My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
94. Cara Mengalihkan Perasaan


__ADS_3

"Om, Kalista lari. Dia nangis."


Rahadyan berdiri di tepi pantai di Madrid saat perkataan Sergio masuk ke telinganya. Pria itu mengerutkan kening, langsung merasakan jantungnya tertusuk.


Tapi, Rahadyan hanya berkata, "Kamu temenin dia dulu."


Ucapan serius itu tak Rahadyan ucapkan agar dapat balasan, jadi segera ia mematikan panggilan. Panggilan langsung Rahadyan alihkan pada Agas yang bertanggung jawab.


"Agas."


"Anda tahu saya tidak sedang berusaha melukai Nona. Saya menuruti perintah Anda." Agas berucap tanpa emosi. "Anda meminta saya mengalihkan perasaan Nona, maka ini cara saya."


Rahadyan bisa mengerti itu. Sebenarnya ia mengerti makanya ia bermain sesuai rencana Agas.


Anak ini, dia berusaha membuat Kalista menyadari alasan kenapa Kalista menyukainya. Sekaligus memaksa Kalista buat menyadari betapa sendirian Kalista sekarang.


Dia berusaha menciptakan situasi di mana Kalista kesepian lalu Rahadyan ada untuknya.


Tapi yang menyedihkan adalah fakta bahwa Agas menyerang bagian telak tanpa ampun.


"Saya menyadarinya semakin dan semakin saya bersama Nona selama ini." Itu yang Agas ucapkan kemarin-kemarin. "Nona tidak akan bertahan jika saya menghilang, sebab Nona tahu setelah itu dia akan kesepian."

__ADS_1


Agas mau meninggalkan Kalista setelah Kalista menerima Rahadyan agar nanti Kalista tak perlu terlalu kesepian. Dan, Kalista pasti akan pelan-pelan membuka diri nanti jika dia sudah bisa menerima Rahadyan.


Namun tetap saja cara ini benar-benar menyesakkan.


"Menakuti seseorang dengan rasa takutnya adalah cara terbaik membuat mereka menyadari kelemahan dan kebutuhan mereka. Jadi saya rasa tidak ada yang salah dengan ini."


Ya, setidaknya ini membuktikan bahwa Agas bukanlah pria yang peduli pada tangisan Kalista. Dengan kata lain dia tidak menyukainya secara romantis.


Rahadyan memutuskan panggilan setelah merasa sedikit waras. Tapi ketika ia memandang keramaian pantai, perasaannya kembali buruk.


Apa baik-baik saja Rahadyan membiarkan ini? Menekan anaknya dengan pergi, membuat dia lemah dengan berbohong, semata agar dia sedikit butuh pada Rahadyan.


Apa cara ini sudah benar?


Ia rindu.


Ia luar biasa rindu.


Ia merindukan wajah anaknya secara langsung.


Satu bulan begitu lama. Ini bahkan belum setengahnya tapi Rahadyan harus terus bersabar.

__ADS_1


"Maafin Papa." Rahadyan menghela napas. Berusaha buat menenangkan diri karena ia tahu manusia satu miliar bernama Agas itu akan memastikan Kalista baik-baik saja.


Pasti.


Ketika Rahadyan berbalik untuk kembali ke meja, berbincang dengan rekannya, tiba-tiba sebuah ingatan buruk terlintas.


Hari di mana ia melihat Kalista menangisi kematian Sukma Dewi. Lalu malam-malam di mana Rahadyan mendengar anaknya terisak-isak merindukan ibunya.


"Ini anak Bapak." Rahadyan mendadak memutar kembali ingatan ketika Sukma Dewi datang padanya. "Saya bakal buktiin ini anak Bapak. Jadi tolong, tolong, Pak, gantiin saya jagain dia."


Sukma Dewi hari itu menundukkan kepalanya. Menundukkan harga dirinya. Mengakui betapa kotor dan tercela dia sebagai manusia, sebagai wanita, tapi dia berharap anaknya diberi tempat.


"Waktu saya mungkin cuma beberapa hari. Saya enggak tau kapan saya mati. Saya cuma mau Bapak ngerawat anak saya. Anak Bapak."


Rahadyan masih merasakan tubuhnya merinding oleh rasa bersalah.


"Dia anak baik. Dia pinter dan enggak sedikitpun mirip sama saya. Tuhan udah enggak ngasih saya kesempatan sama anak saya, jadi tolong, bahagiain dia."


Apa Rahadyan ... sudah memberi kebahagiaan pada anaknya selama ini?


Kenapa Rahadyan merasa ia sama sekali belum memberikan hal itu?

__ADS_1


*


__ADS_2