
Kalista tak tahu ingin berlari ke mana tapi yang ingin ia lakukan sekarang cuma menjauh dari kediaman itu.
Kakinya melangkah dan terus melangkah sampai tanpa sadar Kalista sudah berdiri di depan jalanan besar.
Kakinya masih belum lelah berlari, jadi Kalista masih ingin berlari liar. Tapi saat akan melewati penyebrangan, tiba-tiba tangannya ditarik paksa ke belakang.
"Nona harus belajar menyebrang jalan saat kendaraan sudah berhenti, bukan saat kendaraan sedang lalu-lalang."
Bibir Kalista melengkung ke bawah dan pelan-pelan tangisannya keluar.
Tak sedikitpun menolak, Kalista biarkan tubuhnya tenggelam dalam pelukan Agas.
"Hiks." Kalista tak bisa berusaha tersenyum demi terlihat cantik sekarang, karena gumpalan emosi di dadanya justru sedang meledak. "Aku ke sini bukan karena mau."
Harus berapa kali Kalista mengulangnya agar orang lain mengerti? Ia sedikitpun tidak pernah berniat datang ke tempat ini atas keinginannya sendiri.
Bertemu Rahadyan yang merupakan ayahnya bukan kemauan Kalista.
Dia hanya penjahat di mata Kalista. Cuma sok ingin jadi pahlawan tanpa tanda jasa, padahal sedikitpun tidak punya jasa.
"Mama yang nyuruh aku ke sini," ungkap Kalista di antara tangisan sedihnya. "Mama yang seenaknya mindahin hak asuh aku ke dia. Aku enggak pernah mau ketemu dia, hiks. Aku enggak mau punya Papa."
Agas memeluk punggung Kalista erat-erat agar dia merasa setidaknya Agas memperhatikannya.
Tentu saja, bukan karena Agas kasihan atau simpati, namun karena ini pun menjadi bagian dari tugas Agas.
__ADS_1
"Saya memahami kebencian Nona." Agas menepuk-nepuk kepalanya. "Nona tidak perlu memaksakan diri jika Nona tidak menyukai seseorang, termasuk ayah Nona."
Kalista mendongak. Dia masih terisak-isak, tapi matanya menjadi lebih baik karena ucapan Agas. "Terus aku harus gimana?"
"Hm? Bukankah sudah jelas? Tidak perlu mengajak orang yang Nona benci berbicara."
"Niat aku juga kayak gitu."
Kalista menunduk, membenamkan wajahnya pada dada Agas yang nyaris tak bisa ia capai karena tingginya.
"Niat aku juga kayak gitu, Kak, tapi aku numpang sama mereka."
Makanya Kalista berharap disuruh pergi. Agar dirinya tidak perlu merasa terbebani lagi oleh sesuatu seperti 'tatakrama penumpang rumah orang'.
Suruh saja dirinya pergi. Kalista hanya hidup dengan Sukma Dewi sebelum Rahadyan ada.
"Nona."
"Hm?"
Agas menarik wajah Kalista agar mendongak padanya. "Siapa yang meminta Nona ikut bersama ke tempat ini?"
"Apa?" Kalista mengerjap tak paham sesaat, walau segera menjawab, "Pa—Om Brengsekk."
"Benar. Lalu, siapa ibu Nona?"
__ADS_1
"Pelacurr."
"Lalu, siapa mereka?"
"Orang terhormat." Kalista merasa aneh karena jawabannya seperti memuji. "Orang sok kaya."
"Benar."
Agas tersenyum mengusap air mata di kedua pipi Kalista.
"Mereka orang yang mementingkan harga diri mereka, membeli barang-barang bermerk agar dicap sebagai kaum elit dengan rumah yang seperti istana."
"Mereka mengakui ataupun tidak, mereka adalah orang yang sangat amat mementingkan pendapat orang lain terhadap mereka."
Hng, lalu kenapa? Kalista tidak langsung mengerti tapi diam mendengarkan Agas bicara, karena nyaman.
"Orang-orang yang hidupnya dikontrol oleh tatapan orang, pikiran orang, pendapat orang—mereka semua tahu Nona adalah anak wanita bayaran tapi menerima Nona dengan tangan terbuka."
Kalista mengerjap. Tak bisa mengatakan itu salah. Kalau begitu—
"Mereka menginginkan Nona. Entah karena sayang atau karena yang lainnya."
Agas tersenyum misterius tanpa menyembunyikan kesan licik di sana. "Bukankah justru Nona yang mengendalikan mereka?"
Eh?
__ADS_1
*
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊