
Kalista tidak punya sesuatu untuk dibeli secara khusus, tapi mumpung ia dikasih kartu yang bisa membeli apa pun, ya masa tidak digunakan?
Sangat tidak masuk akal. Jadi Kalista putuskan buat jalan-jalan melihat apa pun yang mau ia beli ketika melihatnya.
Toh, waktu Mama masih hidup, Kalista tidak pernah melakukan ini.
"Kak Agas tau enggak, waktu sama Mama, aku make uang lima ribu aja mikir dulu."
"Benarkah? Nona terlihat tidak seperti itu."
"Iya." Kalista terkekeh geli sekaligus miris. "Mama punya banyak uang, at least buat ukudan standar ekonomi orang lain. Tapi aku juga sering ngerasa enggak enak. Aku sering mikir, Mama sampe jual diri buat uang, jadi mending uangnya buat Mama."
Pembicaraan yang ia mulai sendiri malah membuat Kalista sedih sendiri.
Gadis muda itu menghela napas, buru-buru menyambar sejumlah pakaian yang terlihat menarik buat dibeli.
Setelah berkeliling mengambil banyak hal yang sebenarnya tidak ia butuhkan, Kalista merasa lapar lagi. Mereka naik ke restoran Korea terkenal di lantai atas, memesan sejumlah makanan bersama.
Baru saya Kalista memasukkan mi pedas ke mulutnya, tiba-tiba terdengar suara.
__ADS_1
"Kayaknya enak."
Kalista mengerjap dengan mata basah akibat rasa pedas, tapi ia tetap melotot melihat Bu Direktur tersenyum padanya.
"Bu." Kalista bergegas menyambar minuman dingin buat meredam sedikit pedas di lidahnya. "Halo, Bu."
"Halo. Saya denger kamu absen hari ini, jadi saya kira ada apa-apa."
Ugh.
"Tenang aja. Saya enggak marah. Kebetulan saya di sini juga habis ketemu orang." Bu Direktur meletakkan tasnya di sudut meja sebelum duduk di sebelah Kalista. "Saya boleh gabung, kan? Nanti saya yang bayar."
Kalista sedikit meringis, tapi pada akhirnya mengangguk.
"Jadi, saya denger Papa kamu ke luar negeri?"
Bu Direktur secara alami menerima uluran sumpit dan mangkuk bersih dari Agas di seberang mereka. Lalu beliau mengambil sendiri daging di atas meja, makan seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Karena sikap Bu Direktur, Kalista jadi tidak takut.
__ADS_1
"Iya, Bu." Kalista kembali makan begitu pula Agas.
"Lama di sana? Soalnya saya denger Papamu mau bikin acara ulang tahun buat kamu."
"Kok Ibu tau?"
"Gosip nyebar dari mulut ke mulut." Bu Direktur tersenyum simpul. "Anyway, saya mungkin diundang jadi kamu mau kado apa?"
Kalista memiringkan wajah sedikit bingung. Benarkah tidak apa-apa ia bolos dan ketahuan Bu Direktur? Memang sih sekolah baru Kalista peraturannya banyak yang tidak sama dengan sekolah lain, tapi Kalista sedikit kaget saja.
Yah, Bu Direktur juga masih muda sih. Biasanya guru yang masih muda itu memang lebih sabar dan asik.
"Saya enggak tau." Kalista menjawab jujur. Berpikir keras membayangkan kado khusus tapi benar-benar tidak ada yang terlintas. "Saya bisa beli pake uangnya Om jadi ya enggak ada yang saya pikirin."
Bu Direktur malah tertawa. "Kamu jujur banget yah. Saya suka anak jujur kayak kamu."
"Makasih, Bu."
"Yaudah, mumpung masih lama, kamu pikir-pikir lagi. Kalo nanti kamu mau sesuatu, bilang sama saya. Kalo enggak ada, ya terpaksa saya kasih kado pilihan saya sendiri. Setuju?"
__ADS_1
Kalista mengangguk saja karena itu tidak merepotkan sama sekali.
*