My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
112. Kecewa


__ADS_3

Bu Direktur menatap kepergian Kalista tanpa bisa menahan sorot mata sedihnya.


Padahal Bu Direktur senang. Bu Direktur—tidak, Winnie sudah berusaha menjadi seorang guru sekaligus pemimpin di dunia pendidikan sejak usianya masih dua puluh tiga tahun. Naik menjadi direktur di usia semuda ini jelas bukan hal mudah, bahkan jika Winnie mendapat dukungan penuh dari keluarga Narendra sebagai pemilik akademi.


Tapi dalam perjalanan karier Winnie, disukai secara dalam oleh seorang murid itu nyaris tak pernah. Mungkin karena ia tetap jarang bergaul dengan anak-anak atau mungkin karena Winnie masih terlalu muda untuk pengalaman itu.


"Maaf, Kalista." Winnie menatap hadiah dari Kalista sambil tersenyum tulus. "Lain kali Ibu ajak kamu makan berdua. Malem ini aja, maafin Ibu."


Karena bukan Winnie tidak mengerti kenapa Agas menyuruhnya bersikap dingin. Dia mau Kalista merasa Bu Winnie cuma sedikit menyukainya sebagai murid, tidak lebih, lalu memaksa Kalista untuk kesepian.


Dengan rasa sepi itulah Agas mau memaksa Kalista pergi ke pelukan Rahadyan.


"Otaknya Rahadyan juga ditaro di mana, sih?" Winnie mendadak kesal pada pria itu. "Padahal kalo cuma butuh pengawal yang jagain Kalista, enggak perlu sampe pengawal Narendra."


Mereka memang yang terbaik, tapi tidak ada perasaan.


Cara Agas ini adalah cara efisien sekaligus cara yang keji menyadarkan perasaan seseorang. Agas memang dilatih seperti itu dan dia akan selalu melakukan hal sama pada semua orang, bahkan termasuk nona Narendra yang dia layani.


Makanya pengawal Narendra sebenarnya tidak cocok bagi Kalista. Pengawal Narendra itu cocok melawan *******.


Semakin lama Agas di sampingnya dan semakin banyak tugas yang diberikan pada Agas, maka semakin Kalista akan ditekan.

__ADS_1


*


"Nona kecewa?"


Biasanya Kalista pasti akan menjawab Agas sekalipun suasana hatinya sedang buruk sekarang. Tapi saking buruk suasana hati Kalista, menjawab Agas pun ia tak bisa.


Gadis itu cuma menatap pemandangan jalanan macet dari jendela mobil mewah Rahadyan, tak tahu harus melakukan apa pada sepi yang menyusup di hatinya.


Kata Mama dulu, katanya jika kita punya uang, sembilan puluh sembilan persen kita akan bahagia. Teman akan datang, pengikut akan datang, pendukung akan datang, bahkan pasangan hidup pun bisa saja datang.


Tapi entah kenapa Kalista tidak merasakan itu. Dirinya dulu, sekarang, mungkin juga nanti rasanya sama saja. Tetap Kalista yang tidak punya apa-apa.


Bu Direktur, apa dia risi yah karena Kalista terlalu mendekatinya? Apa Kalista salah berpikir kalau mereka bisa jadi teman?


Kalista menerima uluran tangan Agas yang membukakan pintu untuknya, tapi masih ingin diam lebih lama.


Tanpa banyak bicara Kalista masuk ke dalam rumah, menemukan kalau semua orang ternyata sudah masuk ke kamar masing-masing.


"Nona, ini sudah melewati jam kerja saya jadi bisa saya izin undur diri hari ini?"


Kalista mengangguk. Hanya menatap punggung Agas yang menjauh begitu saja, bahkan tanpa mengantar Kalista ke kamar.

__ADS_1


Jam kerjanya sudah habis. Artinya, Agas cuma peduli pada Kalista selama jam kerjanya berlangsung. Setelah itu, semuanya terserah Kalista dan dia tidak cukup peduli.


Perasaan sepi semakin menelan Kakista saat kakinya melangkah naik. Di depan kamar Rahadyan, Kalista sempat termenung.


Apa yang dia lakukan? Dia bilang akan selalu peduli pada Kalista dan selalu mau tahu perasaan Kalista. Kalau begitu, dia mau mendengar Kalista bicara sekarang?


Jelas enggak, bisik Kalista pada dirinya sendiri. Lo kan langsung pergi tadi. Paling dia ngerasa lo enggak tau diri.


Kalista mengembuskan napas pelan. Berlalu ke kamarnya yang berada persis di depan kamar Rahadyan.


Tapi baru saja Kalista memegang gagang pintu, ternyata kamar Rahadyan terbuka. Tanpa sadar Kalista berbalik, tak tahu kenapa ada sesuatu yang ia harapkan dengan egois.


"Baru pulang?" tanya Rahadyan.


"Iya."


Rahadyan diam, lalu melanjutkan langkahnya. "Yaudah."


Cuma itu? Cuma itu saja yang mau dia katakan? Tidak bertanya apa yang Bu Direktur katakan atau Kalista makan malam apa?


Udah dibilang lo juga enggak nanya dia, jadi mana mungkin dia nanya elo. Kalista mencaci dirinya sendiri.

__ADS_1


Tapi bahkan meski tahu ia salah, Kalista masih tidak bisa menepis rasa kecewa karena Rahadyan tidak bertanya.


*


__ADS_2