
Mata Rahadyan langsung melotot pada Bu Direktur di depannya. Tidak peduli dia Direktur, posisinya di sini cuma pegawai dan Rahadyan punya koneksi dengan yang memiliki sekolah.
Entah dengan Pak Mahardika atau Narendra, Rahadyan dekat dengan dua-duanya jadi siapa peduli ia melotot pada Direktur sekolah anaknya.
"Kalista disirem air di lorong terus kalian diem aja?!"
Bu Direktur memiringkan wajah. "Begitu."
"Kamu bilang apa?!"
"Kamu kayaknya terlalu overprotektif. Dengerin saya dulu sebentar."
Bu Direktur mengambil telepon di tangannya dan mulai menghubungi seseorang. Meski masih dipelototi oleh Rahadyan, wanita itu sangat santai.
"Minta OSIS sama Komdis ke ruangan saya, sekarang."
Rahadyan mendelik mendengar perkataannya. "Saya lagi enggak minta dekorasi sekolah main-main di sini!"
Buat apa juga dia memanggil OSIS Komdis itu kalau dia sendiri adalah Direktur?
"Pak Rahadyan, daftar sekolah lewat jalur biasa di sini bahkan termasuk mahal buat kamu, kan?" Bu Direktur berucap tenang. "Kamu kira ini cuma tempat buat anak-anak bisa belajar, habis itu ujian, habis itu pulang ke rumah main gadget?"
"Kenapa jadi—"
"Kamu tau kenapa CCTV di sekolah kami ada ribuan? Buat habisin dana? Jelas enggak. Itu buat ngawasin semua murid tanpa terkecuali. Jadi kalau Kalista dibully, sekolah sudah tau."
__ADS_1
"Terus ngapain kamu sekarang malah ngajak saya ngobrol sama OSIS?!"
"Karena sekolah kami beda." Bu Direktur malah tetap menjawab santai. "Di sini, Direktur sama guru-guru enggak banyak ikut campur urusan murid. Murid yang nyelesaiin masalah mereka sendiri."
Rahadyan memukul meja penuh emosi. "Terus kamu suruh Kalista sabar kalo dia dibully orang? Hah?! Gitu sekolah mahal yang kamu maksud?!"
Bu Direktur memijat pelipisnya dan malah terlihat sakit kepala karena Rahadyan.
Malah, dia melihat Rahadyan sebagai manusia bodoh yang sangat membuang-buang waktu.
Memang dasar pengangguran, decak Bu Direktur dalam hati.
"Saya ringkas aja karena kayaknya kamu kurang paham."
Bu Direktur menautkan tangan di atas meja, berbicara penuh keanggunan meski juga informal.
Artinya sekolah tidak mengambil tindakan sebab ... Kalista tidak butuh pertolongan.
*
"Nona."
Kalista mendongak pada ember yang tiba-tiba menumpahkan air ke atas kepalanya, seolah-olah itu bergerak sendiri. Jelas, Kalista diam-diam melihat tali tipis di ember itu yang menariknya agar tumpah tepat saat Kalista mau lewat.
"Kampungan," decak Kalista jengkel. Mengusap wajahnya yang basah oleh air.
__ADS_1
Paling tidak ia bersyukur karena airnya tidak bau.
"Nona membuat saya repot." Agas mendekat sambil melepaskan luaran pakaiannya untuk dipakaikan pada Kalista. "Kenapa Nona tidak menghindar?"
Jebakan itu, Kalista sudah tahu karena Agas memberitahu. Entah bagaimana Agas tahu, tapi Agas langsung mencegah Kalista agar tidak terkena jebakan.
Namun Kalista malah berjalan sendiri ke jebakan itu yang menyebabkan satu badannya terguyur air.
Kenapa?
Jelas bukan karena iseng, jawab Kalista dalam benaknya sendiri.
Entar si Om pasti tau gue dibully, jadi dia bakal tambah pusing tau anaknya ditolak sama orang.
Terus, gue juga emang mau mancing orang-orang iri. Gimana? Iri kan liat cowok ganteng bantuin anak gundik?
Satu sekolah ini, semuanya anak-anak terhormat yang masuk sekolah dengan duit berlimpah. Kalista tidak suka mereka semua sebanyak mereka tidak suka Kalista.
Kalista yakin ia bakal dimusuhi begitu memasuki wilayah ini, makanya Kalista pun sudah siap balas memusuhi.
"Kak Agas."
Agas tersenyum kecil, meraih badan Kalista untuk digendong.
Memang membuat drama di dunia orang sok kaya itu paling menyengarkan otak.
__ADS_1
*