
Rahadyan sedang sangat sibuk menenangkan Kalista yang katanya jatuh cinta pada kakaknya Sergio dan mau langsung menikahinya. Mendengar Raynar berkata begitu, Laura cuma bisa tertawa kecil, merasa bahwa Rahadyan dan anaknya benar-benar sangat 'cocok'.
Gara-gara itu Rahadyan tidak sempat menghampiri Laura barang sebentar, hingga Laura putuskan membaur seolah-olah ia hanya tamu biasa.
Laura tidak masalah dengan itu. Ia mengerti bahwa Rahadyan dan Kalista berada dalam hubungan yang sangat kompleks di mana mereka baru bertemu, baru bertengkar lalu berbaikan.
Ketika Laura tengah sibuk menyesap minumannya, Bu Direktur mendekati wanita itu.
"Boleh saya duduk?" tanya wanita itu sopan, berhubung tempat di sisi Laura kosong.
"Sure," jawab Laura seketika. "Have a seat, please."
Bu Direktur mengangguk sopan dan duduk di sampingnya. Laura menawarkan piring macaroon yang kebetulan ada di dekatnya dan Bu Direktur mengambil itu dengan semang hati.
"Anyway, saya Winnie. Direktur sekolahnya Kalista."
Laura mengerjap sebelum mengangguk mengingatnya. "Ah, Bu Guru kesayangannya Kalista. Raynar cerita ke saya. Lovely to see you, Winnie. Saya Laura."
__ADS_1
"Calon istrinya Rahadyan?" ucap Bu Direktur tiba-tiba.
Mendengar itu, Laura sejenak diam. Mereka berdua saling menatap namun mereka berdua berbeda. Bu Direktur adalah wanita super cuek sedangkan Laura adalah wanita yang sangat cerdas.
Ketika Bu Direktur bertanya karena memang Rahadyan memberitahunya tentang itu, Laura justru langsung menangkap bahwa alasan wanita ini tahu padahal keluarga yang lain tidak tahu adalah karena dia spesial untuk Rahadyan.
"Belum pasti," jawab Laura diplomatis.
"Ohya? Tolong jangan tersinggung, Laura, tapi Rahadyan agak cerita soal alasan kalian dan saya rasa kamu dateng ke sini karena setuju. Condong ke setuju."
"Awalnya." Laura melempar tatapan ke arah Rahadyan tengah memonopoli anaknya dari semua orang. "Tapi setelah ngeliat ini, saya jadi ngerasa Rahadyan enggak bener-bener butuh saya. Atau lebih tepatnya bukan sekarang waktu Rahadyan sibuk ngurus pernikahan."
Laura menoleh. Perasaannya saja atau wanita ini tidak tahu bahwa Rahadyan menyukainya? Atau dia pura-pura tidak tahu?
"How about you, Winnie? Are you married or ....?"
"Nah." Bu Direktur menggeleng-gelengkan kepalanya tegas. "Saya terlalu sibuk sekarang buat ngasih waktu ke seseorang. Jadi Direktur sekolah anak remaja itu bikin stres, sayangnya."
__ADS_1
Jadi begitu. Dia tidak tahu perasaan Rahadyan. Atau Rahadyan memang memutuskan tidak memberitahu karena merasa akan ditolak?
"Gimana pendapat kamu soal Kalista?" tanya Laura lagi. "Maksud saya, katanya kalian deket. Menurut kamu dia anak yang kayak gimana?"
Kesannya Laura bertanya untuk mengenal Kalista tapi sejujurnya ia cuma bertanya untuk tahu bagaimana Winnie memandang anak dari Rahadyan.
"Menarik," jawab wanita itu sambil tertawa geli. "Anak yang ... jujur kali yah kalau harus disebut? Tapi juga suka bohong. Dia terang-terangan nunjukin kalau dia benci, dia enggak suka, tapi satu sisi dia enggak mau terang-terangan nunjukin kalau dia lemah, dia takut."
"She's complicated, in a good way. Menurut kamu dia butuh Mama baru?"
"Sejujurnya enggak." Bu Direktur tersenyum agak lemah seolah dia merasa bersalah. "Dia udah terlalu dewasa untuk terima 'Mama' baru dalam hidupnya. Tapi itu juga berarti dia bisa terima Mama barunya itu sebagai teman. Saya rasa Kalista bisa deket sama kamu."
Detik itu juga Laura tahu bahwa ia tidak mau menikahi Rahadyan.
Rahadyan mungkin bisa melakukan pernikahan ini tanpa cinta dan Kalista bisa menerima Laura sebagai teman yang baik, tapi Laura rasa ini bukan hubungan yang mau ia jalani dalam hidupnya.
Kalau saja Kalista terlihat butuh Mama, mungkin Laura mau melakukannya. Tapi sepertinya jauh lebih baik tidak dan jauh lebih baik kalau Rahadyan fokus mengejar cinta wanita tidak peka ini.
__ADS_1
*