
"Gue udah pesenin camilan tadi." Laura mendorong pelan sepiring kue beraroma kopi ke depan Rahadyan bersama secangkir susu di dekatnya. "Have a seat, please."
"Thank you." Rahadyan menarik kursi dan duduk nyaman. Langsung mengambil secangkir susu hangat di sana, tersenyum menikmati.
Sore-sore memang bukan waktu buruk menikmati susu hangat. Terlebih cuaca agak dingin sore ini.
"So, gue tau lo enggak suka basa-basi jadi ... gimana soal tawaran gue?"
Laura mengangkat alis sekilas sebelum dia menopang dagu, malah nampak berpikir.
"Gue enggak tau juga sih sebenernya mesti mikir gimana. Masih ngawang-ngawang di pikiran gue. Besides, kita enggak pernah punya hubungan."
"Does that mean 'no'?"
"Gue ngomong sama nyokap gue and she said 'it's not a bad thing'."
"Really? You tell her everything?"
"Yeah, she's a mom. Bohong sama nyokap itu salah satu dosa yang paling gue pantangin." Laura mengangkat bahu. "So how about this? Gue enggak terima atau nolak, tapi gue pengen ngeliat dulu gimana peluangnya?"
Rahadyan mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung telunjuknya, berpikir cukup keras.
"Maksudnya, gue bisa anggep lo terima tapi lo boleh batalin kalau lo mau?"
__ADS_1
"Satu sisi, anak lo belum tau soal gue kan? Biarin juga dia ngasih pendapat."
Rahadyan tidak berpikir kalau Kalista mau berpendapat sih, soal calon istrinya. Tapi apa yang Laura katakan benar juga. Lagipula, Rahadyan malah lebih suka jika seperti ini.
Hubungan yang dilandasi pembicaraan dan tidak sepenuhnya mengenai cinta justru lebih nyaman dijalani, karena mereka sama-sama mengutarakan kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain.
Rahadyan belum bisa bertanggung jawab soal perasaan siapa-siapa sekarang selain anaknya, jadi yah ia tak bisa mencintai siapa-siapa.
"Agreed." Rahadyan mengulurkan tangan untuk jabat tangan sebagai bentuk sahnya kesepakatan. "So you wanna come with me to Indonesia?"
"Ya, I think so." Laura mengangguk pelan dan melepaskan jabat tangan mereka. "Kapan lo balik? Btw, gue udah denger dari Aca soal anak lo mau ulang tahun jadi, mungkin seminggu kemudian?"
"Enggak. Nyokap gue nyuruh dua minggu lagi."
"Banyak sih banyak, tapi sebenernya bukan itu juga." Rahadyan menyantap kuenya saat tiba-tiba teringat akan Kalista.
Anak itu pernah berteriak tidak suka es krim, padahal dia selalu makan es krim dan sangat suka kalau Bi Tina membuat kue manis.
Kadang-kadang kalau Rahadyan berjalan di pusat street food berbagai negara, ia mau mengajak Kalista bersamanya buat jajan.
Anak itu pasti akan sangat senang dan menikmati.
"Gue enggak kenal sama Kalista sampe beberapa minggu terakhir." Rahadyan menceritakan hal itu lagi. "Dia idup enam belas tahun tanpa tau soal bokapnya siapa. Kalau bukan karena nyokapnya meninggal, mungkin bakal lebih lama dia tau. Atau, kalo aja nyokapnya mati lima tahun kemudian bukan sekarang, pasti dia enggak bakal kepikiran ngasih tau gue siapa Kalista."
__ADS_1
Rahadyan kadang merasa bersyukur bahwa ia diberitahu setidaknya sekarang. Karena kalau usia Kalista sudah memasuki batas remaja alias berpindah jadi dewasa, dia tak butuh wali lagi.
Dia tidak butuh Rahadyan sama sekali dan akan menghabiskan waktunya buat bekerja sambil kuliah, atau entah menikahi siapa tanpa sepengetahuan Rahadyan.
"I love her so much. I swear to God I really love her so much." Rahadyan tersenyum sendu. "Tapi kayaknya dia justru benci sama gue."
Laura kembali menopang dagu, ikut menyendok kuenya sambil menyimak cerita itu. "Jujur, kalo gue di posisi anak lo, mungkin bakal sama."
"Iya, kan?"
"Bukan woal lo cinta sama gue atau soal lo bakal jagain gue mulai sekarang tapi itu soal gue enggak kenal lo dan lo enggak berjasa apa-apa di hidup gue."
"Tapi gue enggak bisa pasrah dibenci, kan?" balas Rahadyan sedikit lesu. "Kalo gue enggak punya jasa dulu, tinggal gue bikin sekarang sampe nanti."
"Yeah."
Makanya Rahadyan sungguh berharap kalau Kalista cepat-cepat mau menerimanya. Agar Rahadyan juga bisa cepat mengajak dia menghabiskan waktu bersama, mengukir memori mereka yang kosong selama enam belas tahun lamanya.
Ia harap rencana menghilang sementara ini sedikit berhasil.
Sedikit saja.
*
__ADS_1