My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
84. Rahasia Rahadyan


__ADS_3

Kenapa semua orang menanyakan hal itu tanpa henti?


Mulai dari Sergio, Oma bahkan Opa, Om Raynar bahkan Kak Cassie, rasanya semua orang yang berinteraksi dengan Kalista terus bertanya apakah ia merindukan Rahadyan, apakah ia tidak kesepian karena Rahadyan dan sebagainya.


Memangnya harus gitu Kalista rindu padanya?


"Aku enggak tidur sama dia," jawab Kalista acuh tak acuh. "Dia enggak mandiin aku, enggak bikinin sarapan, enggak juga nganterin ke sekolah, enggak bawain barang-barang aku atau nganterin makanan ke kamar. Kayaknya enggak ada alasan buat kangen."


Latifah terdiam, lalu bergumam .... "Gitu yah, Non."


"Emang harus kangen sama dia?"


Latifah mengerjap, langsung terkuhat canggung seolah merasa sudah salah bertanya. "Enggak, Non. Bukan gitu."


Kepala Kalista memiring bingung, tapi sejurus kemudian menghela napas penat. "Agak aneh sih dia enggak ada, cuma ya biasa aja."


Anehnya cuma soal dia tidak ada pas sarapan dam makam malam. Sisanya, biasa-biasa saja.


"Non ... enggak suka yah sama Bapak?"


"Enggak."


Latifah mematung karena Kalista menjawab terlalu cepat.


"Enggak ada gunanya suka sama dia. Enggak ada bagus-bagusnya."


Bukan itu maksudnya, adalah apa yang Latifah harap bisa ia katakan, tapi memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa karena takut Kalista risi.

__ADS_1


Mereka sarapan dengan tenang setelah itu. Kemudian masing-masing beranjak ke arah berbeda dengan tujuan berbeda.


Kalista naik ke kamarnya buat mandi dan bersiap ke sekolah. Namun karena belakangan banyak yang membicarakan Rahadyan, Kalista jadi teringat orang itu saat berdiri di depan kamarnya.


"Nona?"


Kalista berbelok, tak ragu mendorong pintu kamar Rahadyan terbuka. Walau jelas itu pertama kali dirinya masuk ke sana, Kalista tidak canggung ketika kakinya memijak karpet.


Berjalan lalu duduk di kasur yang menyisakan jejak parfum Rahadyan.


"Kak Agas bilang gampang buat Kakak bikin aku suka sama dia." Kalista mendongak. "Caranya gimana? Kalo sekarang aja aku enggak ngerasa apa-apa."


Rindu, ingin bertemu, penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan—semua hal itu jauh dari pikiran Kalista. Sedikitpun ia tak penasaran, atau ingin tahu, atau peduli.


Mau Rahadyan jungkir balik di sana juga itu urusan dia sendiri.


Pertanyaan itu menyiratkan pesan kalau Agas akan membuat Kalista benar-benar menyukai Rahadyan kalau ia mau. Tapi Kalista langsung menggeleng.


Tidak, terima kasih. Masih banyak hal lain yang mesti dilakukan daripada suka pada Rahadyan.


"Memang lebih baik Nona menyadarinya sendiri," ucap Agas tenang. "Daripada itu, bagaimana kalau Nona sedikit mencari petunjuk?"


"Petunjuk?"


"Hal-hal sederhana yang disimpan Pak Rahadyan mengenai Nona. Saya rasa beliau menyimpannya di sini."


"Kok gitu?"

__ADS_1


"Karena seperti itulah seorang ayah yang saya tahu."


Kalista mengerjap, diam-diam menipiskan bibir. Sebenarnya, ia malah jauh lebih penasaran dengan Agas daripada Rahadyan atau rahasia Rahadyan.


Tentu saja, Kalista sudah ditolak. Tapi pada akhirnya Agas masih berkeliaran di sekitar Kalista, jadi yah ... tidak senudah itu semua selesai.


"Yaudah." Kalista beranjak sekalipun tidak benar-benar kepo pada Rahadyan. "Laci atau lemari, kan?"


Tangannya menarik satu per satu laci buat menemukan sesuatu yang bisa disebut rahasia. Meski begitu, pikiran Kalista lebih tertuju lpada Agas.


"Papanya Kak Agas juga suka nyimpen rahasia soal Kak Agas? Atau soal anak ceweknya, adeknya Kak Agas?"


Agas tersenyum. "Saya tidak memiliki orang tua ataupun saudara, Nona."


Eh?


"Itu bukan soal saya atau ayah saya. Itu soal Nona yang saya layani. Ayah dan kakaknya suka menyimpan hal-hal tentang Nona jadi saya pikir seperti itulah bentuk kasih sayang pria."


Kalista langsung menipiskan bibirnya.


Setiap kali menyinggung Lissa, Agas sedikitpun tidak menyembunyikan kesukaannya pada gadis itu. Bahkan sekalipun dia tahu bahwa Kalista suka padanya.


Hah.


"Ada." Beruntung mereka teralihkan pada rahasia yang Kalista temukan di laci paling bawah.


*

__ADS_1


__ADS_2