
"Aku enggak mau pulang."
"Kamu mesti pulang."
Sepertinya bahasa kasih antar ayah dan anak ini memang bukan pelukan melainkan pertengkaran. Padahal baru saja Sergio datang membawa makan malam untuk mereka, tapi Kalista dan Rahadyan kembali bertengkar soal pulang.
"Sayangnya Papa, Cantik, Bidadari," Rahadyan berusaha bersikap manis, "mana mungkin Papa biarin perempuan secantik semanis seberharga kamu tinggalnya malah di tempat kayak begini?"
"Jijik." Kalista bergidik. "Lagian Papa yang ngusir aku!"
"Papa minta maaf, udah kan? Ayo balik lagi, Sayang. Pulang sama Papa. Besok ulang tahun kamu, loh. Ayolah."
"Gak!" Kalista melipat tangan, membuang wajah ke arah lain. "Sekali aku keluar, selamanya aku keluar."
"Ugh, kepala batu banget sih kamu!"
"Itu namanya harga diri!"
"Enggak ada orang di rumah yang nganggep kamu waras, Nak, jadi enggak pa-pa."
__ADS_1
Bu Direktur menyendok mentai rice-nya penuh hikmat, berpura-pura bahwa dia sedang berada di planet lain alih-alih medan perang.
Karena Sergio mau waras, pemuda itu juga beranjak, mengambil mangkuk makanannya dan pergi meninggalkan mereka. Tentu saja, perdebatan Rahadyan dan Kalista belum selesai karena mereka sama-sama gila.
Sergio membuka ponsel lipatnya, menemukan beberapa chat terutama dari Astrid. Entah bagaimana dia tahu Kalista kabur dari rumah dan tahu kalau Sergio berada di sini.
"Mami seenggaknya harus milih perempuan yang enggak obsesif," gerutu Sergio kesal. "God, I'm sick of her."
"Kurasa Nona Kalista juga gadis yang obsesif," timpal seseorang yang ternyata berjarak beberapa langkah dari Sergio, tengah mengisap rokok. "Dan kamu menyukai Nona," kata dia lagi.
Sergio mengantongi ponselnya dan mulai makan sambil tetap berdiri. Tidak ada kursi, jadi mau bagaimana lagi.
Sergio sudah dengar bahwa kontrak Agas tidak diperpanjang bulan depan. Walau sebenarnya dia bisa bekerja lagi setidaknya satu bulan, namun sepertinya Rahadyan memutuskan berhenti memperkerjakan Agas.
"Nona Kalista tidak terlibat bahaya untuk orang sepertiku menjaganya," jawab Agas. "Juga, lingkungan ini tidak sesuai dengan pengawal Narendra."
Sergio mendengkus. "You know what, let me ask you some question. Kenapa lo enggak pernah suka sama Kalista? I mean you're ignoring her like all the time. She's pretty, isn't she?"
"Aku bukan anak remaja yang bisa jatuh cinta tanpa alasan jelas." Agas tersenyum sedikit sombong. "Dan Nona Kalista ... kurasa dia belum memasuki fase di mana dia pantas dicintai oleh orang asing."
__ADS_1
"Gue sayang sama Kalista."
"Aku tidak melihat itu rasa sayang."
"Sok tau."
"Mungkin saja." Agas melempar rokoknya ke lantai dan menginjak itu agar baranya mati. "Tapi dengar, Anak Muda, Nona Kalista tidak akan jatuh cinta padamu jika kamu masih temannya. Setidaknya itu hasil dari pekerjaanku menemani Nona berminggu-minggu."
"Hoh, terus maksudnya Kalista cuma bakal cinta sama orang yang enggak peduli sama perasaan dia? Lo kira gue enggak bisa bikin dia suka balik sama gue?"
"Ya, tepat sekali," jawab Agas yakin sampai Sergio malah kena mental. "Ingin bertaruh denganku? Di pesta besok, Nona akan jatuh cinta dengan seseorang yang tidak terduga. Aku tidak tahu siapa tapi pastinya ada."
Dia menyebalkan. Agas sangat menyebalkan sampai Sergio jadi ingin mengajaknya berkelahi. Tapi Sergio belum mau mati jadi ia cuma mengumpat dalam kepalanya,
Baiklah kalau dia menganggap Sergio terlalu payah membuat Kalista jatuh cinta.
Besok Sergio akan membuktikan bahwa Kalista bisa menyadari betapa mempesona Sergio dan betapa dia harus menyesal sudah menyia-nyiakan Sergio.
Lihat saja!
__ADS_1
*