My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
109. Nunggu Oleh-Oleh


__ADS_3

"Wow." Laura memiringkan lehernya ke kanan dan ke kiri tepat setelah melihat luasnya pemandangan bebas di luar pesawat. "Huh, God. I'm deadly tired."


"Udah lama lo enggak ke Indo?" Rahadyan menyusul di belakangnya. Menarik koper miliknya yang bukan berisi pakaian, melainkan oleh-oleh untuk Kalista.


Koper-koper lain, entah baju atau oleh-oleh untuk yang lainnya Rahadyan suruh orang lain saja membawanya. Yang paling penting adalah milik Kalista, dengan harapan Rahadyan melihat anaknya tersenyum lebar.


Oh, bonus pelukan.


"Begitulah." Laura mengangkat bahu. "Nyokap jarang nyuruh pulang. Lebih sering mereka nyusul gue ke sana, sih. Katanya sekalian liburan."


"Iya, sih."


"Anyway anak lo enggak jemput?"


Rahadyan tertawa bukan karena itu lucu melainkan pertanyaan sekilas itu sudah cukup membuatnya sangat rindu pada Kalista.


Perjalanannya lebih lama dari dugaan Rahadyan, tapi sekarang ia sudah bisa memeluk Kalista lagi.


"Enggak. Gue mau ngasih kejutan. Lo ikut ke rumah gue, kan?"


*


"Oma, Papa kapan nyampe?"


Pertanyaan Kakista yang penuh semangat itu sontak membuat Oma dan lainnya tertarik. Bahkan biarpun waktu sudah berlalu cukup lama, tapi sebenarnya Kalista tidak menunjukkan ketertarikan khusus pada Rahadyan.

__ADS_1


Tidak banyak juga perbedaan dari waktu Rahadyan ada dan tidak ada, jadi cukup spesial jika Kalista sampai bertanya-tanya soal papanya.


"Hmmm, Oma dapet kabar tadi lima belas menit lalu Papa udah lepas landas. Mungkin bentar lagi, Sayang."


Opa yang dapat menjangkau Kalista langsung mengelus kepalanya. "Enggak sabar ketemu Papamu, Nak?"


Kalista menggeleng. "Oleh-oleh."


"Oleh-oleh?"


"Aku udah janjiin Bu Direktur oleh-oleh jadi mau langsung nganterin kalo udah dateng."


Tentu saja Kalista tidak terlalu peduli soal Rahadyan mau pulang atau tidak.


Ah, tidak. Mungkin bukan itu sebutannya.


Kalista bahkan memanggil dia Papa karena Kalista tidak mau waktunya terbuang-buang cuma karena menolak dia terus-menerus.


Di sisi lain sana, Raynar menyenggol lengan Sergio yang tengah mengajak Rahil bermain.


"Kayaknya dari kemarin Kalista suka banget ngomongin Bu Direktur," bisik Raynar agar tidak terdengar kecuali oleh Sergio. "Kenapa, sih?"


Sergio memiringkan wajah, coba berpikir ada apa. Tapi Sergio juga jarang mengawasi Kalista belakangan jadi ia tak tahu pasti.


"Kayaknya sih Kalista lagi suka caper sama Bu Direktur sekolah, Om."

__ADS_1


"Caper maksudnya?"


Sergio melirik Kalista yang tersenyum-senyum antusias bukan menunggu Rahadyan tapi oleh-oleh Bu Direktur.


"Yah, enggak enak sih ngomong gini, Om, tapi kayaknya Kalista nganggep Bu Direktur temennya."


"Hah?"


"Soalnya dia enggak punya temen di sekolah." Sergio benar-benar merasa tidak nyaman mengatakannya. Tapi, ia merasa harus mengatakannya dan sudah sejak lama mau bercerita.


Banyak orang di sekolah mengejek sekaligus kasihan pada Kalista. Katanya, karena dia dibenci banyak orang, dia jadi begitu terobsesi pada Bu Direktur yang baik padanya.


Semakin Kalista dekat dengan Bu Direktur, semakin menunjukkan kalau Kalista berusaha keras kabur dari dunianya yang menolak dia.


Karena cuma Bu Direktur yang memperlakukan dia seperti manusia tanpa aib.


"Lah, terus kamu apanya kalo bukan temen? Kamu kan pacar dia."


"Emangnya Kalista pernah nunjukkin dia mau main sama aku, Om?" Sergio menggerutu. "Waktu Agas baru dateng, eh dianya nempel ke Agas teros. Habis itu sekarang Bu Direktur. Bukan salah aku kalo Kalista-nya milih-milih."


Raynar memerhatikan keponakannya yang tampak sangat semangat.


Kalau dipikir lagi, Sergio benar juga. Kalista secara tidak sadar sedang berusaha lari dari fakta tidak ada yang mau berteman dengannya.


Kecuali Bu Direktur.

__ADS_1


*


__ADS_2