My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
81. Gaun Pesta


__ADS_3

"Maaf." Rahadyan bergumam kecil sembari melilitkan perban ke pergelangan tangan Kalista yang lebam. "Maafin Papa."


Kalista mengalihkan mata tanpa menjawab. Padahal sudah ia bilang cengkraman Rahadyan memang berbekas tapi tidak membuatnya terganggu.


Rasa sakit sedikit begitu bukan hal yang cukup membikin Kalista trauma jadi tidak ada yang perlu dia minta maafkan.


Daripada itu, suasana di antara mereka malah jadi canggung. Kalista jadi bingung bagaimana mau memperlakukan Rahadyan.


Jelas bukan manggil dia Papa, bisik Kalista dalam dirinya.


Hal tadi tidak cukup membuat Kalista merasa mereka adalah anak dan ayah. Jangan salahkan Kalista. Kalau hati memang tidak mau ya berarti tidak mau, kan?


"Ohiya," Rahadyan selesai memasang perban di pergelangan kanannya, "gimana kalo kita ke designer dulu?"


"Hah?"


"Mumpung lagi di luar, Papa anter kamu ukur badan ke designer. Buat gaun ulang tahun kamu nanti."


Pelan-pelan, wajah Kalista menjadi aneh. Memangnya mau ke ulang tahun mesti ke designer dulu apa? Beli saja baju yang jadi!


"Juga, karena kamu udah tau soal kejutannya, mending sekalian aja kamu diskusiin tema sama event organizer-nya."

__ADS_1


Yang begitu bukannya buat nikahan?!


Kalista mau membantah dengan banyak hal, tapi kejadian tadi masih membuatnya bingung harus bicara seperti apa pada Rahadyan. Ujung-ujungnya malah Kalista diam, tak bergerak ketika Rahadyan mencondongkan badan ke arahnya buat memasang sabuk pengaman Kalista.


"Papa enggak sabar nunggu acaranya." Rahadyan tersenyum cerah. "Kamu bakal jadi yang paling cantik nanti, Papa janji."


Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan Kalista. Membuatnya merasa tidak nyaman.


Pokoknya buat sekarang ayo alihkan mata, agar tidak melihat Rahadyan.


*


"Mas Rahad." Seorang wanita berpakaian modis dan formal langsung datang menyambut mereka begitu kaki Kalista melewati pintu butik tersebut.


Rahadyan langsung berkacak pinggang begitu wanita tersebut berhenti di depan mereka.


"Udah gue bilang jangan panggil gue Rahad. Nama gue enggak kuno kayak gitu, Cebol."


Dia tertawa manis. "Mas Rahad lama enggak ketemu tapi udah tua banget, yah. Udah umur lima puluh lima kalo enggak salah?"


Rahadyan mendelik, tapi kemudian mendengkus tak peduli. Dia menatap Kalista yang memandang mereka tanpa rasa tertarik.

__ADS_1


"Kalista, ini—"


"Halo, Kalista. Nama saya—ah, enggak. Nama gue Aca, yang punya butik ACA juga. Mas Rahad udah bilang kalo lo mau bikin gaun, yah? Ayok, ayok. Gue udah bikin contohnya."


Rahadyan mencibir, "Sok-sokan gue-elo sama anak muda. Inget umur. Mentang-mentang kayak anak SD, lupa kalo udah nenek-nenek."


"Hahaha, Kalista manis banget."


Aca menarik Kalista sambil mengabaikan Rahadyan sepenuhnya dan Kalista menurut karena sedang tidak mau banyak bicara.


Butik ini terlihat cukup mewah. Walau Kalista tidak terlalu mengenal nama brand Aca, tapi mungkin ini tempat terkenal.


Ia dibawa ke ruangan di dalam butik, menjumpai tiga maneken yang masing-masing dipasangi gaun cantik selutut.


"Kok ada tiga?" tanya Kalista walau sebenarnya tidak terlalu penasaran.


Rahadyan tersenyum padanya. "Papa yang minta. Biar kamu bisa milih."


Lalu Aca mulai menjelaskan tiga perbedaan desain gaun itu dan masing-masing keunggulannya. Kalista cuma diam memandangi, sebab Kalista tidak suka gaun pesta.


Yah, kalau disuruh pilih, Kalista lebih suka beli baju kaos dan celana pendek rumahan yang bisa dipakai ke mana-mana.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau pilih mana?"


*


__ADS_2