
Kalista berulang kali mengerjapkan mata hanya untuk menyadari bahwa Agas ... sedikitpun tidak salah.
Benar juga. Tidak peduli apa tingkah Kalista sejak kemarin, mereka semua cuma diam dan membiarkannya.
Bahkan si Om Tidak Berguna, setelah Kalista membeli berbagai hal dengan uangnya, dia masih tidak pernah mengatakan pada Kalista sesuatu seperti 'dasar anak enggak tau diuntung'.
"Nona." Agas mengetuk ringan ujung hidung Kalista dan tersenyum lembut. "Mengendalikan seseorang itu mudah jika mereka menginginkan kita. Nona perlu diajari?"
Seketika itu senyum Kalista menjadi lebar.
"Berarti mau aku ngapain juga enggak ada yang bakal marah?"
"Tentu saja. Bukankah karena itu saya memanggil Nona dengan sebutan Nona?"
"Kakak bakal jagain aku?"
"Tentu saja. Karena itu saya mendampingi Nona."
"Yaudah." Kalista kembali tersenyum cerah, sekalipun wajahnya lengket oleh air mata.
Bekas-bekas tangisannya pun masih di sama, tapi Kalista langsung tertawa ceria ketika Agas menggendongnya.
Dengan sangat nyaman Kalista membaringkan pipinya di punggung Agas.
"Menurut Kakak, aku mesti ngerjain si Om Brengsek kayak gimana?"
Agas menoleh sekilas. "Nona ingin cara yang lembut atau cara yang kasar atau cara yang melelahkan atau yang menguntungkan?"
"Yang enggak bikin capek!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau Nona melakukan ini ...."
Agas memberitahukan apa yang menurutnya hal sederhana tapi akan sangat mengganggu Rahadyan, disamping itu tidak akan mengganggu posisi Kalista sebagai cucu kesayangan yang boleh berbuat semena-mena.
__ADS_1
Mendengarnya, respons pertama Kalista adalah penolakan.
"Nanti Kakak kena masalah, dong. Aku enggak mau."
"Nona, mungkin tidak terlalu terlihat karena saya dipenuhi kekurangan, tapi sebenarnya kontrak kerja saya cukup mahal."
Tapi itu terlihat, pikir Kalista sekilas.
Siapa pengawal murah yang bicaranya sangat santun, ucapan formalnya pun terdengar sangat mengalir dan santai, juga berwajah tampan dan punya badan ideal?
Jelas dia tidak murah.
"Itu cukup mahal bahkan untuk ukuran keluarga Nona yang sekarang. Jadi, sekalipun Nona melakukan seperti rencana saya, itu tidak terlalu masalah."
Benarkah?
"Persiapan perpanjangan kontrak juga sudah dibicarakan sebelumnya. Jadi selama Nona masih menyukai saya sebagai pengawal, saya rasa itu aman."
"Jangan pikirkan saya. Menggunakan alat yang Nona miliki adalah tindakan cerdas yang menurut saya luar biasa."
Kalista akhirnya setuju, karena ia mau terlihat luar biasa di mata Agas.
Setibanya di rumah, Kalista turun dari punggung Agas sebelum melewati pintu. Sejenak Kalista berdehem, mengatur ekspresinya agar murung lalu masuk dengan langkah gontai.
Untungnya semua keluarga masih di ruang televisi, seolah memang mereka menunggu Kalista.
"Kalista."
Dengan wajah semuram mungkin, Kalista datang sambil tertunduk. Kedua tangannya bertaut di depan pahanya, berhenti beberapa langkah dari sofa.
"Opa, Oma." Kakusta memanggil mereka seolah-olah ingin menangis. "Aku minta maaf."
Semua orang mendongak kaget. Tapi buru-buru Oma berdiri, menghampiri cucunya.
__ADS_1
"Kalista, Sayang. Kamu enggak salah, Nak. Papamu yang salah."
Kalista menatap Rahadyan dengan wajah melas seolah sangat bersedih.
"Om, maaf."
Rahadyan tertegun.
"Aku yang salah, aku minta maaf."
"Kalista."
"Padahal cuma anak gundik, tapi aku malah bangga-banggain diri." Kalista seolah-olah bisa menangis kapan saja. "Aku enggak tau terima kasih udah dipungut sama keluarga Om. Maaf."
"Kalista, kamu ngomong apa?!" Rahadyan meninggikan suara, risi.
Bagaimana bisa anaknya mengatakan sesuatu yang menjijikan begitu? Dipungut apanya! Memang sejak awal dia seharusnya—
"Aku bakal ngikutin semua mau Om sama Oma sama Opa." Kalista menghapus air matanya yang meleleh. "Aku enggak bakal bantah lagi. Maaf."
"Agas ngomong apa sama kamu?" Rahadyan langsung membalas murka. "Dia ngomong apa sama kamu sampe kamu mikir kayak gitu?!"
Kalista kini berjuang keras agar air matanya tidak meleleh.
Dia benar-benar seperti seseorang yang habis mendengar hinaan pilu, sampai rasanya tak bisa lagi Kalista tahan semua sakitnya.
"Kak Agas bener. Aku harusnya bersyukur."
Yah, tentu saja, itu semua dusta.
*
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊
__ADS_1