My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
105. Kenapa Selalu Saya?


__ADS_3

Suara dering ponsel pagi-pagi buta mengganggu tidur Bu Direktur di kamarnya. Meski dengan mata tertutup, wanita itu langsung menyambar ponsel dan mengangkat panggilan.


"Ya, halo?"


"Halo, Bu."


"Kenapa?"


"Saya mau minta tolong dong, Bu."


"Soal?"


"Tengokin anak saya, dong."


Bu Direktur langsung tersentak mendengar kalimat super tidak penting dari orang yang meneleponnya itu. Langsung saja beliau bangun, melihat nomor luar negeri yang meneleponnya itu tidak ia kenali.


Siapa ini?


"Maaf sebelumnya, ini siapa yah?"


"Lah, saya kira Ibu kenal saya." Orang itu terkekeh. "Ini Papanya Kalista."


Hah? Jadi yang menelepon pagi-pagi buta dengan nomor luar negeri ini adalah orang super tidak penting?

__ADS_1


Bu Direktur baru bangun jadi tanpa sadar dirinya mematikan panggilan, melempar ponselnya ke sisi lain kasur dan kembali mau tidur.


Baru sejenak matanya tertutup, ponsel itu berdering lagi, meminta perhatian lagi hingga mau tak mau, Bu Direktur angkat lagi.


"Rahadyan." Bu Direktur sampai tidak bisa memanggil dia lebih sopan atau dengan embel-embel Pak. "Kamu kira saya babysitter anak kamu? Sekali lagi kamu hubungin saya enggak penting—"


"Kalista kemarin nangis, Bu."


Bu Direktur memutar matanya kesal. Bukan urusannya Kalista menangis atau tidak. Lagian, anak itu tuh bukan makhluk cengeng yang selalu butuh dimanjakan.


"Mertua kakak saya ngajak dia ribut. Ya, Ibu taulah masalah posisi cucu pertamanya Rahil sekarang pindah ke Kalista. Mertua kakak saya enggak seneng, terus dia ngatain Kalista anak gundik enggak tau diri. Terus Kalista nangis."


Anak itu? Anak yang memberi Bu Direktur sorot mata 'emamg kenapa?' waktu dia sendiri mengaku dia anak pelacurr?


"Soalnya enggak ada lagi, Bu," jawab dia tanpa rasa bersalah.


"Kamu masih punya orang tua buat ngawasin anak kamu, Pak Raha-dy-an."


"Mama saya terlalu berbudi dan bijaksana buat hibur anak saya, Bu. Kasian nanti Kalista kalo enggak paham level kebijaksanaan Mama saya tuh gimana. Kalo Opa-nya—entah kenapa saya enggak mau, soalnya nanti anak saya direbut."


Dasar orang sinting.


"Saya percaya sama Ibu. Kalista selalu aman kalo Ibu yang tanganin." Rahadyan mendadak berucap sangat serius. "Jelas, saya lagi enggak minta tolong. Saya lagi minta 'perlakuan' spesial buat anak saya, selaku donatur sekolah Ibu."

__ADS_1


Dengan kata lain nanti saya bayar jadi tolong bantu dulu.


Bu Direktur menghela napas keras karena lelah. Rasanya sudah cukup lama ia tak terlibat dengan orang tidak waras macam Rahadyan.


"Padahal dia punya Agas," gumam Bu Direktur mengeluh.


Ternyata Rahadyan dengar. "Saya enggak mau Kalista terlalu bergantung sama Agas."


"Ya, ya, karena ini bulan terakhirnya."


"Enggak sih. Kalo Kalista mau, nanti saya minta gantinya Agas dari Narendra. Emang saya lebih nyaman kalo Kalista ada temennya."


Bu Direktur beranjak dari kasur, pergi membuka tirai jendela. "Terus kenapa enggak Agas?"


"Biar anak saya enggak ngurung diri di dunianya terus."


Benar juga. Kalista sekarang seperti membentengi diri dari dunia dan tidak mau siapa pun kecuali Agas, yang masuk ke dunianya itu.


"Terus," Rahadyan bergumam sangat pelan, "saya lebih seneng kalo anak saya dihibur pake perasaan."


Bu Direktur mengangkat alis walau segera mengerti.


Perasaan, kah? Pengawal Narendra dan perasaan adalah dua hal yang tidak terlalu akrab.

__ADS_1


*


__ADS_2