
Kalista menyuruh Agas buat siap-siap menemaninya ke Bioskop, jadi Kalista pun bisa mencari Rahadyan untuk izin keluar.
Kesana-kemari Kalista cari, ternyata dia malah sedang bersama sepupu Kalista, anak bayinya Raynar.
Nama dia Kalista lupa siapa.
"Om." Kalista memanggilnya malas-malasan sebab tidak ada Agas juga yang jadi alasannya pencitraan. "Saya mau keluar, mau ke Bioskop sama Agas."
Rahadyan tersentak kaget tiba-tiba diajak bicara. Tapi baru saja ingin berkata, "Kamu—"
Kalista sudah memotong, "Saya bukan mau izin sama Om, tapi biar Om enggak nyusahin."
"Kalista—"
"Denger yah, Om, saya mau pacaran jadi jangan ganggu-ganggu. Om keliatannya kurang kerjaan banget jadi saya udah kasih peringatan."
Di otak Rahadyan sekarang ... haruskah ia ledakkan saja Agas bersama Sergio?
Tapi sekali lagi, Rahadyan percaya uang satu miliar tidak akan bohong, jadi Rahadyan pun mengangguk.
"Yaudah, hati-hati. Uang jajannya—"
"Nanti saya ambil di kamar Om, bye."
Bocah liar ini. Rahadyan cuma bisa geleng-geleng sebelum menatap keponakannya.
"Andai kakakmu masih sebesar kamu, Nak." Rahadyan mendadak meratapi kenyataan anak itu besar tanpanya.
Ia sangat ingin menggendong Kalista yang bayi, bukan bocah liar semacam itu yang tahunya cuma melotot.
__ADS_1
Hadeh.
*
Lalu apakah Rahadyan meninggalkan mereka begitu saja?
Oh tentu saja tidak.
Memang benar Rahadyan percaya pada uang satu miliar yang ia bayar demi Agas, tapi seperti kata Kalista, Rahadyan sekarang kurang kerjaan.
Ia dilarang bekerja oleh Mama dan Papa karena harus memperbaiki hubungan dengan Kalista, jadi mau bagaimana lagi.
Rahadyan akhirnya diam-diam mengikuti Kalista dan Agas, untuk memastikan apakah benar uang semiliar tidak berbohong atau justru pendusta.
Yang Rahadyan tidak tahu adalah Sergio juga diam-diam mengikuti.
Di tangan Sergio ada kamera dan dia memakai masker serta kacamata hingga membuatnya jadi stalker sungguhan sekarang.
Sementara itu Rahadyan sedang menahan jengkel di dadanya karena Kalista sibuk menggandeng Agas.
Dasar anak nakal. Kemarin Sergio sekarang Agas. Makanya Rahadyan bilang pada Al pengawalnya harus perempuan.
Kalau ada apa-apa pada Kalista, akan Rahadyan buat Narendra itu membayarnya berkali-kali lipat.
Lalu Kalista, yang tidak tahu-menahu soal Sergio apalagi Rahadyan tetap saja sibuk mengagumi Agas.
Tangannya nyaman banget dipeluk, pekik Kalista dalam hati. Mengeratkan pelukan ke lengan Agas.
Sumpah deh, lengannya tuh jenis lengan yang semua cewek pasti suka.
__ADS_1
Besarnya pas, kokoh, berotot tapi juga kelihatan mulus dan tidak burik.
"Nona ingin camilan sebelum masuk?"
"Mau." Kalista cuma mengangguk karena tatapan lembut Agas. "Yang manis kayak Kakak."
Agas tertawa kecil. "Nona ternyata sangat perayu. Tapi baiklah."
Ugh, aksen dia yang formal itu pun menggemaskan di dengar bagi Kalista. Aneh tapi beda dan khas dia sendiri.
"Kakak mau juga?"
"Saya cukup melihat senyum menggemaskan Nona."
"Kakak juga jago gombal!"
Agas tertawa lagi, tak sedikitpun minta lengannya dilepaskan oleh Kalista saat pergi memesan minuman dan popcorn.
Dalam hati Agas sedikit menimbang-nimbang apakah ia beritahu Kalista soal dua orang kepo di belakang mereka, atau justru diam saja.
Kenapa sebenarnya mereka berdua? Padahal Agas juga tidak punya niat membalas rasa suka Kalista yang kekanakan.
Bagi Agas, Kalista tak lebih dari kliennya. Mereka akan berpisah entah sebulan dua bulan kemudian. Jadi kenapa dua orang yang bucin pada Kalista itu malah panik sendiri?
"Mari, Nona."
Sebaiknya Agas diam. Tidak ada gunanya juga diberitahu.
*
__ADS_1
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊