My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
67. Om Mending Nikah


__ADS_3

Kalista sebenarnya kadang memikirkan itu. Kenapa Raynar sudah menikah bahkan sudah punya anak, tapi Rahadyan sebagai anak pertama malah belum menikah?


Padahal selisih umurnya Rahadyan dan Raynar itu tidak sedekat satu dua tahun. Bahkan kelihatan jelas kalau mereka bersebelahan, Raynar itu lebih muda dan Rahadyan yang kakak.


Kenapa orang ini malah tidak punya istri?


Walaupun mungkin bagus juga karena Kalista tidak mau punya Mama tiri. Katanya Mama tiri itu galak dan cuma peduli pada dirinya sendiri juga anak kandungnya.


"Om?"


Kalista menatap pria yang merupakan ayah kandungnya itu dengan sorot mata intimidatif. Soalnya dia malah sibuk pura-pura batuk.


Karena dipandang jutek oleh Kalista, Rahadyan berusaha menjawab, "Belum mau aja."


"Basi." Kalista langsung menjawab pedas. "Kata Mama, cowok itu pada mau cepet nikah tapi takut ekonominya enggak stabil. Tapi Om duitnya banyak, enggak kerja juga Om uangnya ngalir, terus Om juga punya tampang, terus Om juga anak pertama, terus Om juga keliatannya udah sering sama perempuan. Biasanya sih yang begitu kemungkinannya cuma dua. Kalo enggak sebangsa sama pelangi ya berarti impoten."


Rahadyan batuk-batuk keras. Dan kayaknya dia tersedak betulan, bukan batuk palsu.


Bagaimanapun juga Rahadyan merasa canggung anaknya bicara soal begituan terlalu blak-blakan. Tidak menjurus ke omongan jorok, ya tetap saja biasanya orang canggung.


Walau kemudian Rahadyan ingat kalau anak ini tumbuh dengan melihat ibunya menjual tubuh ke banyak laki-laki brengsekk.


"Jadi," Rahadyan berusaha menjawab lebih jelas biar dia puas, "saya—maksudnya, Papa ngerasa kalo hidup Papa selama ini belum bener."

__ADS_1


"Telat amat sadarnya."


Sabar. "Iya, Papa minta maaf. Makanya Papa belum berani punya hubungan serius sama perempuan."


"Tapi Om kan cowok."


".... Dan?"


"Katanya cowok udah begituan enggak mungkin bisa puasa lebih dari seminggu."


Kalista cuma berucap datar meskipun Rahadyan berulang kali batuk.


Malah, Kalista asik mengusap-usap kepala botak Rahil.


Rahadyan rasanya mau batuk sampai memuntahkan jantungnya. "Kalista, kamu belajar gitu dari mana—"


"Dari psikolog."


Sulit membantah kalau sudah bawa ahlinya.


"Hipotalamus laki-laki sama perempuan katanya beda, jadi kebutuhan mereka sama makanan, tidur, plus hubungan seksuall juga beda. Buat Om yang jelas udah ngerasain dari dulu, tapi sampe sekarang masih belum punya istri, ya berarti Om masih jajan atau ....."


Oke, mereka melantur. Rahadyan berhenti batuk dan berusaha keras buat tidak menanggapi lagi.

__ADS_1


Sumpah demi apa pun bahkan jika ini bukan pembicaraan tabu, Rahadyan belum siap memberitahu anaknya mengenai hal-hal berbau itu.


Ngobrol soal makanan kesukaan saja belom!


"Tadi kamu mau ngomong apa sama Papa?"


Benar. Tadi dia bilang mau bicara sesuatu, kan? Ayo berhenti bicarakan ini dan itu, fokus pada apa yang mungkin mau dia minta lagi.


"Om mending nikah aja."


Kenapa masih dibicarakan?!


"Kalista, tadi kamu mau—"


"Aku enggak mau punya orang tua yang ngasih contoh buruk."


Kalista tidak menatap Rahadyan, tapi menatap tembok sambil memeluk Rahil yang mengunyah rambut Kalista di mulutnya.


"Aku udah tiap hari ngeliat Mama jual diri buat makan. Om mending nikah aja daripada Om ujung-ujungnya pake cewek bayaran juga, padahal Om bisa nikah."


Rahadyan menelan ludah.


*

__ADS_1


__ADS_2