
Kalista mungkin cuma sedang kesal mengenai Agas, tapi ia tak bisa melampiaskannya kecuali pada Rahadyan. Namun saat melihat betapa terawat kuburan Mama, Kalista merasakan kemarahan yang benar-benar nyata.
Sebenarnya Kalista tidak membenci Rahadyan, tapi sepertinya semakin kesini Kalista rasa ia lebih baik membencinya saja.
"Om kira ngerawat kuburan Mama ada gunanya?"
Kalista berbalik pada pria itu. Merasa tak mau mendekat karena pemandangannya yang begitu terjaga.
"Om kira Om bisa nunjukin rasa bersalah Om sekarang lewat kuburan Mama?"
Apa gunanya? Beritahu Kalista, apa gunanya merawat kuburan orang mati?
Menghiasinya, memberi rumput dan bunga, apa itu membuat orang mati di dalam tanah jadi merasa disayangi?
Benar-benar tololl. Kalista sejak dulu percaya bahwa orang seperti Mama adalah penghuni neraka. Jadi bukankah itu aneh memberi penghuni neraka bunga?
Merawat kuburannya tidak membuat dia berhenti disiksa oleh malaikat, kan?
Kalista menghela napas sekali lagi. "Aku enggak pernah ngomong ini kemarin-kemarin tapi ...."
Tangan Kalista terulur ke dada Rahadyan, mendorongnya mundur begitu saja.
"Mending Om enggak usah caper sama aku. Soalnya mau Om bisa ngidupin orang mati sekalipun, aku enggak ada niat deket sama Om."
__ADS_1
Keinginan Kalista mengunjungi Mama sekarang sudah hilang total. Ia merasa seperti bukan mengunjungi Mama dengan pemandangan bersih itu.
Jadi badan Kalista berputar ke arah sebaliknya, berlalu meninggalkan kuburan itu juga Rahadyan. Kalista sudah mengeluarkan ponselnya, niat memesan taksi saja agar bisa pergi sendiri.
Tapi ....
"Emang kenapa kalo Papa caper?"
Kalista berhenti bergerak.
"Kamu kira Papa enggak sadar ini enggak ada gunanya? Papa ngurusin kuburan Mamamu bukan karena Papa mau minta maaf sama dia, atau nebus kesalahan Papa sama dia. Udah enggak bisa, percuma. Papa juga tau."
Kalista mau berbalik melihat, sekaligus berkata bahwa Rahadyan harus berhenti kalau memang dia sudah tahu.
Mata yang semula menatapnya tanpa perlawanan itu sekarang menatapnya tajam dan terang-terangan.
"Emang kenapa kalo Papa mau deket sama kamu? Emang kenapa kalo Papa peduli sama kamu? Enggak boleh? Karena Papa udah ninggalin kamu enam belas tahun?"
Kenapa dia—
"Justru karena itu Papa ngerendahin harga diri ke kamu!"
Kalista tersentak. Tak menyangka Rahadyan bakal berteriak emosional padanya. "Om—"
__ADS_1
"Om, Om, Om! Saya bukan Om kamu! Saya Papa kamu!"
Rahadyan menarik tangannya kasar. "Papa enggak mau lagi lewat satu tahun, enam belas tahun jadi tujuh belas tahun Papa enggak ada artinya di hidup kamu! Justru karena itu Papa caper sama kamu!"
"...."
"Kamu selalu ngomong seakan-akan Papa enggak pernah peduli sama kamu sama Mama kamu. Kamu selalu ngomong seakan-akan Papa dari dulu sengaja enggak tau. Tapi kamu, Kalista, kamu tau apa?"
Kalista terbelalak. Sebab sekarang di depannya, Rahadyan terlihat seperti ingin menangis.
"Kamu tau apa soal Papa? Kamu pernah nyari Papa? Pernah sekali aja kamu mikirin gimana kalau Papa ada? Kamu duluan tau kamu punya Papa, kamu tau kamu bisa nyari Papa, tapi kamu enggak ngapa-ngapain."
"Maksud Om itu salah aku?!"
"Maksud Papa, Papa mau jadi Papa kamu!"
Tarikan kasar itu melukai tangan Kalista. Tapi yang jauh lebih membuat jantungnya linu adalah saat lengan Rahadyan merengkuhnya, tiba-tiba mendekap Kalista seolah takut melepaskannya.
"Jangan kayak gini. Jangan liat Papa kayak gitu." Rahadyan berbisik sambil terus mengeratkan pelukannya. "Papa ngerti kamu marah soal Mamamu, tapi jangan jauhin Papa."
Kalista menggigit bibirnya kuat-kuat dan terus mengepalkan tangan agar tangannya tak membalas pelukan asing itu.
*
__ADS_1