
"Anyway, Kalista, kamu masih ada waktu sebentar? Kita ngobrol-ngobrol sambil makan gelato, kalau kamu mau."
Setelah menghabiskan waktu makan bersama dengan Bu Direktur, Kalista sudah tahu bahwa wanita ini sedikitpun tidak peduli kalau Kalista bolos sekolah.
Mungkin bolos sendiri itu tidak menjadi sebuah keharaman di sekolahnya jadi sekali dua kali dilakukan tidak akan berpengaruh apa-apa.
Makanya tidak ada alasan buat Kalista tidak menyetujui. "Oke, Bu."
Bu Direktur berjalan di sisinya menenteng tas menuju tempat mereka bisa mendapatkan gelato. Biarpun Kalista bawa kartu hitam, Bu Direktur yang membayarkan es krimnya bahkan untuk Agas.
Begitu mereka duduk di salah satu kursi kosong, Bu Direktur mulai membuka percakapan.
"Saya perhatiin sejak kamu pindah, sampe sekarang kamu belum punya temen sama sekali."
Kalista menyendok es krimnya penuh rasa senang dan cuma menjawab sambil lalu. "Punya temen enggak seru, Bu."
"Hm? Kenapa?"
"Soalnya perempuan itu lebih cocok jadi setan."
Bu Direktur tersentak kecil, memandangi Kalista dengan ekspresi bingung mau tertawa atau menatap dia gila. ".... Kok gitu?"
"Ya soalnya bego aja." Kalista mengangkat bahu. "Perempuan tuh temenan tapi suka juga ngomongin aib temennya di belakang. Taikucing kalo bilang mereka tulus padahal suka ngetawain di belakang."
"Terus, perempuan tuh juga egois. Kalo denger masalah temennya, dia sok-sok nasehatin yang bener padahal kalo dia yang ngalamin, dinasehatin enggak mau. Terus, sok pinter. Sok ngerasa bener terus. Sok paling teraniaya."
__ADS_1
"Terus, hobinya cuma playing victim. Terus apa-apa dipermasalahin. Terus juga, suka ikut campur urusan orang. Temenan sama perempuan itu bikin sakit mental, Bu."
Serasa ada kancing nyangkut di tenggorokan Bu Direktur. Baru kali ini ia mendengar penuh kepolosan dari mulut perempuan aib-aib perempuan itu sendiri.
Ada yang benar sih dari perkataan Kalista.
"Tapi bahkan kalo kayak gitu, bukannya masih ada satu dua yang agak lebih baik? Paling enggak, dia juga nganggep kamu temen kalo kamu udah jadi temennya."
"Perempuan tuh enggak bisa dipercaya, Bu, biarpun mukanya tuh muka-muka korban." Kalista mengangkat bahu acuh tak acuh. "Makanya saya mending enggak usah percaya aja. Lagian, saya banyak aib, jadi mending enggak usah punya temen."
Logikanya lucu sekali. Bu Direktur jadi tertawa mendengarnya. "Gitu, yah."
Kalista yang memang sangat jujur dan apa adanya tidak terlalu memerhatikan maksud Bu Direktur. Nafsunya sedang fokus pada gelato berbagai rasa di gelas. Bahkan, Kalista sedang berpikir mau tambah rasa apa lagi nanti.
"Kalo Papa kamu?"
"Dia termasuk temen kamu, atau cuma sekadar 'Papa' buat kamu?"
"Dia bukan Papa buat saya, Bu. Tapi Ibu jangan tanya kenapa yah, capek jelasinnya."
Jujur sekali anak ini, ya Tuhan. Bu Direktur geleng-geleng sambil tertawa geli. "Kayaknya saya bisa bayangin kenapa. Soal Mama kamu, kan?"
"Intinya itu, Bu."
"Tapi bukannya orang tua itu sebenernya bisa jadi temen—enggak, sahabat terbaik buat anaknya?"
__ADS_1
Kalista termenung sesaat. "Kalo Mama, iya."
"Itu kan karena kamu udah sama Mama kamu dari lama."
"Makanya, Bu, si Om enggak bisa dipercaya."
"Ohya? Yang saya tau enggak gitu."
"Yang Ibu tau?"
"Papa kamu suka gangguin saya soalnya." Bu Direktur menghela napas seolah-olah menjadi lelah hanya dengan mengingat Rahadyan. "Dia selalu dateng ke saya kayak anak kecil yang habis ngerusakin pot kesayangan mamanya. Kalo kamu marah sama dia, kalo kamu playing victim buat ngusilin dia, Papa kamu tuh curhat terus sama saya."
Kalista mengerjap kaget. "Ibu deket sama si Om?"
"Sama sekali enggak. Dia cuma suka gangguin saya. Katanya karena saya ngawasin kamu di sekolah sebagai wali, terus katanya karena saya guru—Direktur Sekolah, makanya saya pasti lebih tau soal anak. Dia suka ngerengek bilang dia mau deket sama Kalista, tapi Kalista enggak mau deket sama dia. Kasian banget nasibnya, yah?"
Nada Bu Direktur terkesan bercanda, tapi apa yang dia katakan membuat sesuatu di dada Kalista ngilu.
Buat apa Rahadyan melakukan itu? Buat apa dia repot-repot merasa sedih karena Kalista tidak mau dekat dengannya?
Kalista tidak mengerti. Dia baru bertemu Kalista jadi seharusnya Kalista itu orang asing, sebagaimana Kalista menganggap dia begitu.
Sementara itu, Agas tanpa diketahui menatap Bu Direktur. Agas sedikit tidak mengerti kenapa ... Bu Direktur repot-repot mengatakan itu cuma buat memancing Kalista iba pada Rahadyan.
Apa untungnya?
__ADS_1
*