
Hari ini semua orang pergi. Laura, Agas dan Sergio.
Orang yang pertama pergi adalah Laura, bersama Rahadyan yang mengantarnya secara langsung ke Paris sebagai bentuk permintaan maaf sudah membatalkan rencana pernikahan walau sebenarnya itu belum masuk ke ranah serius.
Kalista mengantar kepergian mereka di gerbang depan. Tidak ikut sekalipun Rahadyan mengajaknya pergi, karena Kalista ingin memberi waktu mereka bicara tentang hubungan mereka.
"Papa aku emang badjingan, Kak Laura," kata Kalista pada perempuan itu. "Makanya kalo di pesawat nanti Kakak mau nusuk Papa, aku enggak bakal marah kok."
Laura tertawa mengusap kepala Kalista. "See you when I see you, Dearest."
"Bye." Kalista melambaikan tangan, lalu menjulurkan lidahnya pada Rahadyan yang cemberut. "Papa enggak usah pulang! Aku mau pacaran!"
"Entar malem Papa udah di kamar kamu!" balas Rahadyan seolah-olah Paris itu cuma perempatan Ciamis.
Lalu setelah mengantarkan kepergian Rahadyan, Kalista harus mengantarkan kepergian Agas. Kontrak kerja Agas telah selesai dan kini Kalista rela berpisah darinya.
"Aku sayang Kakak," ucap Kalista memeluk tubuh Agas.
Kini Kalista mengucapkannya bukan sebagai wanita pada pria, tapi sebagai adik pada kakaknya. Bagaimanapun, dua bulan bersama Agas dan berada dalam penjagaannya itu membuat Kalista terbiasa.
Ia merasa sedih harus berpisah dan berharap Agas tinggal bersamanya, sekalipun cuma sebagai pengawal.
"Nona akan baik-baik saja." Agas balas memeluknya erat. "Dua bulan bersama Nona cukup menyenangkan. Tolong tetap jadi Nona yang ceria dan bahagia."
__ADS_1
"Tapi Kakak beneran enggak mau ngasih nomor HP Kakak? Please? At least kita chatting-an. Please?"
"Saya sudah bilang saya tidak menggunakan ponsel saat bertugas dengan Nona Lissa." Agas mengurai pelukan itu. "Tapi, jika nanti saya sedang libur bertugas, saya akan coba menemui Nona sekali. Jika Nona ingin."
"Janji?!"
"Saya berjanji."
"Yey!" Kalista melambaikan tangannya ceria, setidaknya cukup senang karena Agas mau menemui Kalista lagi nanti, entah kapan itu.
Cinta baru menghapus yang lama, sepertinya. Kalista sekarang tidak terobsesi lagi pada Agas jadi ia tidak patah hati melihat Agas pergi.
Fokus Kalista sekarang pada Julio. Jadi saat Sergio mau pergi, barulah Kalista memohon.
Sergio melotot murka. "Lo tuh perempuan paling gatel yang pernah gue liat seumur hidup, tau lo?!"
Kalista justru membuat ekspresi 🤗 yang membuat Sergio makin emosi.
"Okay, listen up." Sergio menarik kasar kakinya dari Kalista, menatap perempuan yang tengah duduk di lantai teras itu macam pemeran utama lagi ditindas oleh antagomis. "Gue bakal pergi dari hidup lo sampe lo lupa sama gue dan gue pastiin pas gue balik, lo ngemis-ngemis cinta sama gue!"
Kalista mengerutkan kening jijik. "Sergio, gue enggak mau nyakitin lo tapi money can't do anything. Maksud gue, lo tau, uang enggak ngebeli takdir. Kak Julio lebih ganteng dari lo so I thought money can't help you anyway."
"SIAPA JUGA YANG MAU OPERASI PLASTIK?!"
__ADS_1
Kalista pura-pura terkejut. "Astaga, gue enggak ngomong oplas. Oh, apakah ada yang diem-diem mau oplas buat melawan takdir?"
Terlihat jelas Sergio mau memakan Kalista hidup-hidup. Tapi karena Sergio sadar dia lebih waras dari Kalista, maka Sergi menarik napas, melawan keinginan berbahaya itu.
Alih-alih, Sergio justru berlutut pada Kalista, menatap lurus matanya.
"Taruhan sama gue. Tiga tahun lagi gue balik, kalo gue enggak berhasil bikin lo bucin sama gue, gue bantuin lo nikah sama Julio even itu gue harus jebak dia hamilim lo."
"Done deal!" Kalista menyambar tangan Sergio dan mengguncangnya sangat semangat. "Pokoknya tiga tahun lagi gue kakak ipar lp, wokey, adek ipar?"
"Or my baby doll," imbuh Sergio, tak mau kalah.
Kalista cuma memutar matanya tak peduli, mengibaskan tangan untuk dia pergi.
Sejujurnya kepergian Sergio yang paling membuat Kalista kesepian. Karena Kalista sungguhan menganggap dia teman baik. Tapi karena sepertinya dia sangat tidak mau kalah dan kita tidak boleh memaksa seseorang kalah, maka Kalista membiarkan dia pergi.
Pergilah. Toh, cinta Kalista buat kakaknya, bukan buat dia.
*
Cerita ini punya sekuel, tapi bakal aku pisah karena pembahasannya agak berbeda. cerita ini fokus ke hubungan Kalista dan Rahadyan sebagai orang tua dan anak, sementara sekuelnya akan lebih fokus ke percintaan Kalista yang diselipin percintaan Rahadyan dan Bu Direktur.
aku harap kalian masih tetep nungguin mereka satu dua hari kedepan.
__ADS_1