
"Kalista, kamu enggak pa-pa?" seruan Rahadyan dari sisi lain sana membuat Kalista langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.
Kenapa pulak orang kurang kerjaan ini menelepon Kalista sekarang?
"Papa denger dari Sergio sama Agas, katanya kamu digangguin sama mamanya Cassie?"
Hmpt, ternyata hal tidak penting. Kalista bahkan malas cuma dengan mendengar pertanyaan itu.
"Aku enggak pa-pa," balas Kalista ogah-ogahan. "Lagian Om kira aku enggak kepikiran soal itu? Dari awal tuh emang reaksi kayak gitu yang wajar. Yah, untung aja orangnya enggak aku hajar. Tapi kalo aku hajar, kayaknya Kak Cassie marah juga jadi—"
"Kalista."
Nada suara Rahadyan yang biasanya tidak terlalu serius mendadak jadi sangat serius, sampai Kalista tersentak kaget.
Ia bahkan bereaksi seolah Rahadyan membentak, padahal suara barusan begitu rendah.
"A-apaan?" Kalista sampai terbata karena Rahadyan berbicara terlalu serius.
"Papa pernah bilang kalau Papa enggak bakal ikut campur sama masalah kamu. Papa bilang terserah kamu gimana nyelesaiin masalah kamu. Papa cuma bakal ikut campur kalo kamu minta Papa ikut campur."
Apa? Dia pernah mengatakan itu?
__ADS_1
Kalista menelan ludah sebab ia tak sedang mengingat kapan Rahadyan pernah bilang. Tapi kalau dia bilang pernah berarti ... mungkin memang pernah?
"Te-terus?"
"Tapi bukannya itu egois buat Papa?"
"Hah?"
Di seberang sana, Rahadyan yang sedang duduk di sofa dekat ranjang hotelnya menutup wajah dengan satu tangan. Ada ringisan sakit di wajahnya bukan karena sebuah luka fisik, tapi karena rasa ngilu akan Kalista.
"Papa enggak boleh ikut campur urusan kamu karena kamu bisa nyelesain masalah kamu sendiri," gumam Rahadyan sendu. "Tapi Papa mau khawatir sama kamu."
Rahadyan percaya pada Kalista. Selama yang dia lawan masihlah manusia tanpa otak segenius Rahadyan atau paling tidak yang dia lawan bukan presiden, dia pasti akan baik-baik saja.
Tapi Rahadyan mau khawatir pada putrinya. Mau menunjukkan kepedulian itu pada anak tersayangnya agar dia tahu, bahwa papanya khawatir di sini.
"Papa tuh enggak nanya kamu bisa nyelesain masalahmu kayak gimana. Kamu baik-baik aja atau butuh ditolong orang. Lagian ada Agas sama kamu."
Yang Rahadyan tanyakan tuh bukan itu.
Bukan soal Kalista bakal menghajar orang yang kurang ajar atau Kalista bakal membantai habis semua musuh-musuhnua.
__ADS_1
"Kamu sedih atau enggak," bisik Rahadyan, "kamu marah atau enggak, kamu tersinggung atau enggak, kamu sakit hati atau enggak. Papa nanyain itu."
"...."
"Papa mau kamu cerita, even itu satu kalimat, biar kamu enggak ngabisin waktu semaleman marah sama bayangan di kamar."
Kalista yang mendengar itu hanya hisa membeku.
Logikanya mau membalas bahwa Rahadyan sangat kepo akan perasaan orang. Tapi, sesuatu di dada Kalista berdenyut-denyut seolah dia merespons dengan sangat keras perkataan itu.
Sedih atau tidak? Marah atau tidak? Tersinggung, sakit hati atau tidak?
Kening Kalista berkerut saat tiba-tiba matanya basah.
Tentu saja, dasar bodoh.
Kalista bilang tidak peduli orang lain mengatainya, tapi tidak peduli itu bukan berarti tidak mendengar apa-apa. Selama bisa didengar, memangnya dia pikir itu tidak akan memberi efek apa-apa?
"Hiks."
Mendadak saja, tangisan Kalista pecah tanpa kendali.
__ADS_1
*