
Ekspresi Kalista hampir mencemooh kehadiran Rahadyan sebelum tiba-tiba ia ingat kalau dirinya kemarin sedang bersandiwara.
Ohiya, benar juga. Kalista harus berpura-pura jadi gadis lemah gemulai yang teraniaya.
Tapi, Kalista memang sudah pintar akting dari lahir, jadi ekspresinya dengan cepat berubah murung. Seolah-olah ia kembali ingat soal masalah kemarin di mana dirinya menjadi 'anak yang sadar diri bahwa ia habis dipungut'.
"Om."
Kalista memasang wajah seakan seluruh masalah dunia telah ditimpakan padanya. Menatap Rahadyan dengan sangat terluka dan muram.
"Aku berisik yah, Om? Maaf, Om. Kita cuma lagi ngobrol."
Sergio tercengang lagi.
Udah gue duga! Sergio berteriak secara internal. Udah gue duga ini cewek rada lain! Mukanya cepet banget berubah, gilak!
Tadi dia tersenyum memandang Sergio seolah Sergio itu cuma mainan plastik, sekarang dia tertunduk seperti korban perang. Manusia normal pasti tidak akan bisa melakukan itu.
Dan Rahadyan yang tadinya mau memarahi Sergio juga Agas seketika bungkam. Dia tergagap.
"Ka-kamu ngapain minta maaf?"
Rahadyan panik mendekati Kalista. Menatapnya seolah-olah anak itu akan remuk oleh angin.
__ADS_1
"Papa—maksudnya, saya enggak marah kok. Bukan kamu berisik. Bukan."
"Heeeh, bohong, tuh." Raynar menyahut di belakang. "Papamu tadi komat-kamit ngomong kasar. Marah dia, Kalista."
Ekspresi Kalista semakin melas.
Membuat Rahadyan panik sekaligus beralih mau mencekik adiknya.
Dasar adik tidak berguna! Kenapa dia tidak urus saja anaknya itu alih-alih mengganggu anak orang?!
"Enggak, Kalista. Enggak. Bukan kayak gitu." Rahadyan tidak mau melihat dia menangis, berkata kalau dia anak gundik jadi seharusnya dia tahu diri.
Jantung Rahadyan rasanya berlobang mendengar itu. Perih dia melihatnya.
"Papa—saya cuma enggak sengaja liat Agas sama Sergio ngusilin kamu."
Anaknya gila, ya jelas bapaknya juga mesti gila, decak Sergio dalam hati. Merasa urusannya dengan Kalista selalu dibubarkan oleh kesintingan mereka berdua ini.
Sementara Kalista yang melihat Rahadyan mau tak mau jadi menahan kerutan jengkel.
Apa sih ini om-om? Dia yang ganggu Kalista sedang mencari tahu peluang cintanya. Dia yang seharusnya jauh-jauh!
Karena Kalista jengkel, akhirnya ia putuskan bermain lebih jauh. Padahal tadi niatnya Kalista mau lebih fokus bersekolah dan pacaran dengan Agas.
__ADS_1
"Om enggak perlu maksain diri, kok." Kalista bergumam dengan ekspresi dingin yang penuh kepahitan. "Jelas Om enggak suka ngeliat anak gundik kayak saya."
"Kalista, Nak. Udah dong, kamu kenapa ngomong gitu terus!"
Rahadyan histeris seperti ibu-ibu yang melihat anaknya terus mengucapkan kalimat berbahaya. "Udah stop. At least bilang kamu anaknya Sukma Dewi, bukan gundik. Udah."
"Sukma Dewi emang gundik."
"Kalista."
"Om enggak bisa nyembunyiin. Saya pengalaman ngeliat ekspresi orang." Kalista membuang muka penuh kesedihan. "Om pasti marah sama saya karena saya teriak-teriak sama Om kemarin."
"Kalista, please—"
"Saya cuma beban buat Om."
Kalista mulai menangis dan mulai meracaukan hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan alasan Rahadyan melotot tadi.
"Om pasti bete banget ngeliat Saya. Saya cuma anak enggak guna."
Sergio di sana meremang untuk alasan yang sulit dimengerti.
Sumpah, bisik Sergio pada dirinya. Sumpah demi apa pun, gue tau Kalista bisa bikin perang dunia pecah sama bakat aktingnya.
__ADS_1
Drama banget!
*