
Kalista berlari kencang meninggalkan mereka bukan karena ia tak mau bicara, tapi Kalista butuh pelampiasan. Dan sedikitpun Kalista tidak mau memperlihatkan terlalu banyak tangisannya.
Tak tahu seberapa jauh Kalista pergi, tapi ia terus menjauh dari suara Sergio mengejarnya.
Dasar pembohong. Rahadyan pembohong. Dia bilang Kalista boleh memiliki Agas asal mau ke pesta ulang tahunnya, tapi dia tidak memperpanjang.
Dan yang paling membuat Kalista kecewa adakah ia tak bisa berkutik. Yang membayar Agas pada akhirnya Rahadyan, bukan Kalista.
"Hiks." Kalista terisak-isak sambil terus berlari, kini sudah menjauhi gedung sekolah.
Kalista tak tahu ia ke mana, karena sekolah besar ini belum pernah ia kelilingi. Pokoknya Kalista cuma ingin berlari.
Berlari dan terus berlari ... sampai kakinya tersandung.
Badan Kalista jatuh tanpa bisa dicegah. Wajahnya langsung berkerut sakit merasakan lutut dan sikunya tergores paving block.
Karena tidak ada siapa pun di sekitarnya, Kalista perlu bangun sendiri. Terpincang menuju sudut sepi dekat bangunan entah apa, agar ia bisa bersembunyi dari Sergio atau Agas.
Jangan dulu. Jangan sekarang melihatnya.
Kalista melipat lututnya yang berdarah. Bukan untuk diobati melainkan untuk kembali menangis.
__ADS_1
Rasa sesak di dadanya menguat. Pikiran bahwa Agas akan meninggalkannya sebentar itu terasa menakutkan. Jauh lebih menakutkan dari apa yang bisa Kalista bayangkan.
Kalau Agas pergi, Kalista pasti sendirian.
Pasti.
"Kalista."
Anak gadis itu mendongak dengan wajah dipenuhi air mata. Pandangannya kabur untuk melihat siapa, tapi suara itu ia kenal.
Bu Direktur.
"Saya liat kamu jatuh dari jendela kantor saya." Bu Direktur berlutut. "Mana sini lukanya. Saya liat."
Tolong pergi saja. Kalista tidak merasa butuh diobati. Rasa perihnya biasa saja jadi tidak penting.
Apa yang lebih penting baginya sekarang adalah memikirkan Agas.
"Kalista." Bu Direktur menghela napas. Mengulurkan tangan di puncak kepala anak itu, mengusapnya pelan. "Entah kenapa kamu sedih, tapi kamu boleh cerita sama saya."
Kalista cuma diam. Cuma menangis karena tak mau cerita.
__ADS_1
Mungkin Bu Direktur mengerti, karena itulah beliau diam. Tapi Bu Direktur juga tak pergi, tetap di sana mengusap-usap kepala Kalista.
Sebenarnya sejak awal, Bu Direktur—tidak, Winnie Hermansyah sudah bersimpati pada anak di depannya. Mata dia yang dipenuhi kebencian-kebencian kecil itu menunjukkan begitu jelas dia hidup di dunia yang tidak normal.
Terlebih statusnya sebagai anak pelacur itu pasti memaksa Kalista melihat hal tercela sejak kecil. Dia anak malang yang menanggung takdir aneh dan menyedihkan.
Tapi dia juga terlihat kuat dan tidak mau dipandang tidak berdaya.
"Enggak gampang nemuin orang yang bisa ngerti kita." Bu Direktur berucap tiba-tiba ketika tangisan Kalista perlahan reda. "Kalo kamu disakitin sama orang, enggak ada gunanya kamu nuntut mereka nyembuhin kamu. Kecuali mereka sendiri yang mau."
"Biarpun Papa?" balas Kalista seketika, mendongak padanya. "Biarpun dia ngakunya Papa, ngakunya bakal bahagian saya? Iya, Bu?"
Emosi di suara dan mata Kalista tidak bisa disamarkan. Dia sangat amat kecewa pada Rahadyan.
"Even itu Papamu." Bu Direktur duduk di sampingnya. Tak memedulikan itu berarti ia harus duduk di rerumputan. "Bahkan even Mamamu. Semua orang bisa ngecewain kamu. Mungkin diri kamu sendiri."
Kalista menggigit bibirnya. Menangis lebih keras seolah dia kemarin-kemarin tak menahannya.
"Terus harus gimana?" isak anak itu putus asa. "Kalo Kak Agas enggak ada, saya mesti gimana?"
Jadi karena Agas, yah? Pantas saja dia melemah begini.
__ADS_1
Kalista sekarang kan ... seperti menjadikan Agas sebagai oksigennya.
*