My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
113. Hampir Menyerah


__ADS_3

"Jadi, kenapa anak saya pulang-pulang jadi sedih?"


Tentu saja, Rahadyan keluar kamar itu semata karena mendengar kepulangan Rahadyan. Ia sudah bilang pada Latifah buat cepat-cepat memberitahunya kalau mobil Kalista sudah di depan gerbang, jadi Rahadyan bisa pura-pura tidak mau tahu.


Sebenarnya Rahadyan memikirkan sikap Kalista tadi. Bagaimana dia tidak peduli sekalipun papanya baru pulang setelah sekian lama, Rahadyan jadi merasa kalau Kalista itu tidak butuh dirinya sama sekali.


Maka dari itu, Rahadyan sudah memutuskan untuk tidak mengganggu dia lagi.


Daripada makin lama makin renggang, mending Rahadyan awasi saja dia dari belakang dan tanpa suara. Kalau memang dia cuma butuh uang bukannya kasih sayang, baiklah Rahadyan mengalah.


Oleh karena itu, Rahadyan putuskan bertanya pada Agas saja.


"Hanya sedikit kejadian kecil." Agas menjawab tenang. "Saya meminta Nona Direktur untuk bersikap sedikit tegas pada Nona, agar Nona fokus pada Anda. Tentu saja, Nona menjadi sedih karena itu. Saya pikir Anda sedang bersama Nona."


Rahadyan mengerutkan kening. Maksudnya yang membuat dia sedih itu Agas? "Ngapain kamu mesti kayak gitu?"


"Bukankah Anda sendiri yang bilang untuk mengalihkan perasaan Nona pada Anda?" tanya Agas seolah dia tak mengerti ada masalah apa. "Ini cara yang cukup sederhana. Jika Nona merasa semua orang membencinya, Nona akan mulai fokus pada Anda dan—"


"Agas."

__ADS_1


"Ya, Pak?"


"Saya tau kamu enggak punya banyak perasaan buat orang lain." Urat-urat di leher Rahadyan menonjol saat kemarahannya naik. "Tapi saya enggak pernah minta kamu bikin Kalista sedih cuma buat saya."


"Maaf, saya tidak mengerti." Agas menjawab seperti halnya robot. "Menjaga perasaan Nona dan membuat Nona menyadari Anda itu dua hal bertentangan. Anda harus memilih salah satu atau tidak memilih sama sekali."


Rahadyan langsung memijat kepalanya yang mendadak pening.


Orang ini, sejak awal dia datang sampai sekarang hampir dua bulan menjaga Kalista, perasaan dia pada Kalista sedikitpun tidak berubah.


Dia benar-benar cuma memandangnya sebagai objek yang harus 'dilindungi' dari bahaya.


"Harusnya saya enggak ngomong perasaan anak saya ke kamu." Rahadyan jadi kecewa sendiri karena bicara pada robot. "Udahlah. Kamu istirahat."


Pria muda itu menutup pintu kamarnya langsung, tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda kepikiran akan teguran Rahadyan.


Dia tidak merasa berbuat salah karena bagi dia tindakannya adalah benar.


Mungkin memang benar secara logika, tapi perasaan Kalista tidak bisa ditangani dengan logika saja.

__ADS_1


Rahadyan kembali naik ke lantai atas, berdiri di depan kamar Kalista cuma untuk mendengar suara tangisan anak itu.


Tidak ada yang berani menyentuh Kalista jika Agas berdiri di sampingnya. Karena Agas mengemban nama Narendra yang dihormati sekaligus ditakuti.


Tapi, Agas juga tidak pernah segan menyakiti perasaan Kalista.


"Salah yah gue?" gumam Rahadyan pada dirinya sendiri.


Ia tak tahu bagaimana menangani ini bahkan jika hari-hari terus berlalu. Kalista begitu sulit didekati dan seperti menarik ulur kepastian perasaannya pada Rahadyan.


Kadang rasanya dia sudah hampir luluh, eh besoknya dia cuek lagi.


Kadang dia seperti sudah siap menerima, eh tau-tau dia berpaling lagi.


"Gue udah ngasih semua, perasaan."


Rahadyan kini duduk di kasurnya, memandang foto Kalista yang ia beri bingkai menggemaskan.


"Duit udah, mobil udah, belanja udah, rumah udah, pengawal udah, sekolah udah, sampe pergi jauh-jauh juga udah. Tetep aja masih enggak pedulian."

__ADS_1


Anak ini sebenarnya mau ditaklukkan pakai apa? Atau memang benar tidak mau?


*


__ADS_2