My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
97. Gengsian


__ADS_3

"Lo dari mana aja sih tadi? Lo lari-lari kayak orang gila, tau enggak!"


Sergio langsung mengomeli Kalista begitu jam pulang tiba dan mereka bertemu di parkiran.


"Nah kan luka. Lo kira Om Rahadyan enggak hobi makan orang?!"


Kalista cuma memejam kesal, tidak mau menjawab. Ia duduk di kursi belakang sementara Sergio di depan, padahal Sergio tadi pergi sendiri bersama mobilnya ke sekolah.


"Kita mampir ke rumah sakit aja, deh. Mastiin lutut dan siku lo enggak patah."


"Lebay."


"Bokap lo yang lebay!" Sergi mendelik. Membuat Kalista buang muka, malas kena marah.


Bibir Kalista saling menekan satu sama lain. Sedang berjuang keras, karena sebenarnya ia sedang memikirkan hal bodoh.


Kalista mau minta nomornya Rahadyan.


Hih, membayangkan saja sudah kesal. Tapi, Bu Direktur tidak salah. Pada akhirnya Kalista yang bertanggung jawab soal Agas, jadi harusnya Kalista yang minta ke Rahadyan secara langsung.


Lagipula, dia sudah janji.


"Sergio."

__ADS_1


"Pokoknya ke rumah sakit, Kalista. Gue enggak mau entar Om Rahadyan ngirim preman bonyokin gue."


Kalista mendesis kesal. Siapa pula yang peduli soal rumah sakit sekarang?


Ah, sudahlah.


"Gue mau telfon dia."


"Hah?"


"Itu, pokoknya dia!" Kalista malas menyebut namanya. Paham dikit, kek!


"Dia sapa?" Sergio malah mendadak bodoh.


"Dasar bego!" Kalista melotot marah. Memang siapa sih yang Kalista sebut dia-dia kali bukan Rahadyan?! Kalau itu Oma atau Opa, pasti Kalista sebut langsung. Atau Om Raynar atau Kak Cassie.


"Akan saya bantu jawab." Agas di depan menyahut dari balik setir mobil. "Nona meminta kontak Pak Rahadyan."


"Tuh!" Kalista menunjuk Sergio murka. "Gitu aja enggak tau! Ngakunya lebih oke dari Kak Agas tapi hah! Puih!"


"Elo yang kagak jelas, anjir." Sergio mendengkus. "Tinggal bilang Om Rahadyan susah bener. Ribet amat jadi cewek."


"Bodo!"

__ADS_1


Sergio mengomel-ngomel, tapi pada akhirnya memberikan juga nomor telepon Rahadyan yang dia tahu digunakan di negara dia sedang menetap sekarang.


Tapi Kalista tidak langsung menghubungi Rahadyan. Kalista cuma diam mengamati nomor itu sampai mereka tiba di rumah sakit, pergi ke UGD cuma buat memeriksa luka di siku dan lutut Kalista.


Padahal sudah diobati oleh Bu Direktur.


Kalista masa bodo ketika kakinya dibersihkan. Perih tapi Kalista memang bukan tipe yang gampang mengekspresikan rasa sakit, dan bisa santai-santai saja sekalipun perih.


Mata Kalista masih lebih fokus pada nomor Rahadyan.


"Nona." Agas menegur Kalista di tengah usaha suster mengobati luka di lutut gadis itu. "Bukankah Nona adalah gadis pemberani dan bukan seorang peragu?"


Artinya lakukan saja dan jangan menuruti rasa takut atau gengsinya.


Kalista cemberut. Tapi, bukan dalam arti negatif. Berkat perkataan itu dirinya memberanikan diri buat menekan nomor telepon Rahadyan sambil alkohol terus menyentuh lukanya.


Di sisi lain, Sergio menatap itu dengan kening berkerut tak mengerti.


Tidak mengerti kenapa bisa ada orang seperti Kalista, diolesi alkohol dia malah sibuk main HP—dan juga pada Agas, yang begitu santai menangani masalah Kalista.


"Cuma buat nanya," Sergio berbisik, "lo enggak depresi ngurus ini makhluk?"


Agas mengangkat alis pada pertanyaan bodoh Sergio. Tanpa disangka, pria itu tertawa kecil.

__ADS_1


"Itu sedikit lucu," gumam Agas sambil menatap Kalista. "Karena Nona Lissa jauh lebih merepotkan daripada hal sesederhana Nona Kalista."


*


__ADS_2