
Bu Direktur mengajak Rahadyan secara langsung menemui Kalista, sekalian untuk minta maaf mengenai oleh-oleh yang dia berikan tapi diterima secara dingin.
Rahadyan merasa jahat harus pergi tanpa memberitahu Laura, tapi untuk sekarang keberadaan Laura pasti akan mengganggu fokus Rahadyan berbaikan dengan anaknya.
Rahadyan pergi ke lokasi yang Agas beritahukan, tempat di mana Kalista katanya berada. Pikir Rahadyan, anak itu sedang menggalau tapi ternyata Kalista memang Kalista.
Waktu Rahadyan datang, dari kejauhan terlihat anaknya malah sibuk tertawa-tawa bersama Sergio, main pesawat kontrol yang entah sejak kapan dibeli.
"Anak saya kok dry bener yah, Bu?" tanya Rahadyan asal, mendadak patah hati karena Kalista tidak terlihat seperti membutuhkannya.
Bu Direktur menurunkan kacamata hitamnya. "Kamu tau teori kita berjodoh sama yang berlawanan sama kita?"
"Hah?"
"Definisi jodoh sendiri menurut saya bukan cuma pasangan. Kadang-kadang juga keluarga termasuk anak atau ibu." Bu Direktur melipat tangan. "Anak kamu itu kuat, buat ngimbangin kamu yang begini."
Rahadyan loading sesaat. Baru setelah itu dia melotot, sadar kalau Bu Direktur mengatainya lembek.
Enak saja!
"Kalista begitu karena Mama saya juga begitu, Bu! Bukan karena saya lembek!"
"Yah, terserah kamu mau terima atau enggak. Itu teori saya doang."
Rahadyan membuang wajahnya ke arah lain cuma buat mengumpat lirih. Kayaknya teori dia benar karena Rahadyan malah suka dengan perempuan macam ini. Bukankah dia dan Kalista jadi sebelas dua belas?!
"Huft." Rahadyan menoleh kembali setelah membuang napas kasar. "Terus, kita ke sana sekarang?"
"Kenapa saya? Ya kamu."
"Tapi katanya tadi mau ikut juga!" Rahadyan jadi ngegas.
Tapi Bu Direktur cuma menatapnya datar. "Satu-satu. Emang kamu kira minta maaf itu bisa spam? Udah sana. Ribet amat sih kamu."
__ADS_1
Rahadyan berusaha tidak cemberut. Berjalan meninggalkan Bu Direktur untuk mendekati anaknya yang masih sibuk bermain. Nampaknya dia dan Sergio balapan.
Mereka menabrak-nabrakkan pesawat itu di udara persis di atas permukaan air, kayaknya kurang peduli harga mainan itu mahal.
"Kayaknya seru," kata Rahadyan, memutuskan buat sok asik saja di awal. Kalau langsung minta maaf, malah kesannya jadi aneh.
Namun baru saja suara Rahadyan terdengar, Kalista tersentak. Anak itu langsung bersembunyi di balik punggung Sergio, membuat Rahadyan kena mental.
"Kalista?"
"Anjir!" Sergio mengumpat pada pesawat Kalista yang hilang kontrol dan nyemplung ke laut. "BELOM SEJAM DIPAKE, YA TUHAAAAAAN!"
Rahadyan cengo melihat Sergio menjerit histeris. Tapi Rahadyan bodo amat, berdehem saat matanya melihat Kalista.
Duh, jangan-jangan dia enggan memaafkan Rahadyan? Apa Rahadyan harus bersimpuh padanya, meyakinkan dia bahwa Rahadyan mengusirnya bukan karena benci.
Rahadyan benar-benar cuma frustrasi karena ia mau Kalista bahagia tapi Kalista selalu marah.
"Kalista."
Ibarat Rahadyan itu patung, mendadak saja batunya retak. Nyaris pecah karena dicueki.
"S-sayang." Rahadyan gemetaran. "Papa enggak bakal nyakitin kamu kok. Jangan ngumpet dong. Papa mau ngomong."
Kalista mengintip, lalu buang muka.
Dan Sergio cuma bisa cengo melihat Rahadyan seperti kehilangan jiwanya mendadak akibat sikap Kalista. Kayaknya Rahadyan adalah pria yang paling bucin terhadap anaknya sampai-sampai dia bisa mati kalau Kalista memalingkan muka.
"Om—"
"Bacot!" Rahadyan melotot pada Sergio, lalu tersenyum manis pada Kalista. "Sayang, jangan ngumpet di situ dong. Papa enggak marah kok. Papa yang salah."
Kalista di belakang Sergio masih saja bersembunyi. Alasannya? Kalista terlalu tsundere buat bertemu seseorang yang sudah ia ajak bertengkar, apalagi buat baikan.
__ADS_1
"Kalista." Rahadyan makin memelas. "Sayangnya Papa. Sini dong. Papa kangen."
Bibir Kalista bergetar menahan tawa. Apaan sih orang tua itu? Dia menjijikan!
"Kalista, pliiiis. Sini, Sayang. Sini sama Papa dong."
Kalista sangat mau tertawa dan malu mendengarnya. Otaknya pun berusaha mencari jalan melarikan diri. Dan tiba-tiba Kalista malah melihat pesawatnya yang terapung di atas air.
Spontan, Kalista berkata, "Aku maafin Om kalo ambilin pesawat aku!"
Itu sepenuhnya cuma pengalihan karena Kalista gengsi. Tapi baik Kalista, Sergio apakagi Bu Direktur tercengang saat Rahadyan benar-benar loncat ke laut demi mengambil pesawat itu.
Harusnya Kalista tertawa melihat betapa menyedihkan dia mengemis. Harusnya Kalista tertawa karena sudah mengendalikan dia sepenuhnya.
Tapi mendadak Kalista justru bergetar, menangis sesak.
Rahadyan benar-benar melakukan segalanya buat Kalista. Dia melakukan segala-galanya dan Kalista selalu menolaknya.
Sergio benar. Itu semua cuma karena gengsi. Bukan karena Kalista butuh waktu lebih lama. Kalista cuma gengsi memaafkan dia karena itu membuat Kalista terlihat lemah dalam berpendirian.
"Nih, Papa udah—"
Baru saja Rahadyan mau memamerkan pesawat mainan yang dia ambil demi anaknya, Rahadyan dibuat terpaku. Kalista berjongkok di depannya, menunduk memperlihatkan wajah penuh tangisnya.
"Maaf," isak anak itu. "Maaf, Papa."
Rahadyan menahan napas.
Tapi hanya sesaat setelah itu, dia tersenyum. Rahadyan naik ke permukaan. Duduk di tepi, mengambil tangan Kalista untuk memberikan pesawat yang ia tahu sebenarnya tidak penting bagi dia.
"Mainan kamu," ucap Rahadyan lembut.
Tidak penting. Pesawatnya tidak penting sama sekali. Tapi kalau dia bilang ambil, akan Rahadyan ambilkan.
__ADS_1
Karena Kalista adalah anak kesayangannya. Satu-satunya.
*