My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
83. Ke Eropa


__ADS_3

"Kalista."


Energi Kalista sudah habis tadi setelah mengurus soal gaun pesta ulang tahun dan dekorasi acara pada event organizer. Sekarang ia sudah sangat malas dan capek, jadi Kalista cuma melirik Rahadyan tanpa suara.


Apa lagi yang mau dia katakan? Mereka harus mengambil foto pre-party dulu? Atau apa? Mereka harus mengikuti ritual tertentu dulu?


"Papa kayaknya mesti ke Eropa sebentar."


"Oh." Akhirnya dia pergi bekerja, yah? Soalnya selama ini kayaknya dia kurang kerjaan.


Kalista tidak terlalu peduli soal itu ketika seluruh anggota keluarga barunya saling melirik di meja makan, sudah tahu maksud Rahadyan mau pergi.


Tadi sebelum Kalista turun, Rahadyan sudah menjelaskan bahwa untuk sementara dia mau menghilang untuk melihat apakah Kalista sudah akan mencarinya atau tidak.


Oma Harini setuju tanpa perdebatan. Setelah dipikirkan, itu memang ide yang bagus.


"Papa enggak tau kapan pulang jadi kamu baik-baik sama Agas di rumah. Nanti Oma sama Opa bakal sering nemenin kamu jadi kamu bilang ke mereka kalo ada apa-apa."


"Hm."


Opa Sutomo mengulurkan tangan pada wajah Kalista, mengusap bagian bawah matanya lembut. "Kamu udah ngantuk? Matamu udah layu gini."


Kalista mengangguk tanpa menolak sentuhan itu.


"Yaudah kamu naik aja, tidur cepet biar enak bangun pagi."

__ADS_1


"Iya, Opa."


Kalista beranjak dari tempat duduknya. Berlalu pergi tanpa melirik Rahadyan lagi. Ucapan dia soal mau pergi sedikitpun tidak Kalista pikirkan lagi, dan tidak ia rasa harus dipikirkan.


Besok pagi ketika bangun, Agas memberitahunya bahwa Rahadyan sudah pergi pukul lima pagi tadi.


"Lo enggak kesepian kan Om Rahadyan enggak ada?"


Kalista menguap malas. "Gue ngidam rujak deh. Mampir beli rujak yah sebelum sampe."


Di mana pun Rahadyan pergi, Kalista merasa tidak akan peduli.


*


Rahadyan memang tidak merencakan perjalanan ini kemarin, tapi karena terlanjur sudah pergi, ya tentu saja Rahadyan membawa beberapa misi pekerjaannya.


Sudah lama rasanya Rahadyan tidak bekerja sampai tak sadar sudah dua hari dirinya tak tidur.


Di tepi jendela yang menyajikan pemandangan Manhattan, Rahadyan berdiri memikirkan Kalista.


Rencananya Rahadyan bakal terus bepergian sampai ulang tahun Kalista nanti. Sekitar satu bulanan.


Yah, Rahadyan tersenyum kecut, paling dia malah happy enggak ada bapaknya sih.


Mungkin dalam perjalanan ini, cuma Rahadyan satu-satunya yang bakal rindu.

__ADS_1


*


Pagi-pagi buta Kalista sudah bangun dan berkutat di dapur membuat makanan. Tidak ada alasan khusus. Cuma Kalista mau bawa sandwich buatannya ke sekolah sekaligus buat sarapan nanti, jadi ia bangun cepat untuk itu.


Latifah yang baru saja datang setelah menyirami tanaman terkejut melihat keberadaan Kalista, tapi bergegas datang membantunya.


"Non enggak manggil saya aja, Non."


"Hmm? Lagi pengen bikin sendiri aja."


Walau begitu, Kalista tidak menghentikan Latifah membantunya. Dibiarkan saja dia melakukan itu lalu mengajaknya makan bersama.


Jam masih menunjuk ke pukul enam, jadi lantai satu masih sepi.


"Enak, Non." Latifah memujinya tulus saat melahap sandwich buatan Kalista. "Lebih enak dari buatan Bi Tina. Non jago masak, yah?"


"Hm? Enggak juga." Kalista mengangkat bahu. "Rasanya enak soalnya aku pake bahannya enggak hemat-hemat. Dagingnya berasa, kan?"


"Iya, Non. Enak banget."


Kalista tersenyum senang. Melirik pada Agas yang cuma berdiri di belakang kursinya, tidak menerima ajakan makan Kalista. Dia bilang waktu pagi dan waktu malam adalah dua jam yang dilarang bagi pengawal untuk ikut makan meskipun tuan mereka yang meminta.


"Saya boleh nanya enggak, Non?"


"Boleh." Kalista segera berpaling pada Latifah. "Kenapa?"

__ADS_1


"Non enggak kangen sama Bapak?"


*


__ADS_2