
Punya anak itu ternyata bikin kecanduan obat, yah? Rahadyan sudah nyaris menghabiskan dua puluh tablet obat tekanan darah dalam beberapa hari saja, karena Kalista.
Belakangan dia sudah tidak teriak-teriak mengatakan Rahadyan itu penjahat atau sesuatu, tapi memikirkan dia sepanjang malam juga bikin Rahadyan merasa tekanan darahnya naik.
Karena khawatir.
Karena cemas.
Karena takut.
Diam-diam Rahadyan kembali masuk. ke kamarnya Kalista tengah malam, melihat anak itu tidur pulas dibalut selimut pink.
Dia terlihat menggemaskan dengan mulut cemberut dan memeluk boneka bantal.
"Coba kamu udah sama Papa dari kecil." Rahadyan tidak bisa menghilangkan andai-andai di benaknya itu. "Coba uang bisa beli mesin waktu beneran, Nak."
Rahadyan sangat mau ke masa lalu buat mencari Sukma Dewi. Rahadyan mau hadir di setiap lini kehidupan Kalista dan bukannya cuma mengasuh dia sekarang.
Bukan. Bukan sekadar tentang dia sekarang sudah nakal dan tidak lagi selucu bayi.
Tapi juga karena mata kesepian Kalista. Mata yang melihatnya seolah dia tidak percaya Rahadyan akan bersikap sebagai ayah.
Rahadyan mau menghilangkan tatapan itu.
Juga ....
"Papa mau deket sama kamu," bisik Rahadyan pada kekosongan.
__ADS_1
Pada anaknya yang tertidur pulas.
Sebab Rahadyan tidak berani mengatakannya keras-keras dengan semua kekecewaan yang Kalista simpan untuknya.
"Papa mau ngobrol sama kamu."
Bicara tentang hal-hal yang menurut Kalista menarik. Mungkin berbagi hal-hal lucu yang mereka pernah alami atau sekadar membicarakan kejadian konyol di televisi.
Rahadyan mau mengalami itu. Ia mau dekat dengan anaknya sebagai ayah.
Bukan sebagai Om Tidak Berguna.
"Kalista."
Udara dingin kamar sedikitpun tidak bisa menjawab Rahadyan.
*
Dia sepertinya sedang menimbang-nimbang apakah dia menendang pria kurang kerjaan ini ataukah harus diracuni minuman di cangkirnya atau berpura-pura menganggap dia tidak ada.
Sekali Bu Direktur bisa paham, tapi dua kali itu hal berbeda.
"Jadi," Bu Direktur berusaha keras tidak berdecak, "kamu bilang kamu butuh bantuan saya deket sama Kalista?"
Ya, itulah yang Rahadyan lakukan.
Dia ragu mendekati Kalista secara langsung, jadi entah kenapa Rahadyan malah memikirkan Macam Ganas—maksudnya, Bu Direktur Genius ini untuk sedikit membantunya.
__ADS_1
Dia kan direktur sekolah, jadi ya paling tidak dia paham soal anak-anak, kan? Lebih paham dari Rahadyan, yang pastinya.
"Saya enggak bakal ganggu kerja kamu, kok. Saya juga enggak bakal bikin susah kamu. Cuma sedikiiiiiit aja kamu ngasih saya sudut pandang kamu."
Soalnya dia dan Kalista entah kenapa sejenis. Tipe-tipe wanita yang tidak bisa dihadapi dengan cara yang biasa digunakan menghadapi wanita normal.
"Kamu kan bisa nyewa psikolog atau orang lain." Bu Direktur terlihat jelas ogah membantunya. "Kenapa mesti saya coba?"
Rahadyan pura-pura batuk. "Ya, gimana, yah? Soalnya saya bayar mahal buat anak saya masuk ke sini."
Kening Bu Direktur langsung berkerut.
"Lagian, Bu, bukannya kamu sendiri yang bilang kalo sekolah ngawasin siswanya baik-baik? Bukan cuma ngawasin dari CCTV, sekolah juga nyediain pakar psikologi remaja buat pemecahan masalah anak-anak. Iya, kan?"
Rahadyan langsung mencari tahu semuanya semalam, jadi sekarang ia sangat paham ini bukan sekolah biasa. Biayanya tidak ecek-ecek tapi pelayanannya juga tidak main-main.
"Nah, berhubungan saya sama Kalista agaaaaaaaak sedikit berantem sekarang, bukannya itu bisa jadi alasan kamu bantuin saya? Soalnya kalau Kalista sampai punya masalah mental karena ribut sama orang tuanya, apalagi mamanya dia baru meninggal, ya sesuai peraturan sekolah, kalian wajib berusaha bantuin."
Bu Direktur mengembuskan napas kesal. "Bilang aja kamu enggak tau ngurus anak sendiri."
"Apa?!"
"Enggak. Saya bilang saya enggak suka anjing. Berisik."
Rahadyan mengerutkan kening sebal dan bertanya-tanya kenapa orang ini begitu judes padanya sejak awal.
Padahal dia harusnya menjilat Rahadyan biar ia semakin banyak menyumbang dana ke sekolah.
__ADS_1
Memang dasar wanita aneh.
*