
Cih. Orang Cupu ini diluar dugaan pintar juga. Pantas saja dia disuruh mengajari Kalista, walau ujung-ujungnya dia yang Kalista ajari mengerjai Rahadyan.
Tapi yang lebih penting kenapa pula dia jadi macam pacar sungguhan yang cemburu?
"Lo jangan bilang udah suka sama gue?!"
"Bukan itu!" Sergio balas berteriak jengkel.
Urat-urat di keningnya muncul. Dia terlihat luar biasa sebal dan marah di saat bersamaan, dan berulang kali bergumam tak jelas. "Lo tuh, lo tuh!"
"Lo tuh apa sih?!" tukas Kalista kesal. "Ngomong yang jelas, geblek!"
Sergio malah semakin melotot.
"Lo tuh enggak tau aja gue siapa!"
"Heeee." Ekspresi Kalista langsung malas. "Apaan? Lo anak Presiden? Anak Mentri? Anak tentara? Anak polisi? Anak jin juga gue kagak peduli. Gue anak gundik aja enggak bangga."
Wajah Sergio semakin memerah. "Lo bisa-bisanya buang gue kayak tisu bekas! Gue tuh, gue tuh, gue!"
"Gue apa, sih?!"
"JELAS GUE LEBIH GANTENG DARI ITU ORANG!"
Kalista tercengang bukan karena perkataan Sergio namun karena pemuda itu tiba-tiba beranjak pergi, dengan langkah super marah, tapi tingkahnya macam wanita habis diselingkuhi pria bejad.
Omaygad. Kalista menutup mulutnya tak percaya.
__ADS_1
Ternyata anak gundik macem gue bisa bikin anak manja kayak dia bucin, cuma dalam hitungan waktu dua hari.
Jelas-jelas bocah itu sudah punya rasa. Dia tidak terima dibuang begitu saja apalagi sampai Kalista lebih suka pada Agas daripada dia.
Namun ....
"Berarti bagus, dong."
Kalista dengan sangat amat sangat tidak peduli, kembali bercermin cantik.
"Kalo orang macem dia aja suka, berarti seenggaknya Kakak Ganteng juga bisa suka, dong? Secara kan gue cantik? Iya kan, Cermin Ajaib?"
Cermin biasa yang ia sebut ajaib itu mana bisa menjawab.
Namun Kalista tidak butuh jawaban, karena lewat pantulan pun sudah bisa terlihat dirinya sangat cantik.
"Nanti kalo gue sama Kakak Ganteng nikah kan bisa langsung go away dari sini. Iya, kan?"
Kalista tersenyum bangga pada dirinya sendiri, karena berhasil menemukan jalan keluar dari sebuah masalah.
Sekarang tujuan Kalista sudah jelas.
Ia mau menikahi sang pengawal ganteng yang karismatik. Sudah jelas pula umurnya Agas masuk umur pernikahan. Membayangkan Kalista menikah lalu punya anak dari pria sesempurna itu ... hiiiih, membayangkan saja sudah bahagia.
"Nona, ini Agas."
Kalista langsung melompat ke pintu, senyum-senyum pada sang calon suami. "Hehe, Kakak udah selesai istirahat?"
__ADS_1
Pris itu juga tersenyum manis. "Nona terlihat semangat. Bagaimana dengan es krim?"
"Mau."
Di tangan Agas sudah ada es krim yang disodorkan pada Kalista. Jelas Kalista menerimanya, tapi tidak mau cuma sekadar diberi es krim.
"Kakak suka film enggak?"
"Film? Tidak terlalu, Nona. Tapi kalau Nona ingin menonton, saya bisa menemani."
"Mau!" Kalista semakin cerai tersenyum. "Temenin nonton di Bioskop, mau enggak?"
Agas mengerutkan keningnya beberapa saat. "Nona sepertinya tidak diizinkan keluar kecuali—"
"Nanti aku izin sama Papa, kok. Yah yah? Pokoknya Kakak temenin aja. Aku yang izin ke Papa, yah?"
"Saya tidak masalah dengan pilihan Nona. Selama Nona nyaman."
"Yeeeeeh!" Kalista melompat-lompat seperti anak kecil. Sangat amat ceria sebab sang pujaan hati tersenyum menatapnya.
Bahkan Kalista tak peduli pada sorot mata penuh kebencian Sergio yang diam-diam mengintipnya.
Awas saja, begitu pikir Sergio.
Bakal ia buktikan kalau si Kutil Agas itu tidak lebih hebat daripada dirinya yang punya nenek di Portugal ini.
*
__ADS_1
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊