My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
57. Dijemput Om-Om


__ADS_3

Walaupun kemarin Kalista sempat mendapat siraman air suci dari tunangannya Sergio, hari ini Kalista tidak diganggu oleh siapa-siapa.


Itu karena tidak seperti kemarin, Agas benar-benar memastikan semua hal di sekitar Kalista itu berjalan aman. Dia bilang Opa Setomo memintanya dengan tegas agar Kalista tidak diusik.


Jadilah Kalista meninggalkan gedung sekolah begitu santai. Di tangannya terdapat cup es krim dari kafetaria sekolah, yang setelah Kalista coba rasanya luar biasa enak.


"Nona, sepertinya Sergio belum terlihat di mana-mana."


Agas melapor setelah mengecek seluruh wajah di sekitar mereka, yang kebanyakan melirik Kalista.


"Bagaimana kalau meninggalkan dia saja?"


Kalista mengerutkan kening saat merasa ide Agas itu sangat bagus untuk dicoba.


Tapi memikirkan teriakan Sergio karena dia ditinggal pulang juga sangat merepotkan.


Hadeh.


"Aku telfon—"


Ucapan Kalista tidak selesai sebab kemunculan mobil sport bersuara mencolok.


Mobil itu berwarna merah sama seperti mobil yang Rahadyan suruh untuk Kalista pakai ke sekolah, tapi bentuknya juga terlihat lebih mewah dan megah.


Itu bukan jenis mobil yang bisa dimiliki semua orang, termasuk mereka yang disebut kaya di sini.

__ADS_1


Semua laki-laki di sekitar mereka bahkan menoleh melihat kecantikan mobil itu. Tapi Kalista lebih terbelalak pada fakta bahwa Rahadyan yang mengemudikannya, lengkap bersama kacamata hitam di atas pangkal hidungnya.


Rahang Kalista rasanya jatuh ke bawah.


Seolah tindakan dia itu bukan apa-apa, Rahadyan menurunkan kacamatanya. Lalu turun dari mobil bak seorang selebriti dunia, berputar ke arah Kalista.


"Kamu pulang sama saya."


Apa? Apa yang orang sinting ini katakan?


"Saya mau ngajak kamu ngobrol sebentar, berdua aja, jadi Agas sama Sergio pulang sendiri aja."


Rahadyan membuka pintu di sisi lain kemudi, satu-satunya kursi lain selain kursi dia duduk tadi. "Masuk."


Entah karena cengo atau karena terlalu tidak percaya bahwa orang gila bisa bertambah gila seiring berjalannya hari, Kalista tanpa sadar benar-benar duduk di kursi itu.


Kalista cuma terus termenung, tidak paham dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang.


Serius, ini ada apa sebenarnya?


"Kamu pake ini."


Di sisi lain, Rahadyan santai saja mengulurkan kacamata kepada Kalista.


Dia harus memakai itu karena angin yang menerpa mereka akan membuat mata perih, tapi itu juga terlihat sangat bergaya seakan-akan dia tengah di film.

__ADS_1


Rahadyan diam-diam tersenyum lebar. Setelah beberapa waktu mengenal Kalista, jelas Rahadyan juga sudah mulai paham bahwa anak ini sangat suka pamer.


Dia sangat suka jadi pusat perhatian, makanya Rahadyan yakin Kalista senang dijemput secara mencolok begini.


Perempuan kan memang suka terlihat sangat berharga.


"Udah siap?"


Meskipun Kalista masih diam kosong setelah memakai kacamata, Rahadyan menginjak gas mobilnya dan membawa Kalista pergi diikuti tatapan seluruh siswa.


*


Kalista diam selama mobil berjalan. Kalista pun masih diam ketika mobil berhenti di sebuah vila besar mewah, yang sepertinya sudah berlokasi di luar kota.


Kalista diam ketika duduk di meja dan pelayan menghidangkan makanan untuk mereka. Kalista pun masih saja diam ketika tangannya memegang garpu dan pisau.


Lalu ....


"Ini apa?" tanya Kalista setelah mengumpulkan semua kesadarannya yang menyebar ke seluruh alam semesta, saking terkejutnya. "Maksudnya apa?"


"Hm? Makan. Apalagi?" balas Rahadyan santai.


Tapi Kalista tidak bisa bersantai.


Maksudnya ... Rahadyan menjemput Kalista cuma buat ini?!

__ADS_1


Buat omong kosong ini?!


*


__ADS_2