My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
125. Unimportant Information


__ADS_3

"Kalista, saya cuma mau bilang kalau ...." Bu Direktur menelan ludah, tak menyangka akan gugup di depan muridnya untuk minta maaf mengenai insiden kemarin. "Saya minta maaf bikin kamu sedih."


Kalista mengerjap. "Enggak pa-pa, Bu."


"Nah, it's not 'enggak pa-pa'. Saya bikin kamu sedih, kecewa karena sikap saya." Bu Direktur meremas tangannya satu sama lain dan agak menunduk seolah dia tak percaya diri seperti biasanya. "To be honest, Girl, saya orangnya agak kikuk."


"Eh?"


"Bisa dibilang 'Bu Direktur' itu sendiri beda dari diri saya, Winnie tanpa gelar Bu Direktur." Wanita itu tertawa setengah meringis. "Malem kamu bawain saya hadiah, itu saya senang banget."


Kalista tertegun.


"Salah satu momen paling terbaik dalam hidup saya, ngeliat murid saya nunggu di depan apartemen cuma buat ngasih oleh-oleh karena takut saya ngira dia bohong. Padahal saya pasti ngerti kalaupun enggak ada oleh-oleh. Saya seneng banget kamu mikirin saya segitunya."


Bu Direktur tersenyum lemah.


"Tapi, saya pengen kamu ke Papamu dulu. Saya enggak pengen sampe saya ngerebut posisi Papa kamu, jadi yang spesial buat kamu. Makanya saya minta kamu pulang. Bukan karena saya enggak seneng."


"...."


"Maaf."


Kalista mengerutkan bibir dan melirik pada Agas. Sejujurnya Agas sudah memberitahu bahwa malam itu dia yang meminta Bu Direktur bersikap dingin.

__ADS_1


Tapi yah, bohong jika berkata Kalista tidak memikirkan bahwa Bu Direktur muak padanya.


"Saya juga minta maaf, Bu." Kalista berusaha tersenyum. "Saya malah ganggu Ibu cuma karena Ibu baik sama saya, sebagai guru."


Bu Direktur tertegun.


"Jujur aja, saya enggak mau ngakuin ini, enggak suka orang lain mikir begini tapi saya sadar kalo saya ... super menyedihkan."


"Kalista—"


"Bu, saya paham." Kalista mengangkat tangannya, mencegah wanita itu memberi hiburan yang tidak perlu. "Saya juga bukan Kalista yang orang lain kira. Saya bukan biitch yang bodo amat sama orang lain, pede jalan-jalan sambil dikatain murahan."


Sejujurnya, Kalista cuma berpura-pura. Ia selalu merasa tertekan dan menolak untuk mengakuinya sebab itu menyedihkan dan lemah. Makanya Kalista selalu bersikap kasar, ceplas-ceplos dan berani berbicara lantang agar tidak ada siapa pun yang sadar bahwa dirinya ... itu takut sendirian.


Pada kalimat terakhir Kalista ragu, karena Bu Direktur justru menatapnya seolah-olah Kalista memuntahkan hal yang cukup menyakiti hati.


"Saya salah omong, Bu?" tanya Kalista hati-hati, takut jika ia malah menyinggung.


Bu Direktur mendadak berdehem. Dan yang mengejutkan, wanita itu mengusap sudut matanya, menyeka setitik jejak kesedihan.


"Ibu kenapa?" tanya Kalista lagi, tak mengerti.


"I have no idea," jawab beliau samar. "Kalista, bukan cuma kamu yang freak di dunia ini."

__ADS_1


"Eh?"


"Faktanya saya rasa sembilan dari sepuluh orang berusaha jadi sesuatu yang jauh beda dari diri mereka demi diterima sama siapa pun. So, kamu enggak salah kalo caper ke siapa pun."


Tapi kenapa Bu Direktur terlihat sedih?


"Saya juga sering ngerasa saya terlalu percaya diri di depan sementara di dalam sana, saya enggak seyakin itu." Bu Direktur tersenyum kecut. "Dan terus terang saya juga cuma perempuan kesepian yang bahagia karena ada satu murid yang terobsesi sama saya. Jadi ... bisa dibilang saya sedih. Agak banyak."


Eh? Bukankah itu sama saja Bu Direktur berkata dia tidak keberatan dengan tingkah Kalista?


Kedua perempuan itu larut dalam pembicaraan hati ke hati mereka sampai tidak menyadari jika semua orang sudah menepi.


Di belakang, Rahadyan yang niatnya mau langsung mengajak pacar barunya kencan dan membelikan dia semua hal termasuk satu toko boneka bersama pramuniaga-nya sekalian—kini justru termenung mendengar percakapan Kalista dan Bu Direktur.


"Om." Sergio menepuk bahu Rahadyan. "I know you're into her but just a little and unimportant information ... Om udah punya pacar dari Paris."


Rahadyan tertohok. Sialan, memang kelihatan jelas ia suka pada Bu Direktur?!


"Kalau begitu, bisa saya memberi informasi juga?" timpal Agas secara mengejutkan. "Setahu saya, Nona Direktur pernah menolak tiga lamaran dari tiga pria 'sangat' kaya dengan ucapan 'pernikahan menghambat kariernya'."


Rahadyan tidak mau berterima kasih pada informasi menjengkelkan itu.


*

__ADS_1


__ADS_2