My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
21. Najis Banget!


__ADS_3

Kesedihan Kalista terhadap kematian Mama jelas tidak bisa diredakan dengan uang. Tapi, itu bisa dilampiaskan dengan tumpukan uang.


Maka dari itu, Kalista langsung lompat begitu dengar ia bahkan bisa beli kapal pesiar. Walau tentu saja, Kalista tidak benar-benar mau membeli kapal pesiar.


Buat apaan?


"Saya cuma ngajak kamu, kenapa malah ngajak dia juga?"


Bola mata Kalista bergulir malas, tidak peduli pada celotehan Rahadyan. Tangannya tetap memeluk lengan Sergio sebagai pacar pura-puranya.


Fokus memikirkan apa yang akan ia beli buat menghabiskan uangnya Rahadyan.


"Mobil yang pajaknya satu M tuh mobil apa, sih?"


Sergio melongo, tidak langsung konek karena Kalista malah menyinggung pajak. "Maksudnya harganya satu M?"


"Pajaknya satu M."


"Buat apa?"


Kalista tertawa bagaikan malaikat. "Mau beli dong," ucapnya seolah tak berdosa. Lalu tak lupa melirik Rahadyan yang melotot pada pelukan Kalista di lengan Sergio. "Boleh kan, Om? Beli yang pajaknya gede biar negara kita cepet maju."


Bilang aja mau malakin! Rahadyan jadi jengkel pula melihat mereka.

__ADS_1


Benar-benar deh anak ini. Tidak bisakah sehari saja dia tidak membuat Rahadyan pening kepala?


"Daripada mobil," ucap Sergio dengan senyum canggung, "gimana kalo lo beli yang kecil-kecil dulu? Baju, sepatu, tas. Yang gitu-gitu."


Oh, ternyata dia waras juga.


Tapi tidak. Dia masih laki-laki jadi tidak! Rahadyan tetap tidak akan membiarkan dia begitu saja!


Sementara Kalista yang mendengar saran Sergio langsung tersandar. Iya, yah. Membuat Rahadyan bayar pajak miliaran itu memang bagus, tapi sebelum itu ya dirinya juga harus membeli keperluan kecil.


Baju Kalista cukup banyak, tapi kebanyakan baju murah. Sekarang adalah saatnya Kalista beli baju kaus yang harganya jutaan.


Benar. Nanti dulu soal pajak.


Kalista pun langsung lompat ke toko pakaian wanita. Memasuki semuanya satu per satu dan membeli bertumpuk-tumpuk baju. Ekspresi Sergio dan Rahadyan kompak cengo melihat belanjaannya, tapi Kalista langsung melotot pada mereka.


Tentu saja, Rahadyan berdehem. "Enggak. Serah kamu. Beli aja."


Kalista membuang muka ketus, tapi langsung tersenyum lebar melihat betapa puas ia belanja. Seumur-umur jadi wanita, rasanya baru kali ini Kalista belanja tanpa memedulikan sedikitpun harganya.


Sedikitpun malah ia tak bertanya harga, langsung memasukkan itu ke keranjang yang disediakan saking banyaknya Kalista beli baju.


Tak lupa, Kalista membuat Rahadyan jengkel.

__ADS_1


"Sayang, kita beli baju couple, yah?"


Si Sayang itu jelas tidak lain tidak bukan adalah Sergio.


Mendapat panggilan manis dari gadis yang lebih mirip Suketi, Sergio langsung pucat. Apalagi Rahadyan langsung melotot horor pada mereka karena panggilan konyol itu.


Namun lagi dan lagi, Kalista tidak mau peduli. Dan karena Sergio sudah setuju menjadi pacar bohongannya, ya Sergio harus mendukung Kalista.


"Iya, yah. Baju couple." Sambil merasa punggungnya diiris-iris pisau tak kasar mata, Sergio mendekati Kalista. Melihat-lihat baju couple norak di sana cuma buat membikin Rahadyan sebal. "Lo—kamu mau yang mana, Baby?"


Kalista diam-diam menatap Sergio cengo. Dia sepertinya juga jijik mendengar panggilan bodoh itu.


Nah, begitulah perasaan Sergio.


Tapi Kalista adalah aktris berpengalaman—di dunia nyata. Maka dia dengan segera tersenyum sok malu-malu.


"Iihhhh, Baby, manis bangeeeeet."


Kalista memeluk lengan Sergio sambil lompat-lompat kegirangan.


Najis banget!


Ekspresi Rahadyan sudah seperti penyihir hitam yang mau menyantet Sergio, tanpa tahu bahwa ekspresi dua anak muda itu juga sama.

__ADS_1


Sama-sama mau muntah.


*


__ADS_2