My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
92. Segalanya untuk Kalista


__ADS_3

"Kayaknya sih," jawab Rahadyan tanpa pikir panjang.


Jawaban yang seketika membikin Laura tercengang. "Eh?"


"Dia nyuruh gue nikah biar gue enggak sering main cewek, terus enggak sering main solo kayak anak bujang baru mimpi basah. Lebih dari itu, kayaknya enggak."


Membayangkan Kalista butuh ibu tiri saja sudah sulit saking mustahilnya. Dia tidak butuh Rahadyan menikah atau tidak, cuma dia menyarankan jadi Rahadyan menurutinya agar Kalista tenang.


Sesederhana itu.


"Gue ngajak lo begini karena mikirin situasi gue enggak bakal ganggu lo."


Rahadyan menopang dagu. Menggoyang-goyangkan gelasnya sambil terus memikirkan sang bulan tercinta di benua lain sana.


"Gue bakal nurutin semua maunya Kalista, enggak peduli apa. Itu udah janji gue buat diri gue sendiri."


Jadi bahkan kalau Kalista minta Rahadyan menikah padahal pernikahan itu tidak menguntungkan Kakusta sama sekali, Rahadyan bakal tetap melakukannya.


"Well," Laura menghela napas, "kasih gue waktu mikir. Lo lama di Paris, kan?"


"Enggak. Gue mau ke Sidney lusa. Tapi kayaknya dua mingguan lagi gue balik ke sini, so take your time."


"Cool. Dua minggu lagi."

__ADS_1


*


Sementara Rahadyan mengobrol soal rencananya menikah demi Kalista, anak kesayangan Rahadyan itu justru menghabiskan hari-hari sendirian di sekolah.


Tentu saja, bersama Agas. Namun satu makhluk pun di sekolah itu tak mendekati Kalista secara terang-terangan melainkan hanya bergunjing.


Kalista juga mengalami serangkaian pembullyan lagi. Mulai dari mejanya diberi coretan spidol (tidak permanen) bertuliskan kalimat kotor, anak laki-laki bersiul-siul mengejeknya murahan, sampai seringkali jika masuk ke kantin, semua orang di sekitar Kalista tiba-tiba tertawa seolah memang sengaja membuatnya tak nyaman.


Ya, Kalista diam saja. Pertama karena ia tak mau punya teman di sekolah ini, kedua karena mereka cuma sebatas bisa melakukan itu, tidak yang lain.


Siapa yang berani mendekat jika Kalista selalu diekori seperti putri Raja?


"Udah akhir bulan." Kalista bergumam sambil meletakkan pipinya di palang pembatas pelataran lantai dua. "Kontraknya Kak Agas udah perbaharuin kan sama Om?"


"Belum, Nona."


"Jika menghitung satu bulan adalah tiga puluh hari, maka hanya tersisa delapan hari dari sekarang."


"Kalo kontraknya enggak diperbaharuin berarti ...."


"Saya harus kembali ke Kastel Mawar lalu terbang ke Kastel Bintang."


Kalista terbelalak.

__ADS_1


Ia pikir si Om itu pergi setelah menyelesaikan masalah tentang Agas. Lagian dia kan berjanji waktu itu, kalau Kalista akan hadir di ulang tahunnya jadi kontrak Agas harus diperbaharui. Tapi kenapa malah tidak?


"Ada apa, Nona?"


"Kak Agas janji bakal dateng ke ulang tahun aku."


"Nona tahu saya tidak bisa berbuat sesuka hati. Saya pun tidak bisa hadir di suatu tempat tanpa izin Narendra, jadi jika kontra terputus, saya tidak akan kembali ke sisi Nona lagi."


Tapi Rahadyan sudah berjanji!


Mata Kalista berkaca-kaca memikirkan kalau Rahadyan bohong padanya dan dia mengusir Agas setelah sebulan mengawal Kalista.


Bisa saja. Apalagi, Rahadyan sedang berada di benua lain. Bahkan kalau Kalista marah, itu percuma karena mereka tidak akan bertemu.


"Aku mau ketemu Sergio dulu."


Kalista buru-buru berlari pergi, merasa hanya Sergio yang dapat membantunya sekarang. Biar dia menyampaikan pada Om Tidak Berguna itu agar menepati janjinya.


Tentu saja Kalista tidak tahu kalau Agas berbohong.


Kontraknya sudah diperbaharui sebelum Rahadyan pergi. Orang itu menepati janjinya pada Kalista dengan senang hati.


Tapi ... kalau Agas berbohong, dia bakal berusaha menghubungi Rahadyan kan?

__ADS_1


Dia harus melakukan itu karena tak mau kehilangan Agas.


*


__ADS_2