
"Hah, udahlah. Saya banyak kerjaan. Kamu gonggong mulu dari kemarin."
Wanita itu beranjak pergi, merasa kalau ia tak harus gila dengan menyaksikan Kalista berjalan ke kelas lewat CCTV.
Sekali lihat juga Bu Direktur tahu anak seperti Kalista bisa mengatasi masalahnya sendiri. Dia bukan anak yang benar-benar butuh bantuan secara langsung.
Paling, dia cuma butuh dukungan. Namun, dia juga sudah punya karena Agas di sampingnya.
"Kamu udah janji bantuin saya!"
"Janji yang bukan di atas putih itu enggak pasti."
Rahadyan terperangah, tapi Bu Direktur cuma berdecak.
Ya, dia sudah terpaksa setuju akan sedikit membantu, jadi bukannya Bu Direktur mau ingkar janji juga.
Wanita itu melihat jam di tangannya memikirkan jadwal-jadwal penting dan tumpukan urusannya, baru ia benar-benar bisa memastikan berapa lama waktu untuk Rahadyan.
"Gini yah, kalo kamu mau deketin anak kamu, ya kamu majuin langsung."
Rahadyan melotot gemas pada perempuan ganas di meja kerja Direktur itu. "Kamu kira saya lagi mau PDKT sama cewek?"
"Emang beda? Anak kamu kan juga cewek."
"Hah?"
__ADS_1
"Haduh, kamu mestinya sekolah lagi biar pinter." Bu Direktur sulit menahan keluhannya melihat Rahadyan begitu tulalit.
Katanya sih dia cerdas. Dan seharusnya memang begitu karena Rahadyan diberi posisi sebagai pemimpin beberapa perusahaan milik Pak Sutomo.
Tapi soal anaknya ... orang ini perlu sekolah lagi dari TK.
"Anak kamu itu juga perempuan. Mau perempuan yang kamu deketin buat kamu nikahin kek, buat kamu mainin kek, atau anak kamu kek, ya sama aja. Kalo kamu kasih bunga, dia bakal seneng."
"Kamu kira Kalista bakal meluk saya kalo saya kasih dia bunga?" cibir Rahadyan, merasa Bu Direktur juga bodoh.
Tapi wanita itu menatapnya malas. "Itu metafora, dasar kurang pengalaman."
Ugh.
Rahadyan merasa tertusuk untuk alasan yang sulit dijelaskan.
Rahadyan mengerutkan mulutnya dan berpikir bahwa dia ada benarnya juga.
Lagian aku ke sini karena emang tau ini perempuan ada gunanya, gumam Rahadyan, tersadar kalau justru inilah alasannya datang ke kantor si Bu Winnie-Dibaca-Wi-ne.
"Terus maksudnya saya mesti gimana, Bu?"
Walau Rahadyan merasa perempuan ini seumuran dengannya, ia tetap memanggil dia Bu karena dia Bu Direktur.
"Ya anggep aja Agas sama Sergio saingan kamu dapetin Kalista. Kamu mesti ngasih yang Kalista mau sebagai cewek. Liat kan kalo dia udah suka sama orang? Kayak Agas."
__ADS_1
Rahadyan sempat merasa ingin membunuh Agas, tapi itu dengan cepat teralihkan oleh berbagai macam ide.
Benar juga. Kalista kan perempuan. Ya dekati dia sebagaimana laki-laki mendekati perempuan.
Biar nanti dia jatuh cinta pada Rahadyan dan hanya Rahadyan.
Habis itu Rahadyan bakal menertawakan wajah bodoh Sergio dan Agas karena berani menyentuh miliknya.
Cuih, cuih. Kuludahin sekalian.
Rahadyan mulai tertawa membayangkan hal menyenangkan di benaknya.
Kalau soal anak memang Rahadyan tidak tahu, tapi kalau soal mendekati perempuan, termasuk perempuan judes-judes kucing macam Kalista, ya Rahadyan berpengalaman.
Tawa Rahadyan memenuhi ruangan itu dan tak peduli pada sekitaran.
Tapi Bu Direktur yang menyaksikan Rahadyan langsung bergidik jijik.
Orang yang dikenal sebagai lajang incaran banyak wanita elitis ini benar-benar terlihat menjijikan sekarang saat dia tertawa. Bu Direktur mau tak mau kasihan pada Kalista.
Mungkin sebentar lagi dia harus menghadapi orang gila.
Maafin Ibu, Kalista. Bu Direktur meminta maaf secara internal pada muridnya itu. Kalo enggak dikasih tau, dia bakal lama di sini. Saya enggak mau.
Yah, seenggaknya dia bapak kamu, jadi kamu tahan-tahan jijiknya.
__ADS_1
*
selalu tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author, yah 😊