
Rahadyan heran kenapa dirinya harus membayar Agas begitu mahal cuma buat membenci dia semakin dan semakin dalam, karena Kalista malah lebih suka padanya.
Tapi, bagaimana juga Rahadyan mesti menjelaskan kalau Agas ... itu tidak bisa lama bersama Kalista.
Pengawal Narendra memiliki peraturan tegas di mana mereka tidak akan memperpanjang kontrak lebih dari tiga bulan. Agas bisa saja ada di ulang tahun Kalista nanti namun ... tiga bulan kemudian dia harus berpisah dari Agas, suka tidak suka.
Uang tidak akan bisa bicara saat itu.
Entah kenapa aku condong ke biarin dia kerja sebulan aja, batin Rahadyan sambil memandangi wajah cemberut Kalista. Yah, biarpun pasti bikin ini anak ngamuk.
"Gimana kalau gini? Papa perpanjang kontrak Agas bulan depan, gantinya kamu dateng ke pesta ulang tahun kamu."
Mulut Kalista lebih cemberut lagi. Tapi nampaknya dia cukup mengerti apa itu bernegosiasi makanya dia masih membelas, "Kontrak setahun."
Rahadyan nyaris tersedak. Dipikir kontrak setahun buat Agas itu murah? Bisa buat beli rumah, ***!
Tapi sekali lagi, Rahadyan berusaha kalem. Sebab mau Kalista menangis pun, kontrak paling lamanya Agas hanya tiga bulan.
Hanya selama itu.
"Kalista, kamu mungkin nanti enggak suka lagi sama Agas. Jadi gimana kalau tiga bulan—"
"Gak."
__ADS_1
"Dengerin Papa dulu."
"Gak."
"Kalista."
"Enggak!" Kalista melotot. "Pokoknya enggak! Intinya enggak! Enggak ya enggak!"
Mulut Rahadyan rasanya terpelintir menatap gadis ini. Hadeh, dia sangat suka mencari alasan buat ribut dengan bapaknya.
Apakah dia tidak suka ya dengan yang namanya kedamaian bersama bapak?
Tapi tenang.
Pria tampan yang baru tahu kalau manusia aneh di depannya ini adalah anaknya sendiri itu berdiri, mendekati Kalista pelan-pelan.
"Sayang." Rahadyan menyentuh punggung Kalista dan tersenyum lembut. "Dengerin Papa dulu."
"Hah?" Kalista cengo.
"Kamu boleh suka sama Agas, boleh. Enggak pa-pa. Tapi ada sesuatu soal dia yang Papa juga susah buat ikut campur."
Kalista masih mematung.
__ADS_1
"Jadi Papa cuma bisa jamin kalo bulan depan, Agas masih ada nemenin kamu." Rahadyan mengusapkan ibu jarinya ke pipi Kalista dan tersenyum lembut. "Udah, kan? Jangan marah lagi."
Mata Kalista masih kaku memandang Rahadyan. Dia tampaknya sedang bertanya-tanya siapa gerangan manusia di depannya ini yang mengatakan omong kosong menakutkan.
Tapi anehnya Kalista tidak bisa bergerak. Ia benar-benar cuma memandang Rahadyan yang tengah menatapnya sayang, sementara Kalista bingung dengan apa yang tengah ia rasakan.
Di sisi lain, Rahadyan melihat wajah Kalista itu. Melihat bagaimana perasaannya terpancar di matanya yang membuat Rahadyan tersenyum kecil.
"Papa mau ngabulin permintaan kamu enggak bikin acara ulang tahun. Justru mungkin bagus kalo Papa aja—maksudnya Papa sama Agas aja yang nemenin kamu liburan pas kamu ulang tahun. Tapi, Papa enggak mau orang jelekin kamu."
Tangan Rahadyan mengelus-elus kepala anaknya, berusaha menstransfer kasih sayangnya ke hormon kebahagiaan anak itu.
"Semua orang bilang kamu anak pelacurr. Kamu enggak harusnya ada di keluarga Papa. Mungkin kamu malah juga ngerasa kayak gitu."
Rahadyan tersenyum mengusap-usap pipi halus Kalista.
"Orang mesti tau," bisik Rahadyan, "kalo di keluarga Papa, enggak ada yang pernah ngomongin kamu aneh-aneh. Jadi harusnya mereka juga enggak punya hak ngomongin kamu. Makanya Papa mesti pamer."
"...."
"Dan," Rahadyan mencubit pipi Kalista gemas, "Papa mau orang ngeliat anak Papa yang imut ini."
*
__ADS_1