My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
70. Konsultasi dengan Bu Winnie


__ADS_3

Sementara Kalista dan Agas berbincang di rumah karena masih akhir pekan, Rahadyan siangnya sudah duduk di salah satu meja VVIP restoran terkenal di ibu kota.


Di meja sudah tersedia lunch mahal yang harganya akan membuat lambung anak-anak kosan bergetar, tapi alih-alih full senyum, Rahadyan malah terlihat cemberut.


Meskipun cemberutnya dia tidak bisa dibandingkan dengan kusut di wajah Bu Direktur, atau yang hari ini datang sebagai Bu Winnie-Dibaca-Wi-ne.


"Terus, kamu maksa saya makan di sini cuma buat dengerin kamu curhat?"


Rahadyan berdecak. "Yaelah, Bu. Berhubungan Ibu Direktur—"


"Winnie. Saya lagi enggak pake seragam direktur."


"Oke, fine. Berhubungan Ibu Wi-ne yang manis dan luar biasa pintar ini jadi direktur sekolah semahal Asgard, ya seenggaknya Bu Wi-ne ini bantuin saya dong. Kalo saya konsultasi sama Mama saya, yang ada sayanya sakit mental, Bu. Please."


Bu Winnie menghela napas jengkel dan luar biasa malas.


Tapi sekalipun begitu, Bu Winnie tidak bisa menolak sebab yang punya sekolah, alias pemimpin Narendra saat ini sudah memberitahunya buat meladeni Rahadyan.


"Memang ada masalah serius antara Rahadyan dan anaknya, jadi tidak ada salahnya kamu membantu." Begitu ucap Al Areza Narendra. "Lagipula membuat dia senang dan merasa terbantu akan secara alami membuat Rahadyan berterima kasih pada sekolah. Itu bisnis yang menguntungkan. Tentu saja untuk kamu juga."


Bu Winne benci kenyataan itu benar. Bonusnya juga besar kalau Rahadyan mendonorkan dana yang besar pula ke sekolah anaknya.


Jadi mau tak mau, Bu Winnie meladeni dia.

__ADS_1


"Hah." Helaan napas itu tidak bisa dikontrol. "Jadi intinya sekarang masalah kamu bukan soal bullying anak kamu lagi tapi bullying anak kamu ke kamu?"


Rahadyan langsung pura-pura berdehem. "Bukan bullying. Itu berbagi pendapat."


Terserah dia. Intinya Kalista menyuruh pria bangkotan ini menikah karena Kalista tahu cuma dua hal yang Rahadyan lakukan untuk mengisi kekosongan hidupnya itu.


Kalau tidak A, berarti pasti B.


Mustahil ada opsi 'puasa'. Hah, omong kosong. Tidak ada pria normal yang bisa melakukan hal sesuci itu.


"Ya terus kamu kan tinggal nikah. Ngapain kamu nanya-nanya saya?"


Rahadyan berusaha tidak mendelik.


Kenapa sih perempuan di sekitar Rahadyan tuh tidak ada yang normal? Maksudnya, Kalista begini, Mama begitu, ini orang juga bagaimana.


Heran, decak Rahadyan sebal.


"Maksud saya, Bu, apa pemicunya dia begitu? Ya mungkin aja dia kesepian? Atau karena apa gitu, yang menurut Ibu dialamin sama perempuan seumuran Kalista?"


"Pertanyaan kamu mencerminkan kecerdasan dan kebijaksanaan sekali yah, Pak Rahadyan."


Bu Winnie mengambil sumpitnya, makan daripada semakin sebal.

__ADS_1


"Anak kamu baru nguburin Mamanya sendiri beberapa hari yang lalu, terus kamu nanya dia kesepian apa enggak? Itu serius pertanyaan?"


"Ya jawab aja iya kalo iya, Bu. Duh, ribet banget, sih."


"Mohon maaf yah, Pak. Jiwa saya sebagai guru langsung bangkit kalo berhadapan sama orang yang rada kurang dalam berpikir."


Translated : kamu bodoh makanya saya kasih tau.


Rahadyan melotot sebal.


Bu Winnie pura-pura tidak melihat hal itu dan menghela napas lagi. Sekalipun jiwa gurunya masih meronta-ronta ingin mengajari orang bodoh ini, ayo selesaikan saja dengan cepat.


"Jadi intinya, saya rasa ada bagian dari diri Kalista yang mulai tertarik sama kamu, makanya dia mulai mikirin apa yang kamu lakuin. Yah, even itu sesuatu yang sebenernya enggak perlu dia pikirin."


Rahadyan tersentak. "Ohya?"


Responsnya yang agak kekanakan itu membuat Bu Winnie mengangkat alis, tidak menyangka Rahadyan bakal setertarik ini pada kemungkinan Kalista peduli padanya.


"Iya. Dan menurut saya, walaupun kayaknya Kalista cuma iseng-iseng ngomong soal istri kamu, kemungkinan itu jujur dari hatinya dia."


"Terus, terus?"


"Tapi kalo soal masalah dia mau kamu nikah biar punya ibu tiri—kayaknya semua orang di dunia seakan-akan sepakat kalo yang namanya ibu tiri itu enggak bikin bahagia, kecuali satu dari sejuta orang."

__ADS_1


Terus Kalista maunya apa dong?


*


__ADS_2