
"Jadi kamu belum mau ngumumin ke orang-orang kalau Laura tunangan kamu?" Mama Harini memperjelas setelah terlibat obrolan dengan Rahadyan dan Laura di meja makan. "Kamu cuma mau bilang Laura temen deket kamu?"
"Iya, Ma."
Rahadyan menjawab setengah fokus. Sibuk menatap jam untuk memastikan sudah berapa lama Kalista pergi, dan dia belum pulang.
"Laura juga udah setuju. Tapi Mama enggak perlu khawatir, soalnya keputusan kita paling lama cuma dua bulan."
"Iya, Tante." Laura tersenyum anggun. "Karena lamarannya buat saya juga mendadak, jujur masih perlu banget waktu untuk pertimbangan diri saya. Saya harap Tante enggak terlalu berat sama keputusan saya sama Rahadyan."
Mama menopang dagu. "Hmmmm," gumamnya, berpikir serius. "Enggak pa-pa juga sih. Kalo Mama enggak pernah maksa ini anak nikah cepet. Beda sama adeknya, dia begajulan. Kasian istrinya nanti."
Itu ucapan serius yang ditertawakan oleh Raynar juga Cassandra. Tapi Rahadyan tidak bisa protes sebab telinganya menangkap suara pintu terbuka.
Langsung saja Rahadyan beranjak, mau melihat Kalista yang katanya hari ini tidak semangat.
Latifah bilang Kalista pagi-pagi buta membuat cokelat marshmallow tapi setelah jadi malah dia berikan pada Latifah dengan alasan dia mendadak kenyang.
"Udah pulang?" tanya Rahadyan melihat anaknya berjalan mendekat.
Kalista seperti terkejut melihat kehadiran Rahadyan. Namun hal yang tidak pernah Rahadyan duga adalah mata Kalista tiba-tiba memerah, seperti akan menangis.
Anak itu berlalu cepat, tidak menjawab Rahadyan.
Tentu saja Rahadyan kaget.
"Agas!"
__ADS_1
"Saya bersumpah tidak melakukan apa-apa." Agas juga terlihat terkejut. "Nona tidak menangis sama sekali sejak tadi. Tapi memang suasana hati Nona sedang buruk."
"Gara-gara?"
"Nona tidak bercerita."
Rahadyan merasakan emosinya tiba-tiba melonjak.
Kenapa? Kenapa sebenarnya ia tak pernah berhasil membuat anak itu tersenyum? Kenapa dia tidak pernah sekalipun tersenyum pada semua yang Rahadyan lakukan?
Kenapa anaknya harus selalu menangis entah di awal, kemarin juga hari ini?!
"Tanya."
"Maaf?"
Jangan hanya pulang lalu menangis!
Itu semua terus mencekik Rahadyan, serasa berkata bahwa ia bukanlah ayah yang baik. Ia ayah terburuk di dunia karena tidak pernah jadi alasan putrinya tertawa!
"Rahadyan."
Suara Mama memaksa Rahadyan berbalik, tapi emosi menguasainya sampai akal Rahadyan tersisihkan.
"Enggak usah ada ulang tahun," ucap pria itu penuh penekanan.
Bahkan Rahadyan lupa jika ia memiliki tamu yaitu calon istrinya sendiri.
__ADS_1
"Dia enggak suka ulang tahun jadi enggak usah maksa-maksa. Kalo dia mau pergi juga suruh aja dia pergi. Biarin dia ke mana. Enggak usah pulang kalo dia enggak suka."
"Rahadyan—"
"Kalista cuma nangis, Ma!" Urat-urat leher Rahadyan serasa mau pecah. "Dia dari kemarin cuma nangis tiap pulang ke rumah! Dia enggak suka sama aku, enggak suka sama kita! Enggak usah dipaksa-dipaksa!"
"Kamu kira anak kamu bakal bener kalo dia dibiarin keluar?"
"Emang kapan dia bener di sini, hah?" balas Rahadyan murka, sampai lupa menjaga sopan santun pada ibunya. "Emang kapan dia bener kalo tiap hari cuma ngeliat aku?"
"Mama tau sendiri aku ngasih semua buat dia. Aku sampe jauh-jauh ke Eropa, bolak-balik sana-sini cuma buat bikin dia kangen sebentar sama aku, tapi ujungnya aku enggak penting. Ngapain lagi dipaksa-dipaksa?"
"Emang."
Semua orang tersentak mendengar suara itu. Kalista di ujung tangga berdiri, tampaknya mendengar semua sangat jelas.
"Emang Om enggak penting buat aku. Emang Om kira Om siapa? Om kira cuma karena baik sebentar berarti Om udah buktiin Om tuh penting?"
Rahadyan merasakan sesuatu merajam dadanya saat memuntahkan hal yang jauh berbeda dari harapannya sendiri.
"Saya juga buang-buang waktu sama kamu. Keluar kamu dari sini."
"Rahadyan!" Harini berteriak kaget mendengar anaknya, tapi Rahadyan langsung membungkam mereka.
"Dia anak aku! Terserah aku mau ngapain!"
*
__ADS_1