My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
59. Aku Enggak Mau


__ADS_3

Ya, Rahadyan sudah tahu kenapa. Mudah memikirkannya.


Wanita itu tahu bahwa dia akan ditolak.


Sebenarnya, Rahadyan sudah coba mencari tahu tentang siapa itu Sukma Dewi di masa lalu. Tapi informasinya juga tidak banyak karena dia hanya orang biasa, dari keluarga yang juga biasa-biasa saja.


Usia Sukma Dewi tiga tahun lebih tua dari Rahadyan—itu agak mengejutkan Rahadyan sebenarnya, tapi masuk akal sebab Rahadyan pecinta wanita dewasa (tante-tante) sejak dulu.


Lalu, saat hamil Kalista, ternyata Sukma Dewi meninggalkan keluarganya sendiri tanpa diminta, karena dia merasa dia juga tidak akan diterima.


Dia sempat berjuang menjadi pekerja baik-baik di warteg pinggir jalanan, tapi beberapa tahun setelah Kalista besar, dia akhirnya menjadi wanita bayaran.


"Om kenapa diem?" Kalista menyentak Rahadyan dari lamunan dengan pertanyaan tajam.


Tapi Rahadyan kembali termenung melihat wajah Kalista.


Jujur saja, kalau Rahadyan berpikir lagi, mungkin dulu ia tidak mau bertanggung jawab. Karena dulu Rahadyan adalah manusia bobrok yang menyukai kebebasan dan mau menjelajahi dunia atas keinginannya sendiri.


Alasan Mama sering marah pada Rahadyan ya karena Rahadyan sering membuatnya marah dulu.


Mana mungkin Rahadyan dulu mau menikahi wanita asal yang belum jelas juga dia benar hamil anak Rahadyan atau orang lain.


"Yah, Papa tau." Rahadyan bergumam apa adanya. "Tapi mungkin ada yang Mamamu omongin ke kamu?"

__ADS_1


".... Enggak ada." Kalista menjawab seolah sedang memikirkan sesuatu yang lain. "Aku enggak suka ngomongin sesuatu yang enggak ada."


Tidak ada. Itu pasti keberadaan Rahadyan di masa lalu dalam hidup Kalista.


"Gitu, yah." Rahadyan tidak memaksa kalau anak ini dari dulu sudah menolaknya. "Tapi ...."


Rahadyan menatap wajah Kalista sekali lagi yang kini fokus menatap makanan tanpa menyentuhnya sama sekali.


"Tapi Papa sekarang di sini."


Setidaknya itu jujur. Itu sesuatu yang mau Rahadyan katakan walau sebenarnya ia ragu Kalista bakal berteriak mengatakan bodo amat.


"Papa di depan kamu." Rahadyan bermodal nekat saja, mengucapkan kalimat 'romantis' dari lubuk hatinya. "Kalista, Papa bakal—"


"Aku enggak mau."


Anak itu terlihat sangat emosional saat dia bergumam, menghentikan ucapan Rahadyan.


"Tapi aku enggak mau," ulang dia lebih jelas. "Aku enggak mau manggil Om papa. Aku enggak mau nerima Om jadi Papa."


Rahadyan jelas sudah memperkirakan ada penolakan semacam ini. Maka ia tidak terlalu panik, tapi berhati-hati menanyakan.


"Kenapa?" Sebelum dia menjawab, Rahadyan meneruskan pertanyaan. "Karena Papa enggak nemenin kamu dari awal? Karena menurut kamu Papa enggak pernah ada?"

__ADS_1


Kalau itu alasannya, Rahadyan sudah tahu. Makanya ia mau berusaha keras, bahkan melampui usaha keras untuk membuat Kalista mencintainya.


Mimpi Rahadyan sekarang adalah mendengar anaknya benar-benar berkata 'Papa' tanpa paksaan. Tanpa kebohongan ataupun akting semata.


Rahadyan mau melihat putrinya tertawa ceria di depannya dan tulus menatap Rahadyan sebagai Papa.


Bahkan kalau Rahadyan mesti berjuang melampui perjuangan pahlawan perang, ia bakal melakukannya.


Demi putrinya.


Putri tersayangnya.


"Kamu marah sama Papa? Kamu kecewa sama Papa? Kalo kamu mau teriak, Papa enggak keberatan. Itu justru—"


"Enggak." Kalista lagi-lagi memotongnya.


Tapi kali ini dia menatap Rahadyan tanpa ekspresi sama sekali.


"Bukan," ucap dia dingin. "Aku enggak marah. Enggak kecewa juga."


Bohong. Matanya mengatakan dia marah dan kecewa, walau ada berbagai emosi selain itu juga.


"Kalista—"

__ADS_1


"Aku cuma enggak mau." Kalista meletakkan peralatan makanya lalu beranjak. "Aku udah bilang sama Om. Aku enggak peduli Om siapa. Aku ke sini cuma buat morotin uang Om aja. Enggak lebih."


*


__ADS_2