
"Kalista kenapa?"
Rahadyan duduk di sofa sembari melipat tangannya dan menatap Agas penuh tuntutan. Ini masalah sangat serius melihat Kalista bertingkah normal.
Anak itu memang bermasalah jika berulah, tapi kalau dia diam malah lebih tidak bisa dipercaya.
"Nona baik-baik saja," jawab Agas setenang telaga.
"Kamu kira saya bodoh, Agas?"
"Itu kesimpulan saya, Pak. Nona baik-baik saja." Agas memejamkan matanya sejenak. "Hanya, memang ada beberapa hal yang Nona pikirkan."
"Apa?"
"Menurut saya itu hanya hal biasa. Nona sedang memikirkan siapa dirinya dan bagaimana dirinya sekarang."
"Hah?" Rahadyan langsung melongo, bukan karena tidak paham tapi tidak menduga itu yang bakal Agas katakan.
"Akhir-akhir ini Nona seperti sangat mempermasalahkan keberadaan saya. Tentu saya tahu Nona mendesak Anda agar kontrak saya diperpanjang selama mungkin. Itu bukan tanda Nona sangat menyukai saya dan tidak bisa berpisah dari saya, tapi itu tanda Nona hanya takut kehilangan sesuatu yang sangat Nona senangi."
"Itu sesederhana anak kecil sangat menyukai satu mainan sampai dia terus memegangnya tapi masih ketakutan jika mainan itu rusak atau hilang atau direbut orang lain."
Jadi maksudnya Kalista sedang puber? Puber bukan soal cinta-cintaan tapi soal jati dirinya?
__ADS_1
Hmmmmmmm. Memang sih ini sesuatu yang biasa dipikirkan siapa pun. Kalau begitu Rahadyan tidak perlu khawatir?
"Tapi, Pak," ucap Agas menghentikan lamunan Rahadyan sejenak, "saya menyarankan Anda menghabiskan waktu lebih lama dengan Nona."
"Karena?"
Tentu saja Rahadyan juga mau, tapi kenapa orang ini repot-repot menyarankan sesuatu yang sudah jelas? Jelas bukan karena dia peduli.
"Nona berkata bahwa Anda dan keluarga ini tidak berarti apa-apa baginya."
Rahadyan tersentak oleh perasaan jantungnya luruh.
Meskipun sebenarnya hal itu mungkin bisa dipikirkan sendiri, tapi ia tak menyangka Kalista akan mengatakannya secara langsung pada Agas.
"Dari sudut pandang Nona, bahkan kalau Anda berusaha, tidak ada alasan bagi Nona untuk peduli atau menghargai. Karena itu, sebaiknya Anda lebih berusaha keras. Agar Nona mau menerima Anda."
Rahadyan memejamkan mata.
Orang ini berbicara tanpa emosi namun menusuk sangat dalam ke emosi Rahadyan.
Hah, sulit membantah perkataan dia yang sialan benar itu.
Sampai sekarang, ibaratnya cuma ada kemajuan satu persen dari seratus persen. Masih sangat jauh jarak antara Rahadyan dan Kalista, walaupun dirinya sudah kesana-kemari mencoba.
__ADS_1
"Kamu belum jawab pertanyaan saya," gumam Rahadyan. "Kenapa kamu ngasih saran?"
".... Bukankah sudah jelas?"
"Apanya?"
"Nona terobsesi pada saya sebab tidak ada lagi yang berarti di sekitarnya. Nona mengabaikan kenyataan, mengabaikan logika dan rasionalitas dengan dalih mencintai saya karena tidak ada hal lain selain saya. Bukankah Anda sendiri yang bilang untuk mengalihkan perasaan Nona pada Anda?"
Dingin banget, gumam Rahadyan dalam hatinya saat melihat Agas. Kayaknya emang enggak ada guna khawatir dia suka sama Kalista.
Cara dia bicara saja sudah mengisyaratkan dia melihat Kalista sebagai sebuah benda yang sedang diamati. Bukan manusia, apalagi gadis.
Hah, itu bagus bagi Rahadyan.
"Saya emang udah rencana kayak gitu." Rahadyan beranjak, berlalu karena merasa pembicaraan sudah selesai. "Hari ini kamu cuti aja. Istirahat. Biar saya sama Kalista yang pergi."
"Baik."
Sebenarnya Rahadyan mau mengungkapkan perasaannya pada Kaliara nanti, di ulang tahun anaknya yang akan dirayakan besar-besaran oleh Oma. Tapi karena Agas memberi saran itu, Rahadyan rasa tidak ada salahnya mendekat sekarang.
Toh, Kalista juga mengajaknya ke makam Sukma Dewi, jadi seharusnya Rahadyan mengambil kesempatan ini baik-baik.
*
__ADS_1