
"Kalista, kamu enggak pa-pa, Sayang?"
Sesuai keinginan Kalista, satu rumah menyambutnya dengan raut sangat khawatir setelah dengar bahwa ia dibully. Agas sudah bilang bahwa dia melaporkannya pada Rahadyan, jadi jangan kaget kalau semua orang tahu.
Kalista dengan tampang polosnya pun berkata, "Udah biasa kok, Oma. Enggak pa-pa."
"Udah biasa gimana?! Siapa yang berani kayak gitu sama kamu! Bilang sama Oma, biar Oma bakar rumahnya hari ini!"
"Bu Direktur udah ngasih hukuman kok, Oma. Enggak pa-pa."
Bohonglah. Bu Direktur cuma memberitahunya kalau pelaku dibalik pembullyan itu adalah Astrid, tunangannya Sergio. Tapi begitu tahu hal itu, Kalista langsung bilang ia akan pura-pura tidak tahu.
Kenapa?
Soalnya malesin banget jika sampai Kalista balas dendam, lalu ibunya si Astrid datang ke sekolah buat marah-marah.
Mamak-mamak itu pasti bakal menunjuk Kalista penuh penyalahan sambil mengucapkan kalimat klise 'kamu dasar anak pelacurr! orang tua kamu enggak ngajarin kamu sopan santun, hah?!' seakan-akan tindakan anaknya membully Kalista itu adalah sebuah kesopansantunan.
Pret.
Daripada berurusan dengan Mamak-Mamak, mending Kalista berurusan dengan si Om Tidak Berguna.
"Om, maaf, yah." Kalista pun pura-pura teraniaya mendatangi Rahadyan. "Aku malah bikin malu Om di sekolah. Maaf, Om."
Tentu saja bahkan Kalista yang hebat tidak akan menduga kalau sebenarnya Rahadyan jadi stalker.
__ADS_1
Rahadyan berdehem canggung melihat anaknya datang meminta maaf dengan muka sangat sedih, padahal tadi di sekolah dia malah biasa-biasa saja dibully.
Tapi, Rahadyan tetap saja kasihan.
"Kamu jangan ngomong begitu. Kamu enggak salah." Rahadyan tidak bisa lupa pada omongan Direktur Judes itu mengenai Kalista tidak butuh dibantu. "Kalo kamu ngamuk di sekolah juga enggak pa-pa, kok. Terserah kamu."
Omongan Bu Direktur membuat Rahadyan jadi berusaha berhenti mengatakan 'bilang aja sama saya, nanti saya bakar dia' namun menggantinya dengan 'lakukan sesukamu saja'.
Setidaknya ia tak sok jadi pahlawan, kan?
Kalista yang mendengar ucapan Rahadyan mau tak mau tersentak. Padahal ia pikir si Om ini bakal bereaksi lebay macam Oma.
"Om enggak marah saya bikin masalah di sekolah?" tanya Kalista heran, sungguh-sungguh heran karena Rahadyan bereaksi agak berbeda.
Padahal tadi pagi dia masih termakan.
Kalista tersentak.
"Saya udah kepikiran orang pasti bakal ngejek kamu begini begitu. Susah buat nyuruh mereka diem. Tapi lama-lama saya ngeliat kamu, saya ngerasa kamu enggak butuh saya jadi pahlawan kamu. Jadi saya cuman bisa biarin."
"Kalo kamu mau berantem sama orang yang ngejek kamu, saya enggak masalah. Kalau kamu butuh bantuan saya, baru saya bantuin."
Oma mau berkata bahwa Rahadyan memuntahkan omong kosong yang terkesan sangat dingin pada putrinya. Bagaimana bisa dia berkata begitu saat tahu anaknya disiram air?!
Tapi sebelum Om bicara, Opa lebih dulu mencegahnya. Meminta beliau diam dan menyaksikan interaksi itu.
__ADS_1
"Kamu anak siapa, kamu lahir dari rahim siapa, itu enggak berarti nentuin segalanya di hidup kamu."
Rahadyan menatap mata Kalista yang membeku.
"Kamu bebas milih mau gimana. Saya enggak bakal marah. Yah, kecuali kalo kamu nyongkel mata orang, itu baru agak masalah tapi intinya, kalo orang jahatin kamu terus kamu bales pake cara kamu, ya terserah kamu. Saya cuma dukung dari belakang aja."
"....."
Rahadyan menjadi cemas karena Kalista malah diam.
Duh, jangan-jangan ia salah bicara? Jangan-jangan seharusnya Rahadyan panik mengkhawatirkan biar Kalista tahu bapaknya ini sangat mencemaskan dia?
Awas saja si Direktur itu kalau sampai dia membuat—
"Hmpt!" Kalista tiba-tiba berbalik, dengan seraut wajah cemberut. "Yaudah."
Rahadyan terbelalak melihatnya. Berpikir bahwa Kalista sungguhan marah.
Tapi, saat anak itu menaiki tangga, Rahadyan tak sengaja melihat sudut bibir Kalista bergetar, seolah-olah dia menahan senyum.
"Ada anak yang mentalnya lemah, ada yang mau jadi lebih kuat." Itu yang Bu Direktur katakan.
Enggak semua anak butuh hero. Rahadyan bergumam kosong melihat untuk pertama kali Kalista tersenyum karena dirinya.
"Bang." Cassandra yang sejak tadi melihat tiba-tiba tersenyum pada Rahadyan. "Belajar ngomong gitu dari mana?"
__ADS_1
*