My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
77. Bukan Salah Papa


__ADS_3

Kalista menggigit bibirnya saat menunduk tanpa suara. Tangannya terkepal kuat oleh emosi yang mendadak datang.


Jadi begitu. Jadi begitu rupanya.


Walaupun Sergio tadi sudah bilang, tapi Kalista tak menyangka akan seperti ini.


"Kak Agas ... enggak peduli sama aku." Badan Kalista gemetar saat membisikkannya. "Kak Agas enggak pernah peduli."


Tapi kalau begitu, kenapa hanya saat bersama dia Kalista menjadi sedikit tenang? Kenapa hanya saat bersama dia Kalista merasa tidak kesepian?


Kalista bukan orang yang mudah tertipu pada perhatian palsu orang lain. Jadi seharusnya—


"Nona."


Entah kenapa, Kalista tersentak kaget mendengar Agas memanggilnya. Napas Kalista tercekik, nanar menatap Agas yang hanya memandangnya seperti biasa.


"Manusia bukan makhluk yang spesial ataupun luar biasa." Agas menarik segaris senyum tipis. "Memanipulasi perasaan seseorang bisa sangat mudah jika seseorang terbiasa."


Kalista hanya bisa terdiam.


"Saya bisa menggiring Nona melakukan apa yang saya inginkan kapan saja. Membuat Nona menyukai Pak Rahadyan, membuat Nona merasa mencintai Sergio, membuat Nona membenci saya, itu hal yang cukup mudah. Tapi tidak saya lakukan sebab tidak ada keharusan."


"...."


"Bukankah saya sudah bilang? Mengendalikan seseorang itu sangat mudah jika mereka menginginkan kita."

__ADS_1


Tenggorokan Kalista mendadak kering.


Meski begitu, ia tetap menatap Agas dan mendengarkan apa yang dia katakan sampai selesai.


"Berhenti menaruh perhatian pada saya dan sedikit lebih melihat Pak Rahadyan mungkin akan lebih menghibur Nona."


Mulut Kalista terbuka, tapi kemudian hanya kembali terkatup tanpa suara.


*


"Kalista, kamu udah pula—kamu kenapa?"


Rahadyan langsung panik menemukan anaknya pulang dengan wajah lesu, alih-alih terlihat penuh energi seperti biasa.


Apa jangan-jangan dia masih kesal pada Rahadyan? Atau dia marah karena Agas menyusulnya padahal sudah bilang tidak mau?


Lagian tanpa Rahadyan suruh juga Agas bakal menyusul, jadi anggap saja ia tak pernah menyuruh Agas menyusul Kalista tadi.


"Papa enggak pernah nyuruh dia nyusul kamu. Agas sendiri yang mau pergi. Bukan Papa yang salah. Salah Agas-nya."


Kalista menatap pria setengah tua itu dengan alis terangkat bingung. Apa yang dia bicarakan? Begitu pikir Kalista.


Sudah lupa kalau tadi pagi dia berteriak mengatakan Agas tidak boleh menyusulnya.


Tapi karena tidak penting, Kalista putuskan buat abai saja. Daripada itu, ia mau mengatakan hal lain.

__ADS_1


"Aku mau ziarah ke kuburan Mama."


Rahadyan yang sempat panik karena takut Kalista bakal menggila seketika terdiam. Matanya mengerjap linglung sesaat, sebelum kemudian berdehem samar.


Jadi begitu, yah. Dia lesu karena kangen Mamanya.


"Mau pergi sekarang? Papa temenin kamu."


Sebenarnya Rahadyan menduga Kalista bakal berkata tidak, atau bahkan berkata 'ngapain juga Om datengin Mama? pas idup aja Om kayak Bang Toyib, sekarang sok-sokan mau ngobrol sama tanah' atau semacamnya.


Tapi, Kalista ternyata berkata, "Nanti. Aku mandi dulu."


Lah?


Rahadyan cengo melihat anak itu berlalu naik diikuti oleh Agas.


Ada yang salah, pikir Rahadyan gelisah. Sangat amat gelisah karena Kalista terlihat baik-baik saja.


Maksudnya, bukankah anak itu hobi membuat sesuatu? Semacam drama atau entahlah apa itu. Tapi kok dia begitu santai menyetujui Rahadyan?


"Latifah."


Pembantu muda yang sepantaran Kalista itu langsung datang memenuhi panggilan. "Iya, Pak?"


"Kamu ke atas bawain Kalista jus. Terus panggil Agas turun, tapi jangan bilang Kalista."

__ADS_1


"Iya, Pak."


*


__ADS_2