
Kalista terguncang oleh perkataan Agas barusan. Kenapa dia mengatakan—
"Tentu saja saya tidak bermaksud membuat Nona merasa tidak nyaman. Saya cuma mengutarakan apa pendapat saya setelah mengamati Nona."
Tatapan Agas yang hangat membuat rasa tegang di dada Kalista sedikit mengendur. Tapi, ia masih sedikit waspada, menatap Agas dengan sorot mata kaku.
"Dari apa yang saya amati, saya merasa Nona hanya tidak bisa mempercayai seseorang yang berstatus sebagai orang tua Nona, selain ibu Nona sendiri."
"Nona tidak bisa memastikan niat dia apa, Nona juga tidak bisa memastikan apa dia tulus pada Nona atau tidak. Karena itu Nona juga tidak menyukai dia. Tapi, Nona tidak membencinya."
Bibir Kalista saling menekan, mengamati senyum tenang Agas.
"Kakak padahal bisa diem."
"Karena saya merasa Nona sendiri tidak memahami apa yang benar-benar Nona mau." Agas membungkuk. Mengulurkan tangan ke bibir Kalista untuk menyeka jejak es krim di sana. "Walaupun saya tidak sedang berusaha berkata Nona harus menyukai orang itu juga."
"...."
"Nona boleh menyukai sesuatu yang dilakukan orang yang Nona benci."
Kalista mendengkus. "Kakak bikin bingung."
Entah kenapa Kalista mengerti tapi tidak mengerti hingga kepalanya jadi pusing.
__ADS_1
Otak Kalista secara otomatis mencari hal lain untuk dipikirkan, karena ia takut akan sakit kepala sampai malam.
"Ngomong-ngomong, Sergio kenapa enggak ngomong apa-apa, yah?"
Kalista putuskan mencari alat bermainnya saja, daripada nanti Agas membicarakan hal yang berusaha Kalista sembunyikan.
"Harusnya kan paling enggak dia ngomong 'makanya jangan kelayapan'."
"Bukankah itu tidak sopan Nona mencari orang lain sekarang? Saya sedikit cemburu."
Kalista menjulurkan lidah, sok mengejek. "Aku lagi bete sama Kakak jadi aku nyari Sergio aja. Bye!"
"Nona—"
Buru-buru Kalista kabur, sambil terkikik geli meninggalkan Agas. Pemuda jakung itu jelas mengikutinya, tapi Kalista pun berlari turun untuk mencari di mana Sergio berada.
Tapi baru saja Kalista mau mendorong pintu kamar Sergio terbuka, suara dari dalam terdengar di telinganya.
"Mami kok sekarang protes?"
Hm? Dia sedang bicara dengan ibunya lewat telepon?
Kalista mau tak mau menempelkan telinganya ke pintu, agar bisa mendengar jelas mereka bicara apa. Agas yang melihat nona peliharaannya itu bertingkah cuma bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Walau terlihat cuek, Kalista itu sebenarnya orang yang super-duper kepo.
"Kalaupun Astrid nanti jadi istri aku, emangnya kenapa kalo sekarang aku pacaran random?"
Apa yang dia bahas?
"Aku enggak pernah bilang aku sama Kalista nanti bakal nikah. Aku cuma bilang sekarang aku sama dia pacaran."
Idih! Kalista bersumpah dalam hati. Amit-amit pacaran sama dia! Dasar mulut dusta!
"Ya emang kenapa sih, Mi? Enggak usah overreacting gitu deh. Aku tuh masih muda, emang lagi mau main-main. Terserah aku dong main sama Kalista kek, sama siapa kek. Astrid kan yang mau itu Mami, bukan aku."
Hoooh, jadi dia dijodohkan dengan si Astrid itu oleh orang tuanya? Kalista mencibir diam-diam tapi masih khusyu mendengarkan.
"Lagian mending Mami kasih tau deh Astrid. Om Rahadyan udah bukan Om Rahadyan yang semua orang kenal. Dia sekarang udah sinting. Udah enggak waras."
Hmmm, benar. Benar sekali.
"Mami kira itu bohongan? Itu seriusan. Om Rahadyan nyewa pengawal Narendra cuma buat ngikutin Kalista di rumah sama di sekolah. Mami kira ada orang waras mau bayar orang satu miliar sebulan buat gituan doang?"
Kalista tersedak. Spontan ia menoleh pada Agas yang tersenyum kalem di sana.
Diam-diam pria itu berbusik, "Bukannya saya sudah bilang? Saya agak mahal."
__ADS_1
Itu bukan agak mahal lagi!
*