
"Emang kenapa kalo Papa caper?"
"Emang kenapa kalo Papa mau deket sama kamu? Emang kenapa kalo Papa peduli sama kamu? Enggak boleh? Karena Papa udah ninggalin kamu enam belas tahun?"
"Justru karena itu Papa ngerendahin harga diri ke kamu!"
"Saya Papa kamu! Papa enggak mau lagi lewat satu tahun, enam belas tahun jadi tujuh belas tahun Papa enggak ada artinya di hidup kamu! Justru karena itu Papa caper sama kamu!"
"Kamu selalu ngomong seakan-akan Papa enggak pernah peduli sama kamu, sama Mama kamu. Kamu selalu ngomong seakan-akan Papa dari dulu sengaja enggak tau. Tapi kamu, Kalista, kamu tau apa?"
"Kamu tau apa soal Papa? Kamu pernah nyari Papa? Pernah sekali aja kamu mikirin gimana kalau Papa ada? Kamu tau kamu punya Papa, kamu tau kamu bisa nyari Papa, tapi kamu enggak ngapa-ngapain."
"Jangan kayak gini. Jangan liat Papa kayak gitu. Papa ngerti kamu marah soal Mamamu, tapi jangan jauhin Papa."
Di atas tempat tidur Rahadyan yang kosong, Kalista termenung memandangi udara yang sama kosongnya. Agas berada di luar kamar, Kalista memintanya pergi sebentar untuk menenangkan diri.
Entah kenapa, setelah bicara dengan Bu Direktur, Kalista jadi memikirkan orang itu.
Dia benar. Kalista tidak pernah sekalipun berusaha mencari dia.
Dulu, Kalista cuma pernah menanyakan dia. Saat usia Kalista masih sangat muda, kalau tidak salah. Ia mendatangi Mama dan bertanya mengenai di mana Papa.
"Kamu mau ketemu Papa?" Begitu tanya Mama.
__ADS_1
Yang Kalista angguki karena ia penasaran sebagai anak kecil.
"Mama enggak tau Papa mau ketemu kita atau enggak," ucap Sukma Dewi dengan nada getir. "Dia juga enggak tau kalau dia punya kamu."
"Kenapa? Papa orang jahat?"
"Mama enggak tau. Mama enggak mau nyakitin kamu."
Pada akhirnya setelah itu Kalista tidak lagi menyinggung. Kemudian ia memasuki usia yang lebih dewasa dan mulai merasa kalau Rahadyan tidak berguna dalam hidupnya jadi tidak ada gunanya dicari.
"Papa." Kalista bergumam seperti anak kecil yang belum memahami makna dari kalimat di mulutnya sendiri. "Papa."
Ada banyak penjelasan mengenai fungsi seorang ayah dalam keluarga. Namun bagi Kalista, itu masih sebuah hal asing yang tidak dapat dimengerti oleh akal sehatnya.
Sebenarnya papa itu apa?
Maksudnya apa?
Papa itu apa?
"Kalista."
Kepalanya langsung berputar sembilan puluh derajat ke arah pintu di mana Oma datang bersama nampan makanan.
__ADS_1
"Oma."
"Kamu enggak turun, Sayang. Oma enggak liat kamu dari pagi." Oma Harini duduk di tepi kasur, meletakkan nampan yang rupanya berisi camilan itu. "Kamu makan dulu, Nak. Katanya kamu cuma makan sandwich tadi."
Soalnya Kalista sudah makan di luar.
"Iya, Oma."
Tangan Oma mendarat di kepalanya. Mengelus-elus rambut Kalista hingga spontan ia memejamkan mata, nyaman.
"Kamu kangen Papamu?" tanya Oma karena Kalista berada di kamar Rahadyan. "Kamu mau telfon Papamu?"
"Enggak, Oma."
"Hm?"
"Cuma keinget Mama." Kalista memang tidak merindukan Rahadyan jadi ya ia tidak bohong. Kalista cuma memikirkan dia karena semua orang terus bertanya hal serupa.
Oma terus mengelus kepala Kalista seolah bekiau menikmati ketika cucunya merasa nyaman.
"Oma."
"Iya, Sayang?"
__ADS_1
"Kira-kira kalo bisa milih, Om bakal milih punya aku atau enggak sama sekali?"
*