My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
24. Pengawal Narendra


__ADS_3

Ekspresi serius Rahadyan tentu saja membuat mereka tersentak. Tidak biasanya seorang Rahadyan terlihat seperti ini.


Namun, Rahadyan tidak peduli. Ia harus mengambil keputusan nekat ini.


Untuk apa?


Jelas buat menghindari setan berbahaya bernama Sergio. Dan pengawal Narendra itu bisa disuruh membunuh orang-orang yang berpotensi mengusik klien mereka, jadi memang paling pas menyewa mereka.


"Rahadyan." Papa merespons setelah lama terdiam. "Kamu tau kan orang-orangnya Narendra bahaya?"


Orang-orang dari Narendra terkenal sombong dan begitu tertutup. Satu-satunya yang dekat dengan mereka itu hanya mantan presiden Mahardika, yang orang lain menganggapnya sebagai legenda sementara orang-orang seperti mereka, yang berkutat secara langsung dengan bisnis dan politik menganggap Mahesa Mahardika sebagai orang berbahaya.


Orang itu bisa membawa negara ini dalam peperangan. Dominasinya di pemerintahan bahkan di atas orang-orang yang nampak berkuasa itu sendiri.


"Pa." Rahadyan membalas tenang. "Soal Narendra sama Mahardika, itu enggak ada hubungannya sama Kalista. Ya emang Narendra itu bahaya, tapi yang aku minta cuman jagain Kalista. Bukan ikut campur soal bisnis kita."


"Excuse me, Bang, tapi ada loh yang namanya mata-mata tanpa harus nyelinap ke mana gitu nyari dokumen. Dia cuma perlu ngelapor 'hari ini Pak Sutomo ke sana' dan byar, entah diapain informasi sesimpel itu."


"Pak Sutomo di sini, Kalista di sana." Rahadyan keukeu. "Lagian kontrak buat pengawal Narendra itu tujuh puluh persen dibuat sama klien-nya, jadi enggak masalah selama bukan ngambil hak pengawalnya permanen. Lagian udah berapa banyak keluarga yang ngambil jasa mereka? Emang ada yang ancur?"

__ADS_1


Tidak, sih.


Rahadyan tahu itu jawabannya jadi dengan percaya diri dia berkata, "Hari ini aku langsung ke tempatnya Al."


Tidak ada yang bisa menghentikan Rahadyan. Pria itu langsung meminta helikopter terbang ke Bogor, karena Kastel Narendra berada di Bogor. Sulit mengaksesnya hanya dengan mobil, jadi Rahadyan pakai helikopter.


Helikopter yang ditumpangi Rahadyan tak bisa langsung mendarat. Ia diminta memverifikasi identitasnya, baru setelah itu bisa mendarat di halaman kastel mereka.


Kastel, bukan rumah. Jadi tempat mereka memang lebih besar.


Rahadyan bergegas masuk melewati taman-taman mawar dan patung wanita telanjaang, diarahkan ke ruangan pemimpin Narendra.


"Enggak terlalu baik." Rahadyan merespons sapaan itu singkat, karena tidak bisa terlalu buang-buang waktu. "Saya dateng ke sini mau nyewa pengawal kamu. Yang terbaik."


"Wo-wo, tunggu sebentar."


Al bahkan tak sempat menawarkan kursi karena Rahadyan terlalu buru-buru. Pria berpakaian megah macam putra mahkota itu berdehem, mempersilakan Rahadyan duduk.


"Jadi kabar soal kamu punya anak itu benar? Saya mendengar sekilas."

__ADS_1


Sekilas pantatnya. Jelas sekali Al tahu hal-hal semacam itu karena informasi adalah hal berharga.


Tapi tidak masalah. "Ya, saya punya anak perempuan jadi saya mau nyewa pengawal kamu yang terbaik buat jagain dia. Dari semua orang."


"Jadi begitu." Al dengan cepat menyesuaikan sikap. "Oke, saya tidak perlu diskusi harga dengan kamu soal ini, kan? Berhubung kamu minta yang terbaik."


"Saya enggak peduli harganya. Saya cuma mau yang paling berkualitas."


Harus paling berkualitas. Kalau bisa dia harus mampu membunuh dengan tatapan mata biar orang-orang seperti Sergio langsung death.


Al memanggil seorang pelayan sekaligus sekretarisnya masuk setelah itu. "Panggil Adrestia. Dan beritahu dia membawa beberapa anak didiknya untuk pengawalan."


Pelayan itu membungkuk hormat. "Mengerti, Tuan."


Ya, itu contoh. Akan seperti itulah pengawalnya. Patuh, tidak banyak bicara, pintar, dan pokoknya bisa diandalkan.


Mulai sekarang tidak bakal ada baba-babi di depan Rahadyan lagi.


*

__ADS_1


__ADS_2