
Lagian. kalau Rahadyan menikah dia bakal berhenti merecoki Kalista, kan? Nah, berarti Kalista pun tidak usah banyak memikirkan dia begini atau begitu.
Sama-sama diuntungkan.
Sekali lempar, dua lalat pergi.
Kalista tersenyum cerah memikirkan hal itu. Tak sadar kalau Rahadyan memerhatikan ekspresi Kalista dan perlahan jadi salah paham.
Di kepala Rahadyan : jangan-jangan Kalista mau punya Mama lagi? Dia merasa kesepian karena tidak dekat dengan Rahadyan jadi dia berharap punya Mama tiri yang dekat dengannya?
Hmmmm, pacar aja gue enggak punya, ***. Rahadyan gelisah dalam hatinya.
Sebagai seorang pria tampan plus mapan, buat Rahadyan pacar itu adalah lintah yang akan menyedot darah kotor plus darah bersih plus sampe ke otak.
Alias enggak guna dipelihara.
Jaman sekarang hanya orang-orang bodoh yang masih pacaran, soalnya kalau laki-laki serius sayang, dia bakal menikahi. Kalau cuma dopacari, biasanya cuma buat modal pamer biar tidak dikata jomblo atau enggak laku.
Itu adalah fakta, ladies.
"Terus, Om—"
"Ya?" Rahadyan tersentak kaget mendengar Kalista mengajaknya bicara lagi, padahal ia lagi berpikir soal mama tiri.
"—aku mau tau soal Narendra. Bosnya Kak Agas."
Hah? Buat apa?
Rahadyan benar-benar tidak mau menceritakan sesuatu soal Agas pada Kalista karena itu cuma bikin mereka makin dekat, tapi kalau Rahadyan tolak, ia takut Kalista malah sebal padanya lagi.
__ADS_1
"Kamu mau tau apa?"
Bersamaan dengan Rahadyan bertanya, Rahil menangis. Nampaknya anak itu marah karena diabaikan walaupun sudah berada dalam pelukan Kalista.
Karena Rahadyan lebih terbiasa, ya spontan ia mengambilnya.
"Cup cup cup. Om lagi ngobrol, kamu jangan caper dulu. Nih nih nih, main bola nih."
Padahal Rahadyan berharap Kalista teralihkan dari Narendra setelah tangisan Rahil itu. Tapi setelah Rahil tenang bersama beberapa bola di sekitarnya, Kalista bertanya lagi.
"Mana lebih kaya, Om atau Narendra?"
Pertanyaannya juancuk pulak.
Rahadyan benar-benar kesulitan kalau berhadapan dengan anaknya ini. Dia tak kenal ampun.
Bisa tidak memberi pertanyaan setidaknya yang normal? Seperti, 'Narendra itu berkutat di bisnis apa?'. Walau itu bikin jawabannya akan sangat panjang, tapi ya setidaknya normal.
".... Emang harus pertanyaannya itu?"
Kalista membuang muka. "Gak, udah kejawab."
"Apanya?"
"Mereka punya istana dua, di gunung pula. Om enggak punya. Jadi yah, udah jelas."
Rahadyan langsung melotot lebar.
Wah, wah, mulut anak ini sungguh butuh dilemaskan. Bagaimana bisa dia mengatakan sesuatu seakan-akan Rahadyan itu miskin padahal pengawalnya dia saja sebulan satu M?!
__ADS_1
Yaiya sih Narendra lebih kaya. Yaiya! Cuma kan, ugh.
Pokoknya ada sesuatu di dunia ini yang tidak perlu diperjelas karena tidak penting!
"Biarpun Narendra kaya, Agas itu cuma anak buah aja. Bukan Narendra-nya. Jadi dia miskin." Setidaknya Rahadyan harus menekankan itu.
Tidak boleh! Seorang bapak tidak boleh sampai kalah dari orang yang ditaksir anaknya!
Cuih, tidak sudi. Kalau bersaing dengan Narendra, okelah Rahadyan angkat tangan. Soalnya kalau harta Mama dan harta Papa sekeluarga digabungkan pun, uangnya Narendra masih lebih banyak.
Tapi si Agas itu cuma kacung! Kacung, dia kacung!
"Papa lebih kaya dari Agas, apalagi dari Sergio. Di sekolah kamu juga, Papa salah satu yang paling kaya."
Kalista menatapnya aneh. "Oh."
Jawaban yang sangat tidak memuaskan bagi Rahadyan. Bahkan kalau anaknya matre, paling tidak pemenangnya harus Rahadyan!
"Kalo kamu mau beli lamborghini edisi terbata, Papa bisa beliin sambil merem sekarang. Jadi jangan pernah mikir Papa enggak punya uang."
Kalista yang mendengar dia bergegas menggeser posisi agak jauh.
Hiiih, menakutkan.
Dasar tukang pamer. Padahal Kalista bertanya begitu bukan buat menentukan siapa yang uangnya paling banyak, tapi soal siapa yang kekuasaannya paling kuat.
Ngapain juga orang ini pamer-pamer soal dia lebih kaya?
Orang songong itu bikin ilfeel.
__ADS_1
*