My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
116. Akhirnya Bebas


__ADS_3

Kalista memejamkan mata mendengar kalimat yang telah lama ia tunggu.


Memang sudah Kalista perkirakan, ucapan semacam itu akan keluar.


Sikap Kalista yang sengaja dibuat menyebalkan lama-lama pasti memuakkan bagi Rahadyan. Dia pasti sudah sangat lelah dengan keberadaan anak yang tidak mau menghargainya sama sekali, jadi tentu saja Rahadyan akan mengusirnya.


"Om kira aku bakal nangis kalo Om ngomong gitu?" Kalista menuruni tangga dengan tas yang sudah ia persiapkan sejak Rahadyan berteriak. "Aku udah nunggu Om."


Kalista melempar dompet berisikan kartu-kartu yang Rahadyan berikan untuknya sejak awal.


"Nih, ambil punya Om. Makasih udah nyoba rasanya jagain anak pungut."


Setelahnya Kalista berlalu, lari keluar meninggalkan semua orang.


Awalnya Kalista pikir ia akan sendirian, tapi Agas malah terus mengikutinya.


"Kakak ngapain ngikutin aku?!"


"Saya dibayar sebulan penuh menjaga Nona. Jadi sampai masa konrrak berakhir, saya akan terus mengikuti Nona."


"Yang bayar Kakak tuh dia! Kakak ngikutin dia aja!"


"Kontrak mengatakan nama Nona, bukan nama Pak Rahadyan. Maaf, Nona, saya akan tetap ikut." Agas ikut berlari kecil saat Kalista berjuang keras berlari kencang. "Tidak perlu cemas. Saya tidak akan membujuk Nona kembali. Itu tidak tertulis dalam kontrak."


Kalista yang awalnya berlari tiba-tiba berhenti. Ekspresi yang awalnya nampak jelas marah justru mendadak berubah.

__ADS_1


Gadis itu tertawa. Tertawa sangat keras sampai orang-orang menoleh ke arahnya. Bahkan Agas sendiri tidak menyangka Kalista akan tertawa sekeras itu.


Walau kemudian Agas menyadari tawa tersebut sedikitpun bukan tawa karena kelucuan.


"Lucu." Kalista menunduk dan tawanya terhenti.


Seluruh ekspresi di wajahnya hilang.


"Orang yang aku suka cuma nganggep aku 'barang' yang dijagain sampe waktunya selesai."


"Apa Nona berharap saya merasakan lebih?"


"Kak Agas beneran enggak ada hati, ya? Tapi yaudahlah. Yaudah. Terserah!" Kalista merentangkan tangannya dan berteriak penuh semangat. "Intinya bebas! Yey!"


Agas sudah melihat tanda-tanda gangguan kejiwaan pada Kalista sejak awal, tapi melihatnya separah ini sekarang—jujur saja, Agas sendiri tidak menduga. Nampaknya kondisi ini berkembang dalam waktu singkat setelah dia bersama Rahadyan.


"Aku enggak laper," ucap Kalista kembali berjalan. "Gimana kalo sekarang kita cari apartemen? Kak Agas mau tidur di apartemen sempit, kan?"


"Saya bisa berada di mana saja, Nona."


"Yaudah, yok."


Agas akan mengawasinya sedikit lagi sebelum melaporkan pada Rahadyan.


*

__ADS_1


"Rahadyan, gimana bisa kamu ngusir anak kamu sendiri?! Kamu kira dia mau tinggal di mana enggak punya uang?!"


"Aku enggak ngusir dia!" Rahadyan membalas terlalu tinggi sampai Harini terkesiap. "Aku cuma nyuruh dia pergi kalo emang dia mau! Udahlah, Ma, diem aja! Ini urusan aku!"


Setelah mengatakan itu, Rahadyan beranjak pergi, tak mau lagi didebat oleh siapa-siapa.


Raynar mau mengejarnya sekaligus menyuruh dia untuk sadar, berteriak pada Mama juga tidak membuahkan hasil apa-apa selain dosa.


Tapi Sutomo mencegah anak bungsunya mengganggu si Sulung dulu.


"Raynar, anak kamu belum setahun keluar jadi kamu enggak paham." Sutomo menatap ke lantai atas di mana Rahadyan menghilang. "Jadi orang tua itu bukan cuma sekedar ngasih makan anakmu sama beliin dia yang dia mau."


Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh siapa pun yang punya bahkan kurang punya uang.


Tapi, pekerjaan orang tua sesungguhnya, yang saat ini sedang berusaha Rahadyan pelajari adalah hal yang tidak bisa dilakukan siapa pun kecuali mereka orang tua, ayah dan ibu.


Yaitu menerima.


Berusaha sangat keras menerima bahwa anak yang mereka sayangi itu tidak hidup seperti apa yang orang tuanya inginkan.


Anak itu akan terus tumbuh, terus berjalan di jalan yang bahkan sangat dibenci oleh orang tuanya. Dan Rahadyan cuma punya sedikit pilihan.


Membiarkan anak itu terus berjalan sekalipun ke arah yang tidak Rahadyan inginkan, ataukah berdebat dengan anaknya dan mendapat kebencian.


*

__ADS_1


__ADS_2