
"Kamu udah mastiin Kalista di mana?"
Rahadyan menoleh pada wanita di sampingnya. "Agas udah ngasih tau saya. Dia di apartemen deket pelabuhan."
Bu Direktur mengangguk. "Seenggaknya kalo sama Agas, dia enggak bakal kenapa-napa."
Ya, setidaknya itu bisa cukup dipercaya. Walau Rahadyan khawatir, ia tak punya pilihan kecuali membiarkannya sebab Kalista pergi juga karena Rahadyan bicara begitu.
"Ngomong-ngomong, gimana sama ulang tahun Kalista?"
Rahadyan tersentak. Langsung mengalihkan pandangan. "Enggak tau."
Ekspresi Bu Direktur langsung penuh cibiran. "Hah, kamu nih kenapa kadang-kadang kayak enggak bisa mikir? Jelas ulang tahunnya enggak bisa batal kalo undangannya udah kamu sebar ke mana-mana."
Ugh. Kenyataan yang sulit dibantah.
"Masih ada waktu. Gimana kalau besok kamu ketemu Kalista, bujukin dia pulang?"
"Emangnya dia mau?" balas Rahadyan hopeless. "Bu, Kalista tuh anaknya keras kepala. Dia tuh enggak bakal bilang iya kalo udah bilang enggak. Gengsinya tinggi, terus enggak mau jujur sebentar aja. Mana mungkin bisa bujukin dia pulang padahal ulang tahunnya dua hari lagi."
"Saya kan pernah bilang sama kamu kalo Kalista itu perempuan. Masa bujukin perempuan marah kamu enggak bisa?"
__ADS_1
"Bukan enggak bisa!" bantah Rahadyan cepat, merasa harga dirinya sebagai gentlemen terusik. "Bu, ujung-ujungnya Kalista tuh anak saya. Sikap dia ke saya, sikap saya ke dia ya enggak mungkin sama kayak saya deketin cewek galak."
Wajah Bu Direktur langsung berubah dingin. "Heee, jadi maksudnya kamu kalo bujukin cewek marah itu harus pake rangsangan sxxksual? Heeee, gitu yah."
Rahadyan terserang kenyataan telak. Cih, dasar perempuan peka. Lagian memangnya Rahadyan mesti bagaimana?!
Rahadyan punya harta, punya tampang, punya bodi pula. Sebenarnya dengan tiga hal itu, perempuan sudah antri mau bersamanya. Jadi Rahadyan tidak terlalu banyak menggunakan skill-skill seperti bacotan maut.
Paling kalau ada perempuan ngambek tapi Rahadyan mau padanya, ya ia goda dengan sentuhan haram. Soalnya itu yang paling efektif. Dan bacotan Rahadyan sudah digantikan oleh muka dan dompetnya.
"Rahadyan." Bu Direktur menghela napas. "Perempuan tuh enggak kayak kamu, laki-laki, yang kalo ngerasa A ya nunjukinnya A."
"Maksudnya perempuan tuh ngerepotin, Bu?" Rahadyan spontan menimpali, lalu menyesal.
Tidak, tidak, tidak. Bahkan kalau Rahadyan berpikir dia akan jadi Mama yang baik, Bu Direktur jelas tidak mau. Lagipula, Rahadyan sudah mengajak orang lain menikah dan ia sudah bilang tidak mau teralihkan pada urusan romansa dulu.
Anak dulu, anak dulu!
"Iya, perempuan itu ngerepotin."
Eh?
__ADS_1
"Buat laki-laki, emang perempuan itu ngerepotin," jelas Bu Direktur seperti menjelaskan alasan kenapa bumi ini bulat dan kenapa matahari terbit lalu terbenam. "Karena beda dari laki-laki yang punya hormon testosteron tinggi, perempuan itu punya hormon estrogen tinggi. Testosteron itu hormon yang enggak mau ribet, sementara estrogen itu hormon yang hati-hati, pelan-pelan, lembut, sensitif. Makanya ngerepotin."
".... Gitu yah, Bu." Rahadyan jadi canggung.
"Bukan gitu yah, Bu."
Bu Direktur berdecak seolah dia berkata Rahadyan sangatlah bodoh.
"Maksud saya, karena kamu laki-laki terus anak kamu perempuan, ya emang menurut kamu dia ngerepotin. Dia enggak terus terang, sensitif, ngomongnya berbelit-belit. Kamu mungkin bisa bilang kamu sayang sama anak kamu, kamu cinta sama dia, kamu pengen ngasih segalanya buat dia—tapi Kalista enggak bisa. Buat nerima kamu itu proses di otaknya panjang karena emang dia punya hormon drama."
"...."
"Muka kamu kayak bilang 'terus kenapa?'."
Rahadyan menggaruk kepalanya meski tak gatal. "Ibu juga ngomongnya berbelit-belit."
"Karena saya juga perempuan."
Balasan Bu Direktur membuat Rahadyan tahu ia cuma harus tutup mulut, patuh mendengarkan.
"Maksud saya, ada kemungkinan penolakan Kalista ke kamu itu cuma drama yang dibikin sama hormonnya dia itu. Jadi kalo dia bilang 'benci' sama kamu, enggak mau sama kamu, dia masih bisa plin-plan. Jadi stop baperan sama omongan anak kamu yang masih pubertas."
__ADS_1
Tiada ampun. Bagaimana bisa Rahadyan mau menambah lagi daftar perempuan-mirip-Mama dalam hidupnya?
*