My Daddy Is My Sugar Daddy

My Daddy Is My Sugar Daddy
72. Badai Pagi Lagi


__ADS_3

"Sergio."


Kalista menggedor-gedor pintu kamar Sergio tepat setelah ia selesai berpakaian. Katanya Sergio juga absen di kelas pertama karena dia menunggu Kalista ke sekolah bersama, jadi sekarang dia pasti masih bersiap.


"Sergio, lo ngapain sih?! Buruan keluar!"


Di belakang Kalista, Agas menatapnya sedikit bingung. "Nona, saya bertanya begini karena sungguhan tidak tahu. Mungkinkah Nona sedang marah pada saya?"


Kalista tidak menjawab, tapi terus menggedor pintu kamar Sergio.


Jelas saja orang yang di dalam terganggu. Sergio bergegas menyambar tasnya setelah memasang sepatu asal-asalan, lantas membuka pintu tanpa menyembunyikan wajah sebal.


"Paan, sih?!"


"Berangkat bareng. Berdua."


Hah?


Tatapan Sergio seklitas menjadi kaget, tapi langsung berubah waspada dan penuh rasa curiga.


Apa lagi nih sekarang? Mana mungkin seorang Kalista yang tidak waras itu mengajaknya melakukan sesuatu kalau tidak punya maksud apa-apa.


Apalagi dia mengajak Sergio, bukan si Agas kesayangannya.


"Ayok." Kalista tak peduli pada kecurigaan Sergio, tetap menarik tangan cowok itu agar berjalan.


Mereka berlalu meninggalkan Agas, sekalipun Agas langsung menyusul di belakang.


"Lo ke sini jalan kaki apa pake mobil?" tanya Kalista pada Sergio waktu mereka menuruni tangga.

__ADS_1


"Hah?" Sergio hanya bisa terkejut, karena setengahnya ia sibuk tergopoh-gopoh ditarik oleh Kalista. "Gue tinggal di sini, dasar go—"


"Maksud gue tuh waktu lo ke sini! Ah, udahlah. Kita naik bis aja ke sekolah."


"Naik apa?!"


Kalista terus menarik tangan Sergio sampai mereka tiba di lantai bawah. Karena sekarang sudah siang, tidak ada lagi orang yang berkumpul di meja makan.


Bergegas Kalista menyeret Sergio keluar, seolah tak mau dihentikan oleh Agas.


"Kalista."


Ternyata Rahadyan berada di luar, tengah mengelus mobil merahnya yang mentereng. Dia menatap Kalista, lalu pada tangan Kalista, lalu pada Sergio ... sebelum ekspresinya berubah mau membunuh.


"Bocah—"


"Aku mau naik bis ke sekolah sama Sergio, jadi enggak naik mobil hari ini." Kalista tetap berlalu.


"Pokoknya aku mau naik bis!" teriak Kalista dari depan pagar.


Tapi sejenak dia berbalik, untuk menambahkan satu teriakan lagi. "Kalo Kak Agas ganggu, aku enggak mau ketemu Om lagi seumur hidup!"


Ibaratnya kalimat itu memaksa Rahadyan jadi patung. Lalu patung itu perlahan retak dan pecah berkeping-keping.


Ada apa lagi dengan bocah sengklek itu?!


"Agas." Suara Rahadyan yang dingin sudah menjelaskan seberapa marah dia sekarang.


"Nona tiba-tiba bertingkah seperti itu saat bangun. Saya belum mengajak Nona berbicara sama sekali dan Nona tiba-tiba menghindari saya."

__ADS_1


Terus dia kenapa?!


Adalah hal sama yang mau ditanyakan Sergio.


Pemuda itu diam-diam menjadi pucat, sebab sebenarnya Sergio ... tidak pernah naik angkutan umum ke mana-mana. Jangankan naik bis, naik pesawat kelas ekonomi saja Sergio tidak pernah.


Ia cuma tahu naik mobil, naik helikopter, naik jet pribadi.


"Lo kenapa? Buruan sini naik!"


Sergio buru-buru berdehem. Tidak sudi menunjukkan kelemahannya pada Kalista. Mana Kalista terlihat sangat santai pula masuk ke bis.


Hah, jatuh harga diri Sergio jika kalah di sini.


Ayo bertingkah seolah sudah terbiasa.


"Ehem." Sergio berdehem, berusaha untuk meredam cekikan aneh di tenggorokannya. "Terus, lo kenapa tiba-tiba enggak mau sama si Agus?"


Kalista menekan bibirnya satu sama lain. Dia mendekap tas di pangkuannya, lalu tiba-tiba malah terlihat sedih.


Melihat gadis yang ia sukai—ehem, maksudnya, melihat gadis bersedih di depannya tentu membuat Sergio tak nyaman. Dengan panik dia melirik sekitaran, berharap ada sesuatu yang bisa memberinya ide.


Walau ujungnya tidak ada.


"Kenapa?" tanya Sergio pelan. Ragu Kalista mau cerita. "Om Rahadyan ngomong sesuatu ke elo?"


Kalista sempat diam. Lalu katanya, "Gue denger Papa ngomong ke Kak Agas, katanya nanti dia bakal pergi. Jadi Papa nyuruh Kak Agas bikin gue enggak suka sama dia lagi."


Entah mana yang harus membuat Sergio terkejut.

__ADS_1


Kenyataan Agas bakal pergi ... atau fakta Kalista barusan menyebut Rahadyan papanya untuk pertama kali, mungkin tanpa dia sadari.


*


__ADS_2