayangi Afiyah kerena Afiyah lah Adik satu-satunya yang dia punya.
__ADS_1
Pino memeluk Afiyah sambil menghapus air mata yang jatuh dipipi sepupunya itu,setahun lebih Afiyah bersamanya,Pino melihat bayak kesedihan yang disimpannya sendiri sampai saat ini, Afiyah masih tidak mau membuannya repot.
**********