
"Kamu serius tiap ada masalah sama anak kamu, kamu datengnya malah ke saya?" Ekspresi Bu Direktur sudah tidak bisa diatur lagi, bahkan untuk sekadar memberi wajah kalem profesional.
Dia terlihat sudah sangat muak menghadapi Rahadyan yang menurutnya sangat tidak penting.
Tapi di satu sisi, Rahadyan sama sekali tidak membuat wajah bersalah. Dia malah sudah siap dengan curhatan barunya.
"Kalista bilang dia enggak nganggep saya keluarga."
"Hah." Bu Direktur menghela napas bosan.
Meski begitu, Rahadyan tetap tidak peduli, mencurahkan apa yang membuatnya tampak sedih.
"Katanya yang bisa bikin dia ngerasa nyaman cuma Agas. Dia enggak nganggep saya atau rumah saya itu tempat dia pulang. Kita cuma orang asing."
Bu Direktur malas merespons, jadi wanita itu cuma menopamg dagu. Akan tetapi, telinganya tetap mendengar suara Rahadyan dan matanya mengawasi bagaimana wajah pria itu terlihat murung membicarakan anaknya.
"Dia pernah bilang sama saya, Bu," gumam Rahadyan gamang, "kalo dia enggak pernah minta saya jadi papanya. Dia enggak sudi punya papa kayak saya."
"...."
"Sampe sekarang saya masih enggak bisa inget siapa Sukma Dewi. Saya enggak bener-bener tau siapa dia biarpun saya udah baca semua informasi pribadinya."
".... Terus?" Bu Direktur merespons singkat.
__ADS_1
"Saya enggak tau mesti ngerasa gimana sebenernya."
Rahadyan meremas tangannya satu sama lain. Kini dia terlihat seperti murid yang lagi curhat pada guru konselingnya, tentang masalah apa yang jadi alasan dia berbuat nakal.
Bu Direktur menghela napas sejenak. Pada akhirnya tetap meladeni Rahadyan. "Kamu udah nyampein perasaan kamu ke anak kamu?"
Rahadyan mengerjap. Sudah cukup jadi jawaban kalau dia tidak melakukannya, bahkan tidak mengerti mengapa dia harus melakukannya.
"Bukannya kemarin kamu ngerti waktu saya bilang anak kamu itu cewek, jadi deketin dia kayak deketin cewek?"
".... Saya udah deketin. Tapi yah, emangnya sampe harus nembak?"
Kayaknya walaupun Rahadyan tidak tahu-menahu soal membangun hubungan antar anak dan ayah, menembak anaknya sendiri itu rada ... tidak masuk akal.
Tentu saja, pemikiran Rahadyan itu membuat Bu Direktur menghela napas semakin keras.
"Itu saya udah tau, Bu."
"Tau bukan berarti ngerti. Dengerin saya."
Rahadyan kicep. Berasa dimarahi guru sungguhan.
"Tapi, walaupun perempuan suka kode-kodean, sebenernya mereka enggak beneran paham kalo dikode balik. Ngerti? Kami itu makhluk aneh yang kalo ngode bisa, dikasih kode enggak bisa paham."
__ADS_1
".... Oh?" Terus?"
"Ujung-ujungnya buat tau perasaan orang itu perlu diomongin. Kamu enggak bisa selamanya ngode anak kamu atau cuma sampe tahap PDKT, ngebaperin terus udah jelas kamu sayang sama dia. Kalo kamu mau dia paham, mau enggak mau mesti kamu tegasin pake mulut sendiri."
"Perasaan kayaknya udah—"
"Kalo kamu ngelamar orang di mobil pas lagi macet sama kamu ngelamar perempuan di restoran mahal pake bunga, musik dan apa pun itu embel-embelnya, menurut kamu mana yang di mata perempuan lebih serius?"
Rahadyan mengerutkan kening dalam-dalam. Bukan berpikir soal jawaban, tapi seketika mengerti maksudnya apa.
Jadi begitu, yah. Rahadyan belum menyatakan perasaannya secara jelas di tempat yang serius, makanya perasaan Rahadyan pada Kalista masih terkesan tidak serius.
Tapi ....
"Saya ngerasa dia enggak butuh saya." Rahadyan mengembuskan napas sedih. "Waktu denger itu, saya ngerasa Agas jauh lebih penting buat dia."
Bukannya Rahadyan bakal rela juga sih, tapi ... ia merasa seperti Agas lebih ada gunanya di hidup Kalista dibanding Rahadyan sendiri.
Dan itu menyedihkan.
"Sayangnya Agas enggak mungkin."
Rahadyan tersentak. Langsung menatap Bu Direktur yang mengangkat bahunya santai.
__ADS_1
"Saya denger sekilas waktu Pak Narendra dateng kemarin. Katanya, Lissa Makaria udah nungguin Agas pulang ke Papua, jadi kayaknya paling lama Agas sama kamu cuma dua bulan."
*